Tribunlampung.co.id, Kupang - Sore itu, rumah keluarga Nggili di Dusun Dendeng masih dipenuhi aktivitas seperti biasa. Anak-anak baru pulang sekolah, sementara anggota keluarga lain beraktivitas di sekitar rumah.
Arnold Grevan Nggili (16) menjadi yang pertama tiba di rumah. Setelah makan, ia membuka kulkas dan mengambil segelas air dingin untuk melepas dahaga sepulang sekolah.
Tak lama setelah meminumnya, Arnold mulai merasakan sakit perut yang tajam seperti tertusuk. Tubuhnya lemas, disertai muntah dan diare yang datang berulang.
Di waktu yang hampir bersamaan, adiknya, Anggraini Indri Olivia Nggili (9), baru saja kembali dari kios kecil di dekat rumah. Ia membeli gorengan dan minuman jeli sebelum pulang.
Setibanya di rumah, Indri ikut mengambil air dingin dari kulkas yang sama. Beberapa saat kemudian, bocah perempuan itu mengalami gejala serupa—sakit perut hebat, muntah, hingga kejang.
Baca juga: Pria Paruh Baya Culik Bocah 8 Tahun, Diringkus Polisi Usai Sekap Korban 2 Hari
Dikutip dari kompas.com, peristiwa tragis itu terjadi di Dusun Dendeng, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Seksi Humas Polres Kupang Inspektur Polisi Satu (Ipda) Randy Hidayat mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada Sabtu (11/4/2026) sekitar pukul 20.00 Wita.
Menurut Randy, kejadian bermula pada sore hari sekitar pukul 15.00 Wita saat Arnold pulang dari sekolah.
Ia kemudian makan dan meminum air dingin yang diambil dari dalam kulkas rumahnya.
Sekitar 30 menit kemudian, Arnold mulai mengeluhkan sakit perut hebat seperti tertusuk, disertai muntah dan diare.
Pada pukul 17.00 Wita, Indri sempat membeli gorengan dan minuman jeli di sebuah kios yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah.
Dalam perjalanan pulang, ia meminum jeli tersebut.
Setelah tiba di rumah, Indri makan gorengan lalu ikut meminum air dingin dari kulkas yang sebelumnya juga diminum oleh Arnold.
Tak lama berselang, Indri mulai merasakan sakit perut, muntah-muntah, hingga mengalami kejang.
Melihat kondisi anak-anaknya, ibu korban segera meminta anggota keluarga untuk membuang air yang ada di dalam kulkas.
Arnold sempat mengatakan bahwa air tersebut terasa pahit ketika diminum.
Wadah air yang digunakan—yang diketahui merupakan wadah rice cooker—kemudian dicuci dan diisi ulang sebelum kembali dimasukkan ke dalam kulkas.
Sebelum membawa kedua anak tersebut ke rumah sakit, ayah korban sempat meminta bantuan seorang warga untuk memberikan pengobatan tradisional.
Namun kondisi keduanya tidak kunjung membaik.
Sekitar pukul 20.00 Wita, kedua korban akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Leona Noelbaki.
Sekitar satu jam setelah mendapatkan penanganan medis, Indri dinyatakan meninggal dunia.
Sementara Arnold dirujuk ke Rumah Sakit SK Lerik Kupang untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, serta mengamankan sejumlah barang bukti.
Barang bukti tersebut antara lain sisa muntahan korban, sisa makanan, sampel pepaya parut, wadah air, serta kulkas yang digunakan untuk menyimpan air minum.
Selain itu, sampel barang bukti akan diuji di laboratorium BPOM, termasuk pemeriksaan terhadap fungsi kulkas oleh ahli.
Meski pihak keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi, polisi memastikan penyelidikan tetap dilakukan.
“Pendalaman tetap dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut,” ujar Randy.