Intelijen AS: Iran Masih Simpan Ribuan Rudal, Siap Diluncurkan dari Bawah Tanah 
Suci BangunDS April 12, 2026 09:34 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) memperkirakan, Iran masih memiliki ribuan rudal balistik, walaupun sudah diserang AS-Israel.  

Rudal balistik tersebut, menurut Badan Intelijen AS siap diluncurkan dari fasilitas bawah tanah, menurut laporan pada Sabtu (11/4/2026).  

Penilaian ini menegaskan bahwa kemampuan militer Iran belum sepenuhnya lumpuh, meskipun serangan intensif terjadi dalam beberapa waktu terakhir. 

Sejumlah sumber intelijen AS juga mengkhawatirkan bahwa Iran dapat memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk membangun kembali stok rudalnya, mengutip Haarezt, Minggu (12/4/2026). 

Selain itu, mengutip CNN, terungkap indikasi bahwa China tengah bersiap mengirim sistem pertahanan udara ke Iran dalam beberapa minggu ke depan.  

Bahkan diduga melalui negara ketiga guna menyamarkan asal pengiriman. 

Namun, pihak China membantah tuduhan tersebut.  

Baca juga: 5 Penyebab Perundingan Iran dan AS Berakhir Gagal di Pakistan

Juru bicara Kedutaan Besar China di AS menegaskan bahwa negaranya tidak pernah memasok senjata ke pihak mana pun dalam konflik dan tetap mematuhi kewajiban internasional.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa program rudal Iran telah secara fungsional hancur. 

Ia menyebut, sebagian besar peluncur dan rudal Iran telah rusak atau tidak efektif. 

Meski demikian, sumber AS dan Israel menyebut, Iran masih memiliki kemampuan untuk memulihkan sebagian kekuatan militernya.  

Banyak peluncur rudal yang masih dapat diperbaiki, sementara stok rudal balistik jarak pendek dan menengah masih tersisa dalam jumlah ribuan.  

AS mengklaim meski pasokan rudal Iran telah berkurang sekitar setengah selama 40 hari konflik. 

Selain itu, persenjataan drone Iran juga dilaporkan menurun drastis, namun berpotensi dibangun kembali, termasuk melalui kerja sama dengan Rusia.

Iran juga disebut masih memiliki rudal jelajah terbatas yang dapat digunakan untuk menyerang target strategis di Teluk Persia. 

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.