Moro Dibeli Rita Rp120 Miliar, Bakal Disulap Jadi Plaza Baru di Purwokerto
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Wajah pusat perbelanjaan legendaris Moro Purwokerto bakal segera berubah.
Setelah resmi berpindah tangan ke Rita Group, bangunan yang selama ini menjadi ikon ritel di Kota Satria itu direncanakan akan disulap menjadi plaza dengan konsep baru.
Kabar akuisisi tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
"Sudah (dibeli) Rita, Rp 120 miliar," kata Sadewo saat ditemui Tribunbanyumas.com, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Eks-Moro Jadi Aset Paling Seksi, Tunggu Peran Konglomerasi Baru Hadir di Purwokerto
Baca juga: KPK Baru Kali Ini Menemukannya, Modus Bupati Tulungagung Peras Pejabat Disebut Sangat Mengerikan
Bupati mengungkapkan, pendiri Rita Group, Buntoro, telah bertemu dengannya membahas rencana pengembangan Moro ke depan.
"Pak Buntoro sudah bertemu saya, kemudian dia berjanji akan merenovasi Moro. Mau dibuat semacam plaza tapi bentuknya sedikit berbeda," ujarnya.
Transformasi Moro ini diharapkan tidak hanya mengubah wajah kawasan ritel di Purwokerto, tetapi juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.
"Harapannya saya bisa menyerap banyak tenaga kerja, dan diprioritaskan masyarakat Banyumas," terangnya.
Sadewo menambahkan, proses renovasi diperkirakan akan segera dimulai dalam waktu dekat.
Salah satu langkah awal yang sudah terlihat adalah penataan pedagang kaki lima (PKL) di area depan Moro.
"Pak Buntoro berkomitmen akan membangun segera. Dia minta tolong untuk penataan PKL, sekarang sudah mulai bersih," jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai Purwokerto memiliki potensi besar berkembang sebagai kota ritel sekaligus pendidikan di Jawa Tengah.
"Potensi Ritel dan pendidikan. Purwokerto saya ingin, menjadikan Kota Pendidikan Nomor 2 di Jawa Tengah," katanya.
Sementara itu salah seorang PKL yang berjualan di depan Moro, Gunawan mengatakan memang sudah sejak bulan puasa sudah harus pindah.
"Katanya memang dibeli sama Rita, akhir puasa sudah suruh pindah, ada lumayan banyak ada penjual mie ayam soto, es teh, dan ada yang pindah sokaraja," katanya, Senin (13/4/2026)
Ia mengaku sebagai pedagang kecil agar tetap bisa diakomodir berjualan di sekitar Moro. Mengingat tingkat kelarisan jualan molen dengan berjualan di depan Moro.
"Sudah 8 bulanan disini. Sekarang pidahnya nyebrang diseberangnya, dan pengennya ya diakomodir agar ditata, karena banyak juga pedagang yang pengen balik lagi jualan di depan Moro," katanya. (jti)