Produksi Padi Maluku 2025 Tembus 103,82 Ribu Ton, SBT, Malteng, dan Buru Jadi Sentra Utama
Ode Alfin Risanto April 12, 2026 08:43 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Tercatat di Provinsi Maluku, luas panen padi mencapai 24,32 ribu hektare dengan produksi padi sebanyak 103,82 ribu ton gabah kering giling (GKG) sepanjang Januari hingga Desember 2025. 

Jika dibanding periode yang sama 2024, angka itu mengalami kenaikan 0,38 ribu hektar atau 1,57 persen dari jumlah 23,95 ribu hektare. 

Untuk luas panen padi Agustus 2025 sebesar 3,39 ribu hektar, sedangkan September 2024 luas panen mencapai 4,13 ribu Hektare. 

Baca juga: HUT ke-4 CBR Community Ambon di ACC Passo, Jadi Ajang Silaturahmi Puluhan Komunitas Motor

Baca juga: Berujung Dugaan Pemerasan Oknum Polisi, Ternyata Nilai Pesanan Sianida Masuk ke Ambon Rp 8,25 Miliar

Diperkirakan untuk perhitungan Januari - Maret 2026 mencapai 7,97 hektar atau mengalami kenaikan sebesar 0,61 ribu hektar (8,31 persen) dibanding luas panen padi Januari - Maret 2025 sebesar 7,35 hektar. 

Hasil ini disampaikan Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, berdasarkan hasil survei terbaru meraka menggunakan survei KSA. 

Dituturkan Maritje Pattiwaellapia, dalam hasil survei BPS Maluku, bahwa produksi padi di Maluku sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 126,31 ribu ton GKP, atau mengalami kenaikan sebanyak 15,44 ribu ton GKP (13,93 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 110,87 ribu ton GKP. 

Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada Januari sebesar 19,21 ribu ton GKP sementara produksi terendah terjadi pada Juni, yaitu sekitar 5,07 ribu ton GKP. 

“Sementara itu, potensi produksi padi pada Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 40,27 ribu ton GKP, atau mengalami kenaikan sekitar 0,64 ribu ton GKP (1,62 persen) dibandingkan produksi padi pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 39,63 ribu ton GKP,” tulis Maritje Pattiwaellapia.  

Lebih lanjut dijelaskan untuk produksi padi di Maluku sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 103,82 ribu ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami kenaikan sebanyak 12,69 ribu ton GKG (13,93 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 91,13 ribu ton GKG. 

Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada Januari sebesar 15,79 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada Juni, yaitu sekitar 4,17 ribu ton GKG. 

Sementara itu, potensi produksi padi pada Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 33,10 ribu ton GKG, atau mengalami kenaikan sekitar 0,53 ribu ton GKG (1,62 persen) dibandingkan produksi padi pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 32,57 ribu ton GKG.

Maluku Tengah (Malteng), Buru, dan Seram Bagian Timur (SBT), merupakan kabupaten sentra produksi padi di Maluku dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2025. 

Sementara beberapa kabupaten/kota tidak memiliki produksi padi antara lain Kabupaten Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya, Buru Selatan, Ambon dan Tual.

“Kenaikan produksi padi yang cukup besar pada 2025 terjadi di beberapa wilayah sentra produksi padi seperti Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Buru. Di sisi lain, penurunan produksi padi terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur,” jelasnya. 

Sementara secara umum, produksi padi di Indonesia jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 setara dengan 58,14 ribu ton beras, atau mengalami kenaikan sebesar 7,11 ribu ton (13,93 persen) dibandingkan 2024 yang sebesar 51,03 ribu ton. 

Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada Januari, yaitu sebesar 8,84 ribu ton. 

Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu sebesar 2,33 ribu ton

Untuk potensi produksi beras pada Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 18,53 ribu ton, atau mengalami kenaikan sekitar 0,30 ribu ton (1,62 persen) dibandingkan produksi beras pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 18,24 ribu ton.

*Penjelasan teknis dalam survei di atas*

Produksi padi diperoleh dari hasil perkalian antara luas panen (bersih) dengan produktivitas. 

Luas panen tanaman padi di lahan sawah harus dikoreksi dengan besaran konversi galengan. 

Sementara itu, untuk luas panen tanaman padi di lahan bukan sawah, luas galengan dianggap tidak ada (tidak dikoreksi dengan besaran konversi galengan). 

Produksi beras diperoleh dari hasil konversi produksi padi menjadi beras dengan menggunakan angka konversi gabah ke beras dan mempertimbangkan proporsi gabah/beras yang susut/tercecer dan untuk penggunaan nonpangan. Produksi padi dan beras dihitung pada level kabupaten/kota.

Sejak 2018, BPS menggunakan metode KSA untuk penghitungan luas panen padi. Luas panen padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT dan BPS. 

Metodologi KSA telah mendapat pengakuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sekarang bergabung menjadi BRIN. 

Secara nasional, metodologi KSA menggunakan 31.313 sampel segmen lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300 m x 300 m (9 hektare) dengan lokasi yang tetap. 

Setiap bulan, masing-masing sampel segmen diamati secara visual di 9 (sembilan) titik dengan menggunakan HP berbasis android sehingga dapat diamati kondisi pertanaman di sampel segmen tersebut (di antaranya: persiapan lahan, fase vegetatif awal, fase vegetatif akhir, fase generatif, fase panen, potensi gagal panen, lahan pertanian ditanami selain padi, dan bukan lahan pertanian). 

Hasil amatan kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah. 

Pengamatan yang dilakukan setiap bulan memungkinkan perkiraan potensi produksi beras untuk 3 bulan ke depan dapat disediakan, sehingga dapat digunakan sebagai basis perencanaan tata kelola beras yang lebih baik. Saat ini, total titik amatan Survei KSA dalam satu bulan mencapai 281.817 titik amatan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.