Perundingan AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan di Hari Pertama, Bakal Ada Perang Lagi?
Amalia Husnul A April 12, 2026 05:08 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Hari pertama negosiasi maraton selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan sejak Sabtu (11/4/2026) gagal mencapai kesepakatan.

Kubu Amerika Serikat menganggap, Iran enggan menerima syarat-syarat yang mereka ajukan, khususnya terkait program nuklir.

Sedangkan Iran menilai syarat yang diajukan Amerika Serikat untuk mencapai perdamaian, tidak masuk akal.

Selanjutnya, apa yang akan terjadi setelah perundingan AS-Iran gagal capai kesepakatan?

Baca juga: Gencatan Senjata AS-Israel dan Iran Dinilai Rapuh, Donald Trump Hanya Cari Dukungan Pemilu Sela

Setelah negosiasi AS-Iran buntu

Dilansir New York Times, kegagalan ini membuat pemerintahan Trump menghadapi beberapa pilihan yang tidak menyenangkan.

Pilihan itu adalah negosiasi panjang dengan Teheran mengenai masa depan program nuklirnya atau kembali perang yang telah menciptakan gangguan energi terbesar di zaman modern dan prospek perebutan kekuasaan yang panjang mengenai siapa yang mengendalikan Selat Hormuz.

Para pejabat Gedung Putih mengatakan, mereka akan menyerahkan keputusan kepada Presiden Donlad Trump untuk mengumumkan langkah selanjutnya dari pemerintahan.  

Namun, masing-masing jalur tersebut membawa kerugian strategis dan politik yang signifikan.

Wakil Presiden AS, JD Vance hanya sedikit berkomentar tentang apa yang terjadi selama lebih dari 21 jam negosiasi.

Ia mengisyaratkan telah memberikan proposal akhir untuk menghentikan program nuklir mereka selamanya.

“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami, hal-hal apa saja yang bersedia kami akomodasi dari mereka. Mereka telah memilih untuk tidak menerima persyaratan kami,” ujarnya.

Negosiasi ini tampaknya tidak jauh berbeda dari perundingan sebelumnya yang berakhir buntu di Jenewa pada akhir Februari lalu dan memicu perang.

Namun, taruhan Trump adalah Iran akan berubah pikiran setelah menghadapi demonstrasi besar-besaran kekuatan militer AS, dengan lebih dari 13.000 target yang dihantam, menurut Pentagon.  

Ketakutan pemerintah untuk terseret ke dalam percakapan yang rumit dan panjang dengan Iran dinilai sangat terasa.  

Trump percaya, dia muncul sebagai pemenang konflik tersebut.

Karena itu, seperti yang dikatakan utusan khusus Steve Witkoff, Iran seharusnya menyerah begitu saja.

Hal itu tidak terjadi seperti itu di masa lalu.

Perjanjian besar terakhir antara Teheran dan Washington yang dicapai selama pemerintahan Obama, membutuhkan waktu dua tahun untuk dinegosiasikan.

Perjanjian itu pun penuh dengan kompromi, termasuk mengizinkan Iran untuk mempertahankan sejumlah kecil persediaan nuklirnya, dan secara bertahap mencabut pembatasan aktivitas nuklirnya hingga 2030.

Namun, kebuntuan yang dialami Vance pada dasarnya sama dengan kebuntuan yang menggagalkan negosiasi pada akhir Februari.

Saat itu, Iran menawarkan untuk menangguhkan operasi nuklir mereka selama beberapa tahun, tetapi tidak untuk menyerahkan persediaan uranium tingkat mendekati bom atau secara permanen menyerahkan kemampuan dalam memperkaya uranium di tanah mereka sendiri.  

Bagi Iran, itu adalah hak mereka sebagai penandatangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir yang mewajibkan mereka untuk tidak pernah membuat senjata nuklir.  

Bagi AS, itu adalah indikator bahwa Iran selalu menginginkan opsi siap pakai untuk membangun senjata nuklir, bahkan jika mereka tidak pernah menggunakan opsi tersebut.

Tiga puluh delapan hari perang tampaknya telah memperkuat pandangan itu, bukan melonggarkannya.

Tekad kuat Iran

Di sisi lain, pihak Iran bertekad untuk menunjukkan bahwa tidak ada jumlah persenjataan AS yang akan memaksa mereka untuk menyerah.

“Kehilangan besar para tetua, orang-orang terkasih, dan sesama warga negara kita telah membuat respons kita untuk memperjuangkan kepentingan dan hak-hak bangsa Iran menjadi lebih tegas dari sebelumnya,” kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan saat Vance menuju ke lapangan terbang militer untuk pulang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei mengatakan, diplomasi ini tak pernah berakhir dan akan menggunakannya untuk melindungi kepentingan nasional.

Menurutnya, keberhasilan pembicaraan tersebut bergantung pada itikad baik dari AS, serta penerimaan hak dan kepentingan sah Iran.

Ia pun sudah memperkirakan bahwa negosiasi dengan AS tak bisa dilakukan hanya dalam satu sesi.  

"Tentu saja, sejak awal kita tidak seharusnya mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu sesi saja.

Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu," ujarnya, menurut stasiun televisi pemerintah IRIB, dikutip dari AFP.

Baqaei menuturkan, Teheran yakin bahwa kontak antara Iran dan Pakistan, serta sekutu lainnya di kawasan ini, akan terus berlanjut.

Baca juga: Perundingan Iran dan Amerika Serikat Diprediksi Alot, Selat Hormuz Jadi Isu Kunci

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.