Profil Ketua Baznas Tarakan H Syamsi Sarman, Dulu Tukang Cuci Piring, Kini Urus Zakat
Amiruddin April 12, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Simak profil Ketua Baznas Tarakan, H Syamsi Sarman, yang dulunya pernah jadi tukang cuci piring, dan kini mengurus zakat.

Jalan pengabdian H Syamsi Sarman di dunia zakat bukanlah perjalanan singkat. 

Lebih dari separuh masa pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara ia wakafkan untuk mengurusi kaum dhuafa, hingga kini resmi ditunjuk sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional ( Baznas ) Kota Tarakan periode 2026-2030.

Penunjukan ini seakan menjadi titik kulminasi dari perjalanan panjang yang dimulai sejak 17 September 2007.

Saat itu, almarhum Wali Kota Tarakan, dr Jusuf SK, memberikan amanah langsung kepadanya untuk mengurus zakat secara profesional.

Pesan sang Wali Kota Tarakan kala itu masih terngiang kuat.

"Saya mau dari bangun tidur sampai kamu tidur lagi yang ada di kepalamu hanyalah BAZ, BAZ dan BAZ,” begitu pesan yang diterimanya.

Sebelum berganti nama menjadi Baznas, saat itu nomenkalturnya masih bernama Badan Amil Zakat (BAZ).

Dengan mantap, Syamsi Sarman menjawab, “Siap ayahanda, Bismillah saya wakafkan diri saya untuk BAZ.” Ikrar itu menjadi pegangan hidupnya hingga hari ini.

Sejak saat itu, ritme hidupnya berubah.

Jika sebagian aparatur sipil negara bekerja hingga Jumat siang, maka di Baznas ia menjalani tugas dari Senin hingga Sabtu, bahkan dengan sistem on call duty yang menuntut kesiapsiagaan 24 jam, terutama untuk kondisi darurat.

Di bulan Ramadan, ia dan tim bahkan tidak mengenal hari libur, bekerja penuh hingga malam lebaran.

 

PROFIL KETUA BAZNAS - Ketua Baznas Tarakan, H. Syamsi Sarman, saat ditemui di Tarakan belum lama ini.
PROFIL KETUA BAZNAS - Ketua Baznas Tarakan, H. Syamsi Sarman, saat ditemui di Tarakan belum lama ini. Simak profil Ketua Baznas Tarakan, H Syamsi Sarman, yang dulunya pernah jadi tukang cuci piring, dan kini mengurus zakat. (TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH)

 

Baca juga: Syamsi Sarman jadi Ketua Baznas Tarakan, KH Zainuddin Dalilah Harap Moto Pelayanan Dilanjutkan

Penguatan Internal

Mengawali kepemimpinannya, Syamsi Sarman menegaskan akan fokus pada penguatan internal lembaga. Konsolidasi antar pimpinan dan pelaksana menjadi prioritas utama.

Menurutnya, kekompakan internal adalah fondasi penting untuk menentukan kinerja ke depan.

Setelah itu, Baznas Tarakan akan menggelar rapat kerja guna merumuskan Rencana Strategis (Renstra) lima tahun serta Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026.

Sebagai sosok yang telah lama terlibat dalam kepemimpinan sebelumnya, ia memahami betul program-program yang perlu dilanjutkan.

Di antaranya membangun relasi kemitraan dengan stakeholder, lembaga swasta, perbankan, serta Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di instansi dan masjid.

Program unggulan seperti pola asuh mustahik di panti dhuafa, bedah rumah, bantuan sembako, pendidikan, biaya berobat, layanan homecare, hingga program tanggap cepat bagi mustahik tetap menjadi prioritas.

Ia juga membuka ruang gagasan baru, termasuk menjajaki kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ), mengingat latar belakang pimpinan yang beragam dari organisasi kemasyarakatan.

Salah satu program yang menjadi kebanggaan adalah Panti Dhuafa Baznas.

Tempat ini menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial, mulai dari lansia, anak terlantar, yatim, hingga warga tuna wisma.

Di sana, kebutuhan dasar seperti konsumsi, kesehatan, tempat tinggal, hingga pendidikan dijamin.

Beberapa penghuni bahkan berhasil kembali ke keluarga, mandiri setelah sembuh, hingga bekerja setelah lulus sekolah.

Pasca Lebaran lalu, Baznas bahkan merujuk seorang balita ke Jakarta untuk pengobatan lanjutan setelah sebelumnya menjalani perawatan jantung selama hampir setahun di RSJ Harapan Kita.

Saat ini, sekitar 10 anak yatim masih dalam pengasuhan dengan berbagai pola pembinaan.

Pengelolaan panti ini membutuhkan dana ratusan juta rupiah setiap tahun, dengan dukungan donatur perorangan maupun lembaga.

Dalam memimpin Baznas, Syamsi Sarman membawa nilai-nilai yang diwariskan seniornya, KH Zainuddin Dalilah.

Salah satu pesan yang terus dipegangnya adalah,“Mustahik yang datang menangis pastikan pulang dengan tersenyum.”

Baginya, pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan dengan hati dan penuh harapan.

Ia bahkan menegaskan, kesalahan karena memberi kepada yang tidak berhak masih lebih ringan dibanding tidak membantu orang yang sebenarnya berhak.

Pesan-pesan moral tersebut menjadi prinsip utama dalam pengelolaan zakat di Baznas Tarakan.

Peran Baznas selama ini juga mendapat pengakuan dari pemerintah daerah.

Wali Kota Tarakan menyebut Baznas sebagai “dinas sosial kedua” karena besarnya kontribusi dalam menangani persoalan sosial.

Berbagai kasus yang ditangani Baznas berasal dari limpahan instansi seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga kepolisian dan lembaga pemasyarakatan.

Tak hanya itu, Baznas juga terlibat dalam tim penanggulangan bencana bersama BPBD dan PMI.

Syamsi Sarman optimistis target Baznas Pusat dapat tercapai.

Hal ini didasarkan pada tren peningkatan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) setiap tahunnya, meskipun bersifat fluktuatif.

Menurutnya, geliat ekonomi masyarakat turut memengaruhi, termasuk kehadiran lembaga zakat lain di Tarakan.

Namun, zakat profesi tetap menjadi sumber utama yang akan terus dioptimalkan.

Baca juga: Baznas Tarakan Kumpulkan Rp1,8 Miliar Zakat, Bakal Disalurkan ke 11.000 Mustahik

Jadi Tukang Cuci Piring

H Syamsi Sarman lahir di Samarinda, 4 November 1966, Syamsi Sarman menapaki hidup dari bawah.

Ia sempat tidak mampu melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi, hingga bekerja serabutan, bahkan menjadi tukang cuci piring di restoran.

Pendidikan S1 akhirnya ia tempuh di Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan lulus pada 2005.

Karier organisasinya juga panjang.

Ia aktif di Muhammadiyah Kalimantan Utara, menjadi pengasuh Pesantren Al Mustaqim Tarakan, pengurus MUI dua periode di Tarakan dan Kaltara, Sekretaris Umum FKUB Tarakan, serta Ketua Masjid Darussa’adah.

Setelah pensiun sebagai PNS pada 1 Desember 2024, ia sempat berencana menikmati masa pensiun dengan membuka usaha kuliner sederhana di dekat rumahnya yang berlokasi strategis di kawasan RSUD dr Jusuf SK.

Namun, dorongan dari rekan-rekan, terutama KH Zainuddin Dalila, membuatnya kembali ke Baznas.

Ia diingatkan pada ikrar pengabdian yang pernah diucapkan.

Akhirnya, ia mendaftarkan diri sebagai calon pimpinan Baznas dan terpilih memimpin periode 2026–2030.

Selama perjalanannya, Baznas Tarakan mencatat berbagai prestasi, mulai dari mengantarkan wali kota meraih penghargaan Baznas tingkat nasional, menjadi rujukan studi banding daerah lain, hingga menjadi role model nasional dalam pelaksanaan Satuan Audit Internal.

Dalam tiga tahun terakhir, Baznas Tarakan juga meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari audit KAP.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus.

Ia mengaku pernah menghadapi fitnah hingga ancaman.

Semua itu ia anggap sebagai ujian.

Ia teringat pesan sang kiai, “Pohon yang tinggi akan semakin kencang angin yang menerpanya.”

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu kisah yang membekas.

Seorang nenek bernama Zaitun di Juata Laut pernah mendoakannya saat menerima bantuan sembako.

“Ustadz nanti dua kali ke tanah suci,” ucap sang nenek.

Doa itu menjadi nyata.

Pada Maret 2011 ia berangkat umrah, dan dua bulan kemudian menunaikan ibadah haji.

Kini, dengan amanah baru di pundaknya, Syamsi Sarman melanjutkan pengabdian panjangnya.

Bagi dia, Baznas bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ladang ibadah yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.