TRIBUNNEWS.COM - Analis pertahanan sekaligus mantan Menteri Informasi Pakistan, Mushahid Hussain Syed menilai gertakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan memblokade Selat Hormuz tidak akan membuat Iran tunduk.
Syed menegaskan Iran secara efektif telah mengendalikan Selat Hormuz dan tidak benar-benar menutupnya, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Minggu (12/4/2026).
Ia menyebut situasi Selat Hormuz dikelola seperti gerbang tol jalan raya di Inggris, Pakistan, atau Amerika Serikat.
Akses Selat Hormuz diatur dengan memerlukan semacam pembayaran.
"Bukan dalam petrodolar, tetapi dalam petro-yuan,” ujarnya, merujuk pada preferensi Iran yang dilaporkan lebih memilih dibayar dengan mata uang China.
Syed juga menyarankan ancaman dari Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz kemungkinan besar hanya gertakan.
Ia mengatakan selat tersebut tetap terbuka bahkan sebelum serangan gabungan Israel-AS, dan bahwa Iran masih memiliki keunggulan militer di kawasan tersebut.
“Ia merasa bahwa melalui retorika bombastis dan gertakan ini, ia dapat menekan atau mengintimidasi Iran agar tunduk, tetapi itu tidak akan terjadi. Hal itu tidak terjadi dalam 43 hari terakhir, dan tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” tambahnya.
Baca juga: AS Klaim 2 Kapal Perusak Lintasi Selat Hormuz Untuk Bersihkan Ranjau Iran, IRGC Beri Bantahan Keras
Sebelumnya, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mulai memblokade Selat Hormuz, Minggu (12/4/2026).
Keputusan ini diambil setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu.
Walaupun perundingan panjang diklaim berlangsung cukup lancar dan mayoritas hal sudah mencapai kesepakatan, persoalan program nuklir masih menjadi hambatan utama.
Trump menyatakan blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform Truth Social, dikutip dari AFP.
Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran.
“Setiap warga Iran yang menembaki kami atau kapal, akan DIHANCURKAN!” tegasnya.
Negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam kedua belah pihak melakukan pembicaraan.
Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan AS dan dianggap sebagai tuntutan yang tak masuk akal.
Dilansir dari media Iran, Tasnim, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan perundingan antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan karena tuntutan berlebihan yang diajukan pihak AS.
Baqaei mengatakan sebetulnya dalam pembicaraan Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi ada dua tiga hal penting berbeda pandang dari kedua belah pihak.
Kata dia negosiasi berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan setelah kedua belah pihak terlibat perang selama 40 hari.
"Wajar jika sejak awal kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu pertemuan,” kata Baqaei dilansir dari Tasnim, Minggu (12/4/2026).
“Tidak ada yang mengharapkan itu juga,” lanjut dia.
(Tribunnews.com/Gilang, Adi S)