Genre dan Kompetensi Komunikasi Lisan
mufti April 13, 2026 09:34 AM

Prof Dr Iskandar Abdul Samad SPd MApp Ling, Koordinator Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa Inggris FKIP USK

DALAM dunia akademik, kita sering menilai kualitas seseorang dari kedalaman gagasan, keluasan bacaan, dan ketajaman analisisnya. Ukuran itu memang penting. Namun, ada satu hal lain yang kerap luput diperhatikan yaitu kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan. Tidak sedikit orang yang sesungguhnya sangat menguasai materi tetapi gagal meyakinkan audien ketika berbicara. Sebaliknya, ada pula orang yang ide dasarnya biasa saja tetapi mampu membuat pendengar memahami, menerima bahkan mengingat apa yang ia sampaikan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada isi tetapi juga pada cara isi itu dihadirkan.

Oleh karena itu, komunikasi lisan tidak boleh lagi dipandang sebagai pelengkap dalam kehidupan akademik. Ia adalah bagian inti dari proses penyebaran dan pengakuan ilmu pengetahuan. Dalam seminar, konferensi, debat, pidato, hingga ujian tesis, seseorang tidak hanya diminta “berbicara”, melainkan dituntut untuk berbicara secara tepat dan sesuai dengan konteks. Di sinilah pentingnya penguasaan genre.

Secara sederhana, genre dapat dipahami sebagai pola komunikasi yang mengatur bagaimana seseorang berbicara dalam situasi tertentu.

Genre bukan hanya soal bentuk bahasa, tetapi juga menyangkut tujuan komunikasi, struktur penyampaian serta pilihan kebahasaan yang sesuai. Dengan kata lain, genre membantu kita memahami bahwa orang tidak bisa berbicara dengan cara yang sama untuk semua situasi. Cara berbicara dalam presentasi konferensi tentu berbeda dari cara berbicara dalam debat publik. Cara menjawab pertanyaan dalam ujian tesis jelas berbeda dari cara menyampaikan sambutan dalam acara seremonial.

Inilah sebabnya penguasaan genre sangat menentukan kompetensi komunikasi lisan. Orang yang kompeten dalam komunikasi lisan bukan sekadar orang yang fasih berbicara, melainkan orang yang mampu menyesuaikan isi, struktur, gaya, dan strategi tutur dengan kebutuhan situasi serta harapan audiennya. Ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan harus meyakinkan, kapan harus mempertahankan argumen, dan kapan harus menyederhanakan istilah agar dapat dipahami oleh pendengar yang lebih luas.

Semua itu memang penting. Akan tetapi, dunia akademik sesungguhnya juga hidup melalui komunikasi lisan. Pengetahuan tidak hanya ditulis tetapi juga dipresentasikan, dipertanyakan, diuji, diperdebatkan, dan dipertahankan. Di ruang-ruang itulah kompetensi komunikasi lisan menemukan arti strategisnya.

Salah satu contoh paling nyata adalah ujian tesis. Ujian tesis bukan sekadar forum administratif untuk menyelesaikan studi. Ia adalah peristiwa komunikasi akademik yang kompleks. Dalam ruang ujian, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta yang diuji tetapi juga sebagai ilmuwan muda yang sedang belajar menyuarakan gagasannya secara bertanggung jawab. Ia harus menjelaskan penelitian secara sistematis, merespons pertanyaan secara spontan, mempertahankan argumen secara rasional, sekaligus menjaga sikap akademik dalam suasana formal yang sering kali penuh tekanan.

Oleh karena itu, keberhasilan dalam ujian tesis tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik penelitian dilakukan tetapi juga oleh seberapa baik penelitian itu dikomunikasikan. Mahasiswa yang memiliki data kuat dan temuan penting belum tentu tampil meyakinkan jika tidak memahami cara menstrukturkan jawaban, memilih bahasa yang tepat, dan membaca ekspektasi penguji. Sebaliknya, mahasiswa yang mampu mengelola komunikasi lisan dengan baik akan lebih mudah menunjukkan kualitas intelektualnya secara utuh.

Membentuk kompetensi

Penelitian yang sering penulis lakukan tentang ujian tesis menunjukkan bahwa peristiwa ini bukanlah komunikasi yang acak. Ia memiliki struktur yang relatif konsisten, mulai dari tahap preliminary, opening, defence-proper, in-camera dan closing. Struktur itu menunjukkan bahwa ujian tesis sesungguhnya adalah genre akademik tersendiri. Artinya, ujian tesis memiliki pola, tahapan, dan aturan komunikasi yang khas. Bila pola itu dipahami, mahasiswa dapat dipersiapkan dengan lebih baik.Bila diabaikan, ujian tesis akan terus dipandang semata-mata sebagai forum yang menegangkan, bukan sebagai ruang pembelajaran komunikasi ilmiah.

Sayangnya, banyak mahasiswa di Indonesia masih memasuki ujian tesis tanpa pembekalan komunikasi yang memadai. Mereka dibimbing menulis latar belakang, rumusan masalah, dan pembahasan, tetapi kurang dilatih menjelaskan inti penelitian secara ringkas dan meyakinkan. Mereka diajarkan menyusun tinjauan pustaka, tetapi tidak selalu dibekali cara menjawab pertanyaan kritis secara elegan. Mereka tahu apa yang ingin disampaikan tetapi tidak selalu tahu bagaimana menyampaikannya. Akibatnya, kompetensi akademik yang sesungguhnya dimiliki sering tidak tampil optimal.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa penguatan komunikasi lisan di perguruan tinggi sudah tidak bisa ditunda. Mahasiswa perlu dibekali bukan hanya keterampilan menulis akademik tetapi juga keterampilan berbicara dalam genre akademik yang berbeda. Presentasi seminar, diskusi ilmiah, sidang proposal dan ujian tesis harus dipahami sebagai bagian dari pendidikan komunikasi. Kampus semestinya menyediakan ruang latihan yang sistematis agar mahasiswa belajar menjadi komunikator akademik yang kompeten, bukan hanya penulis tugas akhir.
Kebutuhan ini juga berlaku lebih luas, melampaui kampus.

Di dunia profesional, orang dinilai bukan hanya dari apa yang ia tahu tetapi dari kemampuannya menjelaskan apa yang ia tahu kepada orang lain. Seorang dokter harus mampu menjelaskan kondisi pasien dengan bahasa yang dapat dipahami keluarga. Seorang insinyur harus bisa mempresentasikan rancangan kepada tim lintas bidang. Seorang birokrat harus dapat menyampaikan kebijakan secara jernih kepada publik. Dalam semua konteks itu, penguasaan genre membentuk kompetensi komunikasi lisan yang efektif.

Oleh karena itu, pendidikan komunikasi lisan harus ditempatkan sebagai bagian dari investasi mutu sumber daya manusia. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas berpikir tetapi juga cakap menyampaikan gagasan. Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya mampu menulis dengan baik tetapi juga mampu berbicara secara meyakinkan, santun, dan tepat sasaran. Di tengah masyarakat yang semakin padat informasi, kemampuan mengkomunikasikan pengetahuan dengan benar adalah bentuk kepemimpinan intelektual.

Pada akhirnya, gagasan yang baik baru akan memberi pengaruh ketika ia dapat dipahami. Pengetahuan yang kuat baru akan bernilai sosial ketika ia mampu menjangkau orang lain. Itulah sebabnya penguasaan genre tidak boleh dianggap sebagai urusan teknis kebahasaan belaka. Ia adalah fondasi untuk membentuk komunikasi lisan yang kompeten.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.