TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih mampu melanjutkan penguatan terbatas pada awal perdagangan pekan ini, Senin (13/4).
Diketahui, IHSG berhasil melonjak 2,06 persen atau bertambah 150 poin ke level 7.458,49 pada penutupan perdagangan Jumat (10/4) lalu.
Pada perdagangan Jumat, IHSG bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan dengan level terendah 7.346 dan level tertinggi 7.488.
Sementara, akumulasi kenaikan indeks selama sepekan perdagangan terakhir mencapai 6,14 persen. Kenaikan IHSG ditopang dengan net buy asing sebesar Rp 193,91 miliar di seluruh pasar.
Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan, penguatan IHSG pekan lalu didorong harapan akan tercapainya kesepakatan untuk akhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta antisipasi musim pembagian dividen para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menyebut, pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu menunjukkan fase pemulihan yang cukup kuat setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Penguatan itu didorong membaiknya sentimen global, terutama berkait dengan kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dan risiko inflasi global.
Seiring dengan meredanya tensi geopolitik, investor kembali masuk ke aset berisiko termasuk pasar saham, didukung stabilisasi nilai tukar rupiah, kembalinya minat investor asing ke saham berkapitalisasi besar, serta dorongan technical rebound setelah IHSG sebelumnya berada dalam kondisi jenuh jual.
“Namun demikian, penguatan ini lebih mencerminkan relief rally dibandingkan perubahan tren bullish jangka panjang,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (12/4).
Secara teknikal, Valdy menuturkan, beberapa indikator mengindikasikan penguatan IHSG berpeluang berlanjut pada awal pekan ini. IHSG berpotensi bergerak di level support 7.200 dan resistance 7.550, dengan pivot di 7.350 pada Senin (13/4).
Sentimennya berasal dari data indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia yang turun di level 122,9 pada Maret 2026 dari level 125,2 pada Februari 2026, namun lebih baik dari estimasi di level 120.
Data ini merupakan level terendah sejak Oktober 2025 yang disebabkan penurunan mayoritas sub indeks. Sementara, data penjualan mobil turun 13,8 persen yoy pada Maret 2026, setelah tumbuh 12,2 persen yoy pada Februari 2026.
Pada pekan ini dijadwalkan akan dirilis data retail sales Februari 2026 yang diperkirakan tumbuh 5,9 persen yoy. “Investor menantikan hasil negosiasi antara AS-Iran,” ujarnya.
Senada, Hendra menyatakan, IHSG diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan secara terbatas dengan kisaran pergerakan di level 7.400 hingga 7.520, dan berpotensi menguji resistance di area 7.500.
Sentimen positif masih berasal dari efek lanjutan meredanya ketegangan geopolitik dan peluang berlanjutnya aliran dana asing. Namun, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati mengingat dinamika global yang kembali memanas.
Perkembangan terbaru menunjukkan negosiasi antara AS dan Iran berlangsung alot tanpa kemajuan signifikan.
Kedua pihak mempertahankan kepentingan strategis masing-masing, termasuk terkait pengelolaan Selat Hormuz, program nuklir, serta pencabutan sanksi.
“Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya tekanan geopolitik dari Israel yang turut mempengaruhi arah diplomasi, sehingga meningkatkan risiko kegagalan negosiasi.
Situasi yang semakin tegang ini membuat pasar global berada dalam fase wait and see dengan volatilitas tinggi, karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi sekitar 20 persen minyak dunia.
Jika negosiasi gagal dan terjadi eskalasi konflik, maka harga minyak berpotensi melonjak yang dapat memicu kembali tekanan inflasi global dan menahan ruang penurunan suku bunga.
Hal ini berisiko mendorong arus keluar dana asing dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Dalam skenario ini, IHSG berpotensi mengalami tekanan lanjutan, meskipun di sisi lain sektor energi, komoditas, dan pelayaran justru berpeluang diuntungkan.
“Sebaliknya, jika terdapat terobosan dalam negosiasi, maka IHSG berpotensi melanjutkan penguatan, meskipun sifatnya masih terbatas sebagai trading rally,” ucapnya.
Di tengah kondisi pasar yang dinamis dan penuh ketidakpastian ini, investor disarankan untuk tetap selektif dan tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga. Beberapa saham yang dapat dicermati antara lain
Hendra pun menyarankan investor mencermati JPFA, LSIP, SCMA, dan HUMI. Sementara, Valdy menyarankan investor untuk memperhatikan saham BBCA, BBRI, MYOR, ISAT, EXCL, dan BRIS. (Kontan/Pulina Nityakanti)