TRIBUNJATIM.COM - Perundingan 'damai' Amerika Serikat dengan Iran berujung buntu, sikap Presiden AS Donald Trump menjadi sorotan.
Terlihat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang berada di Miami pada Sabtu (11/4/2026) malam waktu setempat.
Ia tengah asyik menonton pertandingan UFC atau seni bela diri campuran.
Pada waktu yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan jika perundingan antara Amerika Serikat dengan Iran tak ada kesepakatan.
Baca juga: Awalnya Tunduk 10 Syarat Iran, Donald Trump Kini Cuma Punya 3 Pilihan Setelah Gencatan Senjata Kacau
JD Vance tengah berada di Pakistan untuk berunding dengan Iran soal perang.
Trump memasuki arena UFC dengan lambaian tangan, disapa ribuan penonton yang hadir di arena tersebut.
Dia hadir di arena bak ring tinju itu didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, anaknya, serta beberapa pejabat Ultimate Fighting Championship (UFC), penyanyi Vanilla Ice, Dan Bongino, mantan wakil direktur FBI.
"Ia dikelilingi banyak orang tetapi entah bagaimana Trump tampak terisolasi," demikian New York Times melaporkan.
Kebanyakan orang hanya berputar-putar di sekitarnya, menanyakan kabar terbaru, lalu pergi begitu saja.
Trump duduk dan tanpa ekspresi menyaksikan darah dan air liur berhamburan dari para petarung UFC yang saling memukuli di atas ring.
Tidak jelas apakah presiden mengetahui bahwa negosiasi dengan Iran telah gagal ketika ia memasuki arena acara UFC diiringi lagu Kid Rock dan tepuk tangan meriah.
Ia tidak sibuk memainkan ponselnya.
Dia menyerahkan ponselnya kepada Rubio, yang pada suatu saat mencondongkan tubuh untuk menunjukkan layar ponselnya kepada presiden, dan ia tidak menunjukkan kekecewaan atau kemarahan.
Sebaliknya, ia memberikan senyum tipis kepada kamera dan acungan jempol untuk para pemenang.
Dalam perjalanan ke Florida, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa baginya tidak masalah apakah kesepakatan dengan Iran tercapai atau tidak.
“Kita menang, apa pun yang terjadi,” katanya.
“Kita telah mengalahkan mereka secara militer.”
Yang terdengar sangat mirip dengan semua yang telah dia katakan sebelum negosiasi dimulai.
Realitas politik yang dihadapi Trump suram, sama seperti realitas ekonomi yang dihadapi warga Amerika yang tampaknya semakin memburuk.
Inflasi meningkat.
Harga bensin menggerogoti gaji warga Amerika, akibat langsung dari perang yang diperintahkan Trump.
Presiden telah menanggapi tekanan tersebut dengan menyerang para kritikusnya dan mengancam lawan-lawannya.
Jalan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat masih akan dilakukan.
Namun Iran menegaskan harus ada syarat yang dipenuhi jika ingin perundingan damai dengan AS.
Perundingan damai Iran-AS akan digelar di Islamabad, Pakistan, dan kedua delegasi dikabarkan telah tiba di negara tersebut.
Pada Jumat (10/4/2026), Pemimpin Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan perundingan damai bisa batal jika prasyarat ini tak dilakukan.
“Dua dari langkah-langkah yang disepakati bersama antara kedua pihak belum dilaksanakan, gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir sebelum dimulainya negosiasi,” kata Ghalibaf pada cuitan di media sosial X dikutip dari CNBC, via kompas.tv.
“Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai,” ucapnya.
Baca juga: Iran Serang Pangkalan Militer Amerika di Teluk, Kekuatan dan Pengaruh AS di Timur Tengah Rontok
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance yang menjadi pemimpin delegasi AS mengatakan negosiasi dengan Iran akan positif.
Namun, JD Vance juga memperingatkan Iran, untuk tak bermain-main dengan AS.
“Kami menentukan negosiasi ini. Seperti yang dikatakan presiden AS (Donald Trump), jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia menjulurkan tangan terbuka,” katanya.
“Tetapi jika mereka mencoba mempermainkan kami, maka mereka akan mendapat tim negosiasi tak akan begitu responsif,” kata Vance.
Sang wapres pun menegaskan Trump telah memberikan pedoman yang jelas untuk negosiasi ini.
“Dan kemudian kita akan lihat hasilnya,” kata Vance.
Baca juga: Awalnya Tunduk 10 Syarat Iran, Donald Trump Kini Cuma Punya 3 Pilihan Setelah Gencatan Senjata Kacau
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran jika perundingan damai di Pakistan gagal.
Ia mengatakan pada Jumat (10/4/2026), kapal perang AS telah diisi amunisi terbaik untuk melanjutkan serangan ke Iran.
Hal itu diungkapkan Trump tak lama setelah Wakil Presiden JD Vance melakukan perjalanan ke Islamabad, Pakistan, sebagai pemimpin delegasi perundingan.
JD Vance akan bergabung dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner.
“Kita akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 24 jam. Kita akan segera tahu,” ujar Trump dikutip dari New York Post, via kompas.tv.
“Kami sedang melakukan pengaturan ulang. Kami sedang mempersiapkan kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat. Bahkan lebih baik dari yang kami lakukan sebelumnya, dan kami telah menghancurkan mereka,” ucapnya.
Ia bahkan menegaskan amunisi yang disiapkannya merupakan senjata terbaik yang pernah dibuat.
“Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang biasa kami gunakan untuk melakukan pemusnahan total,” tutur Trump.
“Jika kami tak mencapai kesepakatan, kami akan menggunakannya, dan melakukannya secara efektif,” ucapnya.
Baca juga: Serangan Biadab Israel ke Lebanon Kembali Bangkitkan Bara Perang, Iran Siapkan Balasan
Pada perundingan di Pakistan, Iran akan diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan pemimpin parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Trump mengaku tak tahu bagaimana reaksi yang akan diberikan negosiator Iran dalam perundingan tersebut.
Ia meragukan kejujuran dari pihak Iran pada negosiasi nanti.
“Anda berurusan dengan orang-orang yang kita tidak tahu apakah mereka mengatakan yang sebenarnya atau tidak,” ucapnya.
“Di depan kita, mereka menyingkirkan semua senjata nuklir, semuanya hilang. Dan kemudian mereka keluar ke pers dan mengatakan, ‘Tidak, kami ingin memperkaya uranium.’ Jadi kita akan mengetahuinya,” ucapnya.