TRIBUNKALTIM.CO - Fenomena langit yang tidak biasa mendadak menarik perhatian warga Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Kutai Timur (Kutim), setelah munculnya cahaya putih terang berekor panjang pada Sabtu malam (11/4/2026).
Penampakan tersebut terekam oleh sejumlah warga dan kemudian viral di media sosial, memicu berbagai spekulasi mulai dari komet, meteor, hingga dugaan benda misterius dari luar angkasa.
Kemunculan cahaya tersebut bukan hanya terjadi di Kalimantan Timur, tetapi juga dilaporkan terlihat di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Video yang beredar memperlihatkan objek bercahaya dengan bentuk unik, menyerupai awan atau ubur-ubur yang bergerak perlahan di langit malam.
Fenomena ini pun memunculkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di tengah masyarakat.
Baca juga: Viral Cahaya Berekor di Langit Hebohkan Warga Kaltim
Namun, berbagai penjelasan ilmiah mulai mengemuka.
Berdasarkan analisis dari sejumlah lembaga dan peneliti, fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang berbahaya, melainkan bagian dari aktivitas antariksa yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Salah satu istilah yang muncul dalam penjelasan tersebut adalah “space jellyfish”, sebuah fenomena visual yang berkaitan dengan peluncuran roket.
Lantas, apa sebenarnya fenomena space jellyfish yang sempat menghebohkan langit Kutai Timur dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia? Berikut penjelasan lengkapnya.
Penampakan cahaya putih berekor panjang di langit Kutai Timur menjadi perbincangan hangat setelah video yang merekam kejadian tersebut tersebar luas di media sosial.
Salah satu unggahan memperlihatkan objek terang yang melintas secara perlahan dengan ekor panjang menyerupai asap atau awan bercahaya.
Dalam sejumlah rekaman, objek tersebut tampak berubah bentuk, dari sekadar titik cahaya menjadi struktur menyerupai payung atau ubur-ubur.
Hal ini membuat banyak warga menduga bahwa fenomena tersebut adalah komet atau bahkan benda tak dikenal.
Tidak hanya di Kutai Timur, laporan serupa juga datang dari wilayah lain seperti Kalimantan Utara hingga Pontianak.
Warga yang menyaksikan fenomena tersebut menyebut objek terlihat jelas di langit malam dan cukup mencolok karena cahayanya yang terang.
Fenomena ini biasanya terjadi pada waktu senja hingga malam hari, ketika kondisi langit relatif gelap namun masih terdapat pantulan cahaya matahari di lapisan atmosfer atas.
Penjelasan Ilmiah: Bukan Rudal, Melainkan Sampah Antariksa
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi terkait fenomena serupa yang terjadi di wilayah lain seperti Malang.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, menegaskan bahwa objek tersebut bukan rudal.
Ia menyampaikan, "Bukan rudal, analisa awal menunjukkan objek tersebut kemungkinan besar adalah sampah antariksa (space debris) atau tahap roket yang terbakar (re-entry) saat memasuki atmosfer bumi."
Istilah space debris atau sampah antariksa merujuk pada sisa-sisa benda buatan manusia di luar angkasa, seperti bagian roket atau satelit yang sudah tidak berfungsi.
Ketika benda tersebut kembali memasuki atmosfer bumi, gesekan dengan udara menyebabkan suhu meningkat drastis hingga terbakar, menghasilkan cahaya terang yang terlihat dari permukaan bumi.
Fenomena ini sering kali disalahartikan sebagai meteor atau benda asing karena tampilannya yang mencolok dan bergerak cepat.
Apa Itu Fenomena “Space Jellyfish”?
Fenomena yang terlihat di langit Kutai Timur juga dikaitkan dengan istilah space jellyfish.
Ricko Kardoso menjelaskan, "Efek dari space jellyfish adalah cahaya terlihat memanjang dengan ekor gas yang lebar, sering kali disebabkan oleh roket Tiongkok, seperti Long March CZ-3B yang memantulkan cahaya matahari di ketinggian saat bumi sudah gelap."
Secara sederhana, space jellyfish adalah fenomena visual yang terjadi ketika gas buang roket di ketinggian tinggi memantulkan cahaya matahari.
Karena berada di lapisan atmosfer atas, gas tersebut masih terkena sinar matahari meskipun permukaan bumi sudah gelap.
Akibatnya, gas tersebut tampak bercahaya terang dan membentuk pola unik seperti ubur-ubur, lengkap dengan “ekor” yang memanjang. Bentuk inilah yang membuat fenomena ini disebut sebagai space jellyfish.
Diduga Berkaitan dengan Roket Jielong-3
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan lebih lanjut terkait fenomena yang juga terlihat di Bali.
Ia menyebut bahwa objek bercahaya tersebut merupakan bagian dari peluncuran roket.
Thomas menyatakan, “Itu peluncuran roket China Smart Dragon-3 atau Jielong-3 pada 11 April 2026 pukul 18.32 WIB (19.32 WITA) dari sistem peluncuran di laut, di pantai Yangjiang, Guangdong, China.”
Roket Jielong-3 atau Smart Dragon-3 merupakan roket berbahan bakar padat yang digunakan untuk mengangkut satelit ke orbit. Roket ini mampu mencapai ketinggian sekitar 500 kilometer dan digunakan untuk misi penempatan satelit, termasuk satelit internet.
Menurut Thomas, lintasan roket tersebut melintasi wilayah Indonesia, sehingga efek visualnya dapat terlihat dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan Timur.
Ia menjelaskan, “Ekor yang tampak adalah semburan gas roket selama melintasi atmosfer atas menuju antariksa.”
Gas yang dilepaskan selama proses tersebut kemudian memantulkan cahaya matahari, menciptakan efek visual dramatis yang terlihat seperti awan bercahaya di langit malam.
Fenomena Serupa Pernah Terjadi
BMKG mencatat bahwa fenomena seperti ini bukan pertama kali terjadi di Indonesia.
Ricko Kardoso menyebutkan bahwa penampakan serupa pernah terlihat di Lampung pada 4 April 2026 dan di Natuna pada 9 April 2026.
Fenomena ini lebih sering terjadi di wilayah khatulistiwa, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut menjadi jalur lintasan satelit dan roket yang mengorbit bumi.
Selain itu, lokasi geografis Indonesia yang berada di dekat garis ekuator membuatnya lebih sering menjadi area lintasan objek antariksa, baik yang sedang diluncurkan maupun yang kembali memasuki atmosfer.
Tidak Berbahaya, Masyarakat Diminta Tidak Khawatir
Meski sempat memicu kekhawatiran, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini tidak berbahaya bagi masyarakat. Ricko Kardoso menyampaikan, "Masyarakat tidak perlu khawatir ya terhadap fenomena itu."
Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut merupakan kejadian alam yang umum terjadi dan tidak menimbulkan dampak langsung bagi kehidupan di permukaan bumi.
Fenomena ini justru menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas antariksa dapat terlihat dari bumi dalam bentuk yang unik dan menarik.