TRIBUNNEWS.COM, PAKISTAN - Dalam unggahan di akun X-nya pada Sabtu (11/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, bereaksi keras terhadap munculnya plot atau rencana pembunuhan terhadap para tokoh Iran yang menghadiri perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan.
Esmaeil Baqaei mengomentari pernyataan baru-baru ini dari beberapa elemen di lingkungan politik dan media AS yang secara terbuka merekomendasikan penargetan para negosiator Iran jika pembicaraan diplomatik gagal.
“Sementara otoritas AS menuduh Iran tidak memiliki 'itikad baik' dan terlibat dalam 'pemerasan', elemen-elemen dalam kebijakan dan ruang media AS secara terang-terangan merekomendasikan pembunuhan para negosiator Iran jika negosiasi gagal,” katanya dikutip dari Tasnim News, Minggu (12/4/2026).
“Bukankah ini, pada kenyataannya merupakan wacana kebijakan yang menormalisasi pemerasan melalui ancaman atau hasutan publik terhadap teror, kekerasan, dan pembunuhan?” tanya Baqaei.
“Hasutan publik yang terang-terangan terhadap terorisme negara ini harus dikecam oleh semua pihak,” tambah juru bicara Iran tersebut.
Iran mengirim 4 tim negosiasi atau negosiator yakni Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Eks Kepala Keamanan Iran Ali Akbar Ahmadian, dan Eks Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Baca juga: Sosok 4 Negosiator Iran Melawan AS di Meja Perundingan Pakistan
Pesawat yang mengangkut para negosiator pejabat Iran tiba di Islamabad Pakistan pada Jumat (10/4/2026) malam dengan selamat.
Pesawat itu diberi nama “Minab-168,”.
Dikutip dari Tehran Times, nama itu diambil sebagau sebuah penghormatan kepada 168 siswi yang tewas ketika sebuah rudal AS menghantam sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab selatan Iran pada tanggal 28 Februari.
Nama itu bukanlah kebetulan simbolis. Itu adalah pesan yang ditulis dalam kesedihan.
Di dalam pesawat, anggota delegasi membawa foto-foto para korban, bersama dengan tas sekolah yang berlumuran darah dan barang-barang pribadi yang ditemukan dari bawah reruntuhan ruang kelas yang hancur.
Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran, memposting gambar yang mengharukan dari dalam pesawat di X, dengan hanya menulis: “Teman-teman saya di penerbangan ini.”
Teman-teman itu bukanlah penasihat politik atau diplomat.
Mereka adalah kenangan anak-anak yang meja belajarnya tetap kosong.
Pemboman sekolah dasar di Minab Iran membuat gedung hancur, buku catatan siswa yang robek, dan sepatu-sepatu kecil yang berserakan bercampur debu.
Bagi warga Iran, 28 Februari bukan hanya tanggal dimulainya perang—tetapi juga hari di mana kepolosan terkubur.
Otoritas Iran dengan tegas menyatakan pasukan AS bertanggung jawab atas serangan itu, menggambarkannya sebagai tindakan agresi terang-terangan terhadap warga sipil dan pelanggaran hukum internasional.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengkonfirmasi bahwa penyelidikan sedang berlangsung.
Namun belum ada temuan yang dirilis, belum ada pengakuan yang dibuat, dan belum ada pertanggungjawaban publik yang menyusul.
Dengan menamai pesawat itu “Minab-168,” Teheran memberi sinyal bahwa mereka tidak akan memisahkan diplomasi dari ingatan, maupun negosiasi dari keadilan.
Sementara Wakil Presiden AS JD Vance memperingatkan bahwa Washington tidak akan mentolerir dipermainkan di meja perundingan.
Saat diskusi berlangsung di Pakistan menyusul gencatan senjata yang rapuh, bayang-bayang Minab masih membayangi.
Bagi Iran, pesannya sangat jelas anak-anak Minab bukanlah catatan kaki dalam konflik ini. Mereka adalah suara hati nurani konflik ini.