Perang AS-Iran Hari ke-44: Negosiasi di Pakistan Berada di Titik Nadir, Eskalasi Kian Tak Terkendali
TRIBUNNEWS.COM - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam pada Minggu (12/4/2026).
Kegagalan ini memperdalam kebuntuan diplomatik di hari ke-44 perang sekaligus mengancam keberlanjutan gencatan senjata yang masih rapuh.
Al Jazeera melaporkan kedua pihak saling menyalahkan atas gagalnya upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, pihaknya telah menyampaikan “penawaran terakhir dan terbaik” kepada Iran sebelum meninggalkan Islamabad.
Ia menegaskan, keputusan kini berada di tangan Teheran untuk menerima atau menolak proposal tersebut.
Di sisi lain, Iran menilai, tidak realistis mengharapkan kesepakatan tercapai dalam satu putaran negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut proses diplomasi membutuhkan waktu dan tahapan lanjutan.
Di Iran
- Associated Press melaporkan lebih dari 2.000 warga Iran tewas sejak konflik dimulai lebih dari enam minggu lalu.
- Serangan udara yang terus berlangsung menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah.
- Warga di Teheran mengaku skeptis terhadap hasil negosiasi, meski masih menyimpan harapan akan berakhirnya perang.
Di AS
- JD Vance menyatakan, delegasi AS telah bernegosiasi dengan itikad baik selama pembicaraan berlangsung.
- Vance juga mengaku berkomunikasi intensif dengan Presiden Donald Trump selama proses tersebut.
- Trump mengklaim, AS telah unggul di medan perang dengan menghancurkan infrastruktur militer Iran.
- Militer AS juga melaporkan pergerakan kapal perang di Selat Hormuz untuk mendukung operasi pengamanan jalur laut.
- Klaim tersebut dibantah oleh media pemerintah Iran.
Baca juga: Negosiasi 21 Jam di Pakistan Gagal Hasilkan Kesepakatan, Iran Sebut Tuntutan AS Berlebihan
Di Lebanon
- Israel melanjutkan serangan di wilayah selatan Lebanon dengan menargetkan peluncur roket.
- BBC melaporkan serangan tersebut, terjadi di tengah gelombang protes warga yang menolak eskalasi konflik.
- Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 2.000 orang tewas dan ribuan lainnya terluka sejak awal Maret.
Di Israel
- Sebuah drone yang diluncurkan dari Lebanon memicu sirene di wilayah Galilea Atas.
- Militer Israel menyatakan drone tersebut berhasil dicegat sebelum menimbulkan kerusakan.
- Insiden ini menunjukkan ketegangan lintas batas masih terus berlangsung di kawasan.
Dampak konflik juga terasa secara global, terutama pada sektor energi, dengan harga minyak dan gas mengalami tekanan sejak perang dimulai.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan, negaranya akan terus memfasilitasi dialog antara kedua pihak.
Dengan posisi yang masih saling bertolak belakang, peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat dinilai semakin kecil.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)