Mengenai Buku Ilmu Politik Boni Hargens yang Disebut Prof Lili Romli Layak Jadi Referensi
Glery Lazuardi April 12, 2026 02:18 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru Besar Ilmu Politik Lili Romli menilai buku 'Ilmu Politik' karya analis Politik Senior Boni Hargens layak dijadikan referensi untuk memahami dinamika politik baik secara konseptual atau teoritis, penerapannya serta relevansinya politik di era digital yang terus berkembang pesat. 

Menurut Prof Lili Romli, buku Boni Hargens yang berjudul lengkap 'Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital' ini tidak hanya direkomendasikan dibaca oleh mahasiswa S1 sampai S3, tetapi juga layak dibaca oleh pelaku politik baik yang berada di institusi demokrasi maupun di luar institusi demokrasi.

Hal tersebut disampaikan Prof Lili Romli dalam launching dan bedah buku Boni Hargens berjudul 'Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Dalam acara launching tersebut, hadir sejumlah narasumber lainnya yakni Peneliti BRIN Syafuan Rozi dan Pengamat Politik Karyono Wibowo.

"Profisiat kepada Boni Hargens atas terbitnya buku Ilmu Politik ini. Saya membaca buku ini serasa sudah melampaui beberapa mata kuliah karena diulas secara komprehensif soal ilmu politik baik dari sejarahnya, pendekatan ilmu politik, sistem politik hingga pengaruh teknologi terhadap ilmu politik," ujar Prof Lili Romli dalam acara tersebut.

Melalui bukunya, kata Prof Lili Romli, Boni Hargens membantah tuduhan-tuduhan negatif terhadap politik yang umumnya dianggap buruk, kotor, penuh siasat dan tipu hanya demi merebut kekuasaan.

Boni dengan berbagai referensi filsuf dan ilmuwan politik seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles hingga para filsuf modern dan kontemporer, kata Prof Lili Romli, menunjukkan bahwa politik itu adalah kebajikan.

"Dalam buku Boni Hargens ini, ditunjukkan juga bahwa politik itu merupakan ilmu yang jelas, bisa memprediksi peristiwa-peristiwa akan datang serta terkait dengan ilmu-ilmu lain bahkan seluruh aspek kehidupan kita adalah politik. Karena itu, Boni juga membahas sejarah menarik soal politik di era digital dan kaitannya dengan ilmu intelijen. Bagi saya, itu sesuatu yang kekinian, bagaimana politik di era digital dan bagaimana ilmu politik kawin dengan ilmu intelijen untuk mengamankan kepentingan nasional," jelas Prof Lili Romli.

Prof Lili Romli mengaku ada kekurangan dari buku Ilmu Politik Boni Hargens ini.

Hanya saja, kata dia, kekurangan bukan kelemahan tetapi sesuatu yang perlu disempurnakan.

Bahkan, dia mendorong Boni Hargens segera menerjemahkan disertasi doktoralnya dari Universitas Walden, Amerika Serikat berjudul 'Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia' ke bahasa Indonesia.

Apresiasi senada disampaikan juga oleh Pengamat Publik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo.

Menurut dia, buku Ilmu Politik Boni Hargens ini merupakan paket lengkap yang memuat beragam pandangan filosofis soal politik, kaya akan teori politik serta menunjukkan mazhab politik Boni Hargens, yakni politik kenegaraan.

"Ini pemikiran yang ambisius, ada 10 bab yang membahas pemikiran dari klasik, abad pertengahan dan kontemporer. Satu hal yang menarik bagi saya, Boni membahas digitalisasi, bagaimana pengaruh digital mempengaruhi politik dan demokrasi dan kedua, membahas unsur inteligen dalam ilmu politik," beber Karyono.

Baca juga: BBM dan LPG Subsidi Disalahgunakan, Boni Hargens: Polri Bergerak Tegas dan Cepat

Salah poin yang ditekankan Karyono adalah Boni menunjukkan bahwa intelejen dan demokrasi bisa berjalan beriringan meskipun karakter keduanya berbeda, dimana demokrasi mengutamakan keterbukaan sementara intelijen mengutamakan kerahasiaan atau ketertutupan.

"Bagaimana Boni mencoba memasukkan intelijen dan demokrasi di mana intelijen bisa memperkuat demokrasi dengan titik temunya keamanan negara atau kepentingan nasional. Hanya tentu masih ada pertanyaan terbuka, apakah intelijen bisa sepenuhnya demokratis? Bisakah intelijen dijadikan instrumen penguatan demokrasi atau bisa sebaliknya, seperti kasus aktivis Kontras Andrie Yunus," jelas Karyono.

Sementara Peneliti BRIN Syafuan Rozi mengajak semua stakeholder khususnya para aktor politik untuk membaca buku Ilmu Politik Boni Hargens untuk memperkaya perspektif dan ilmu politik sehingga perdebatan dan pengambilan keputusan atau kebijakan benar-benar berlandaskan pada dasar politis-filosifis yang kuat, yakni kebaikan bersama, bangsa dan negara.

Buku Ilmu Politik Boni Hargens ini terdiri dari 582 halaman yang terbagi dalam 10 bab dengan sejumlah pembahasan inti, mulai dari topik terkait teori dan pendekatan ilmu politik, kekuasaan dan negara, sistem politik, ideologi politik, partai politik dan pemilu, pengaruh teknologi digital terhadap ilmu politik serta intelijen dan demokrasi di era digital. Buku Boni Hargens ini sudah dicetak 2 kali, yakni pada Oktober 2025 dan Februari 2026.

Boni Hargens sendiri merupakan intelektual muda kelahiran Manggarai, Flores, NTT. Boni sempat mengenyam pendidikan filsafat di STF Driyarkara sebelum akhirnya menempuh studi ilmu politik di Universitas Indonesia. Boni juga mengikuti perkuliahan pascasarjana di Program Studi Asia Tenggara di Universitas Humboldt di Berlin dengan beasiswa dari KAAD sebelum akhirnya meraih gelar doktor filsafat di bidang Kebijakan Publik dan Administrasi dari Universitas Walden, Minneapolis, Amerika Serikat. 

Disertasi doktoral Boni merupakan perkawinan teori kartel dan teori oligarki dalam proporsi baru yang disebut "kartelisasi oligarkis" dengan fokus pada dinamika politik Indonesia sesudah Rezim Soeharto (1966-1998). Disertasi doktoral Boni Hargens ini terbit menjadi sebuah buku di Pennsylvania, Amerika Serikat tahun 2020 dan masih dijual terbuka di situs dunia seperti Amazon dengan judul 'Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia'.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.