TRIBUNJAKARTA.COM - Sosok Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, yang menyebut siap 'cium lutut' jika Dedi Mulyadi mampu membangun infrastrukur jalan di Kalbar dengan anggaran terbatas, saat ini disorot publik.
Di tengah polemik tersebut, profil hingga jumlah harta kekayaan Krisantus Kurniawan pun terkuak.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 28 Maret 2025, total kekayaan Krisantus tercatat sebesar Rp 3.863.000.000.
Harta tersebut didominasi oleh kas dan setara kas senilai Rp1,7 miliar.
Selain itu, ia juga memiliki aset tanah dan bangunan di Kota Pontianak senilai Rp1,2 miliar.
Dari sisi kendaraan, Krisantus tercatat memiliki sejumlah koleksi dengan total nilai mencapai Rp963 juta.
Beberapa di antaranya adalah Jeep Cherokee Trailhawk tahun 2015, Nissan Terrano tahun 2006, Toyota Yaris tahun 2015, Ford Ecosport tahun 2014, serta sepeda motor Honda Vario tahun 2016.
Tidak tercatat adanya utang dalam laporan tersebut, sehingga total kekayaan bersihnya tetap berada di angka Rp3,8 miliar.
Dirangkum dari kalbarprov.go.id, Krisantus Kurniawan merupakan putra daerah kelahiran Nanga Layung, 3 Juni 1969.
Ia adalah seorang laki-laki beragama Katolik dan berstatus menikah.
Riwayat pendidikannya dimulai dari SD Negeri Nanga Sepauk yang diselesaikannya pada tahun 1982.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Panca Setya dan lulus pada tahun 1985, sebelum melanjutkan ke SMA Panca Setya dan menyelesaikannya pada tahun 1988.
Setelah itu, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Terbuka Pontianak serta Universitas Tanjungpura.
Sebelum menjabat sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Barat mendampingi Ria Norsan, Krisantus memulai pengalaman profesionalnya pada periode 1991–1994 di Rokan Group Holding Company.
Ia kemudian bekerja sebagai kontraktor di berbagai perusahaan, yakni PT. Sime Indo Agro (1995–1997), PT. Mitra Austral Sejahtera (1997–1998), serta PTPN XIII (1998–1999).
Krisantus pun mulai terjun ke dunia politik.
Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Sanggau, DPRD Provinsi Kalbar, hingga menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024.
Dalam kontestasi Pilkada 2024, pasangan Ria Norsan-Krisantus Kurniawan berhasil meraih kemenangan telak dengan perolehan 1.364.563 suara (52,80 persen), mengalahkan petahana Sutarmidji.
Pada Pilkada 2024, Krisantus Kurniawan maju bersama Ria Norsan.
Sosoknya kembali menjadi perbincangan publik setelah pernyataannya yang menantang Dedi Mulyadi viral di media sosial,
khususnya terkait perbandingan pembangunan infrastruktur antara Kalimantan Barat dan Jawa Barat.
Sebelumnya, Krisantus Kurniawan, melemparkan pernyataan menantang terkait penanganan jalan rusak di wilayahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Musrenbang di Pendopo Bupati Sintang, Kamis (9/4/2026).
Ia merespons atas perbandingan kondisi infrastruktur Kalbar dengan Jawa Barat yang viral di media sosial.
Dalam pernyataannya, ia bahkan menyebut siap mencium lutut Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, jika tantangannya bisa diwujudkan.
"Silakan saja, suruh Dedi Mulyadi jadi Gubernur Kalbar. Saya mau lihat, tapi pakai APBD Rp 6 triliun bangun Kalbar. Kalau dia bisa, saya cium lututnya," tegas Krisantus.
Pernyataan itu muncul setelah beredarnya video keluhan warga terkait jalan rusak di Bedayan, SP 3, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang.
Dalam video tersebut, kondisi jalan di Kalbar dibandingkan dengan infrastruktur di Jawa Barat.
Krisantus mengaku telah melihat langsung video tersebut dan menilai perbandingan itu tidak tepat.
"Beberapa waktu lalu saya nonton TikTok, di kampung saya Sepauk. Gencar sekali orang Sapauk. Saya tidak tahu itu orang Sepauk asli atau bukan. Jalan rusak dibanding-bandingkan dengan Provinsi Jawa Barat," bebernya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus dilihat secara adil.
Sebab, luas wilayah dan kemampuan anggaran kedua wilayah itu berbeda jauh.
Ia menjelaskan bahwa Jawa Barat memiliki luas sekitar 43 ribu kilometer persegi dengan APBD mencapai Rp 31 triliun, sementara Kalimantan Barat memiliki wilayah sekitar 171 ribu kilometer persegi dengan APBD sekitar Rp 6 triliun lebih.
"Dalam video itu, ada yang pinjam Dedi Mulyadi selama tiga bulan. Suruh dia jadi Gubernur Kalbar, bertukar kita. Saya mau lihat, kalau bisa bangun Kalbar pakai APBD enam triliun, kucium lututnya," tegasnya.
Krisantus menambahkan, semakin luas wilayah maka semakin besar pula biaya pembangunan infrastruktur yang harus ditanggung pemerintah daerah.
"Semakin luas wilayah, semakin berat biaya pembangunan. Jadi masyarakat jangan sampai gagal paham. Itu sebenarnya yang terjadi," tambahnya.
Meski demikian, pemerintah daerah disebut tidak tinggal diam.
Penanganan jalan rusak di wilayah Sintang, termasuk di Bedayan diklaim sudah mulai dilakukan dengan menurunkan alat dari Unit Pelaksana Jalan dan Jembatan (UPJJ).
"Infrastruktur jalan dan jembatan di Sintang memang berat dengan kemampuan fiskal yang ada. Tapi pemerintah tidak akan tinggal diam," tegas Krisantus.
Menanggapi pernyataan tersebut, Dedi Mulyadi memberikan respons yang tenang melalui unggahan di media sosial pribadinya.
Ia menegaskan tidak pernah bermaksud membandingkan pembangunan di Jawa Barat dengan daerah lain.
"Buat bapak Wakil Gubernur Kalimantan Barat, saya mengucapkan atas tantangannya, mohon maaf selama ini saya melakukan pembangunan di Jawa Barat, tidak ada maksud untuk diperbandingkan dengan daerah lain," ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa setiap daerah memiliki tantangan berbeda terutama terkait kekuatan fiskal dan luas wilayah.
Menurutnya, kondisi Kalimantan Barat dengan wilayah yang luas dan anggaran terbatas patut dipahami bersama.
Dedi Mulyadi pun mengajak seluruh pemerintah daerah untuk tetap fokus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Ia berharap kemampuan fiskal daerah ke depan dapat meningkat sehingga pembangunan bisa berjalan lebih optimal.
“Untuk itu mari kita bersama-sama untuk terus melangkah memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Respons yang disampaikan secara santai dan bijak tersebut pun menuai beragam pujian dari warganet di media sosial.