TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang stabilitas geopolitik dunia setelah kedua negara tidak mencapai kesepakatan dalam negosiasi terakhir yang digelar di Pakistan.
Isu utama yang menjadi titik kebuntuan adalah pengelolaan dan status strategis Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang selama ini menjadi pusat ketegangan.
Pertemuan panjang yang melibatkan delegasi tingkat tinggi dari kedua belah pihak berakhir tanpa hasil, meski telah berlangsung selama lebih dari 20 jam pembahasan intensif.
Ketegangan semakin meningkat setelah masing-masing pihak saling menuding keras terkait tuntutan yang dianggap tidak realistis dan terlalu memaksa.
Baca juga: Presiden AS Donald Trump Ultimatum Iran: Jika Negosiasi Gagal, Serangan Besar Siap Diluncurkan!
Situasi ini diperparah oleh kondisi di lapangan, termasuk dugaan pemasangan ranjau dan pembatasan jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Tidak lama setelah kegagalan diplomasi tersebut, Presiden AS Donald Trump dilaporkan bereaksi keras dan mengambil langkah militer yang kontroversial.
Trump kemudian mengumumkan rencana blokade terhadap Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran luas akan potensi eskalasi konflik bersenjata terbuka.
Langkah tersebut dinilai dapat memperburuk krisis energi global dan membawa kawasan Timur Tengah ke dalam ketegangan yang lebih berbahaya.
Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (12/4/2026) memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai blokade di Selat Hormuz.
Keputusan ini diambil setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026).
Meski pembicaraan maraton disebut berjalan cukup baik dan sebagian besar poin telah disepakati, isu program nuklir tetap menjadi ganjalan utama.
Trump menyatakan bahwa blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip AFP.
Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran.
“Setiap warga Iran yang menembaki kami atau kapal, akan DIHANCURKAN!” tegasnya.
Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Pakistan tanpa kesepakatan setelah melakukan pembicaraan dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Pertemuan ini menjadi pertemuan tingkat tertinggi antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979.
Delegasi Iran juga dihadiri Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Vance mengatakan, AS telah memberikan proposal terakhir dalam perundingan tersebut.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” ujarnya kepada wartawan.
Trump mengakui bahwa pembicaraan berjalan “baik” dan “sebagian besar poin telah disepakati,” namun Iran tetap menolak untuk mengalah terkait program nuklirnya. Hal ini menjadi alasan utama kegagalan kesepakatan damai.
Dalam pernyataan panjangnya, Trump juga mengkritik Iran yang sebelumnya menjanjikan akan membuka kembali Selat Hormuz, namun dinilai gagal memenuhi janji tersebut.
Trump menuduh Iran menempatkan ranjau di perairan Selat Hormuz, meski sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran disebut telah dihancurkan.
“Mereka mengatakan menaruh ranjau di air, meskipun seluruh angkatan laut mereka, dan sebagian besar ‘penebar ranjau’ mereka, telah dihancurkan. Mereka mungkin melakukannya, tetapi kapal mana yang mau mengambil risiko?” kata Trump.
Selat Hormuz sendiri telah terhambat selama berminggu-minggu sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye pengeboman terhadap Iran lebih dari enam minggu lalu.
Pada Sabtu, militer AS mengumumkan bahwa dua kapal perang mereka telah melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi awal pembersihan ranjau.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)