Ancaman Karhutla Bayangi Wilayah Penyangga TNWK, BPBD Lampung Libatkan Warga
Noval Andriansyah April 13, 2026 12:39 AM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Sore di sekitar kawasan penyangga hutan biasanya diisi warga dengan aktivitas sederhana, berkebun, memeriksa ladang, atau berkumpul di pos ronda. Namun ketika musim kemarau mulai mendekat, suasana itu berubah lebih waspada.

Warga yang tinggal dekat kawasan hutan kini tidak hanya menjaga lingkungan mereka dari pencurian atau gangguan malam hari. Mereka juga diminta ikut memantau kemungkinan munculnya api di lahan kering.

Pengalaman kebakaran sebelumnya membuat banyak warga menyadari betapa cepatnya api bisa merambat di tengah musim kemarau. Sekali muncul titik api, lahan yang luas bisa hangus dalam waktu singkat.

Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran kini mulai dilibatkan langsung dalam upaya pencegahan. Mereka menjadi bagian dari mata dan telinga pertama yang memantau kondisi lapangan.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat akibat fenomena El Nino 2026.

Baca juga: Siskamling Jadi Strategi BPBD Lampung Hadapi Ancaman Karhutla TNWK

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai memperkuat strategi penanganan dengan melibatkan masyarakat di sekitar wilayah rawan, khususnya di kawasan penyangga Taman Nasional Way Kambas.

Analis Kebencanaan BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan masyarakat akan dilibatkan melalui pengaktifan program Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Warga akan kita libatkan langsung melalui sistem siskamling untuk memantau potensi titik api. Ini penting karena mereka yang paling dekat dengan lokasi rawan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).

Menurut Wahyu, langkah tersebut juga menjadi respons atas peristiwa kebakaran yang sempat terjadi di kawasan Way Kambas pada Januari lalu.

Kebakaran tersebut menghanguskan ribuan hektare lahan konservasi di kawasan taman nasional tersebut.

Selain melibatkan masyarakat, BPBD juga mendorong pelaku usaha yang berada di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain memastikan alat pemadam api ringan (APAR) dalam kondisi siap digunakan serta menyediakan sumber air darurat jika terjadi kebakaran.

Menariknya, upaya pencegahan karhutla tahun ini tidak hanya mengandalkan pendekatan teknis seperti water bombing atau modifikasi cuaca.

BPBD juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui pendekatan spiritual.

Para tokoh agama dan pesantren diimbau untuk menggelar doa bersama hingga salat Istisqa sebagai bentuk harapan agar bencana kekeringan tidak semakin meluas.

“Kita ingin ada keseimbangan antara usaha teknis dan spiritual. Ini bagian dari ikhtiar bersama,” kata Wahyu.

Melalui kombinasi pendekatan berbasis komunitas dan spiritual tersebut, pemerintah berharap masyarakat dapat bersama-sama membangun ketahanan menghadapi ancaman karhutla.

Langkah ini dinilai penting mengingat kebakaran hutan dan lahan diperkirakan menjadi salah satu tantangan besar pada musim kemarau mendatang.

( Tribunlampung.co.id ) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.