Perundingan Iran dan Amerika Gagal Temui Keseakatan, Teheran Ungkap 3 Poin Penyebabnya
Dedi Qurniawan April 12, 2026 06:35 PM

POSBELITUNG.CO - Penyebab kegagalan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad kini mulai terkuak setelah pihak Teheran membeberkan detail pertemuan tersebut.

Meskipun kesepakatan buntu, pemerintah Iran menegaskan komitmennya untuk tetap membuka pintu diplomasi di masa depan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menjelaskan pada Minggu (12/4/2026) bahwa kegagalan tersebut dipicu oleh tiga poin krusial yang menjadi batu sandungan utama.

Baqaei menyebut tuntutan Washington sangat berlebihan sehingga kesepahaman sulit dicapai oleh kedua belah pihak.

Ketiga poin besar yang memicu kebuntuan tersebut diketahui meliputi sengketa program nuklir, kendali strategis di Selat Hormuz, serta syarat-syarat tambahan yang diajukan masing-masing negara.

Meskipun ada kemajuan di beberapa sektor kecil, perbedaan visi pada tiga topik utama inilah yang akhirnya menghentikan laju negosiasi.

Isu-isu tersebut dinilai memiliki tingkat kompleksitas tinggi dan menjadi titik tarik-menarik kepentingan antara Iran dan AS.

Baqaei menyebut, perundingan kali ini merupakan yang terpanjang dalam satu tahun terakhir, dengan durasi mencapai sekitar 24 hingga 25 jam.

Ia menjelaskan, negosiasi dilakukan dalam situasi yang tidak ideal, mengingat berlangsung setelah sekitar 40 hari konflik bersenjata antara kedua pihak.

“Perundingan ini berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan dan kecurigaan. Wajar jika sejak awal tidak ada ekspektasi untuk mencapai kesepakatan hanya dalam satu pertemuan,” katanya.

Menurutnya, kompleksitas isu yang dibahas juga semakin meningkat, terutama dengan masuknya topik baru seperti Selat Hormuz, yang memiliki dimensi strategis dan kepentingan besar bagi banyak pihak.

Di tengah kebuntuan tersebut, Baqaei menegaskan diplomasi tetap menjadi instrumen utama dalam memperjuangkan kepentingan nasional Iran.

“Diplomasi tidak pernah berakhir. Ini adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional, baik dalam kondisi perang maupun damai,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan perundingan ke depan sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan, serta pengakuan terhadap hak dan kepentingan sah Iran.

Dalam kesempatan itu, Iran juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Pakistan atas peran mereka sebagai tuan rumah sekaligus mediator.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Panglima Angkatan Darat Asim Munir, serta Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.

Baqaei menyatakan, keyakinannya bahwa komunikasi antara Iran, Pakistan, dan negara-negara sahabat di kawasan akan terus berlanjut ke depan.

Meski perundingan belum membuahkan hasil, Iran menegaskan bahwa upaya diplomasi akan tetap berjalan di tengah situasi yang masih diliputi ketegangan geopolitik.

Di sisi lain, AS juga menyalahkan Iran atas kegagalan perundingan yang digelar di Pakistan kali ini.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan tidak tercapainya kesepakatan justru lebih merugikan Iran.

“Kabar buruknya adalah kita tidak mencapai kesepakatan, dan saya kira itu lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujarnya kepada wartawan sebelum meninggalkan Islamabad, dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan, Amerika Serikat telah menetapkan sejumlah “garis merah” yang tidak dapat ditawar, terutama terkait program nuklir Iran.

“Kami telah sangat jelas mengenai batasan kami,” katanya.

Menurut Vance, Iran memilih untuk tidak menerima syarat yang diajukan AS, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir maupun kemampuan yang memungkinkan mereka mencapainya dengan cepat. Itu adalah tujuan utama Presiden Amerika Serikat,” ujarnya.

Sumber di Pakistan menyebutkan bahwa delegasi AS dan Iran telah meninggalkan Islamabad untuk kembali ke negara masing-masing setelah perundingan berakhir tanpa hasil.

Pertemuan di Islamabad ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus menjadi pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.

Meski sempat memunculkan harapan akan tercapainya solusi damai, kegagalan perundingan ini justru menambah ketidakpastian, terutama terhadap nasib gencatan senjata yang masih berlangsung dan stabilitas kawasan yang belum sepenuhnya pulih. (Sumber : kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.