Nasib Bayi Hipotermia saat Diajak Orangtua Mendaki di Gunung Ungaran, Kritis Digendong Tim Basarnas
Ani Susanti April 13, 2026 01:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Seorang bayi dibawa orangtuanya mendaki gunung hingga berakhir hipotermia.

Bayi perempuan berusia 1,5 tahun itu dibawa mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah pada Sabtu (11/4/2026).

Kala itu, cuaca tiba-tiba berubah ekstrem.

Imbasnya, bayi tersebut kondisinya kritis.

Baca juga: Pencari Burung Jatuh di Bondowoso Ditemukan Selamat, Dievakuasi 4 Km dengan Kondisi Hipotermia

Peristiwa ini viral di media sosial dan memicu respons cepat dari tim SAR gabungan yang tengah bersiaga dalam kegiatan Semarang Mountain Race.

Evakuasi dilakukan di kawasan Puncak Bondolan, salah satu titik pendakian yang cukup tinggi dan rawan perubahan cuaca mendadak.

"Suhu tubuhnya turun drastis, kondisi kritis. Tim Basarnas yang tengah siaga di event Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat," ujar Basarnas lewat video YouTube @BasarnasOfficial, Minggu (12/4/2026), melansir dari TribunJateng.

Dalam rekaman yang diunggah, korban terlihat terus menangis dan menunjukkan gejala kedinginan hebat akibat suhu yang menurun drastis dipicu hujan deras.

Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan penanganan darurat untuk mengatasi hipotermia yang dialami balita tersebut.

Langkah awal difokuskan pada upaya menghangatkan tubuh dan menstabilkan kondisi korban.

"Evakuasi dilakukan di Puncak Bondolan. Petugas berupaya keras menghangatkan tubuh korban, menstabilkan kondisinya," kata Basarnas dalam video tersebut.

Setelah kondisi korban mulai membaik, tim SAR segera melakukan evakuasi turun gunung menuju Basecamp Perantunan agar korban mendapatkan penanganan medis lanjutan.

"Setelah penanganan hipotermia, korban berhasil dievakuasi turun ke basecamp," tulis Basarnas.

Kronologi Kejadian

Korban diketahui berinisial L, balita perempuan asal Tembalang, Kota Semarang.

Ia mendaki bersama kedua orangtuanya dan tiba di area puncak sekitar pukul 14.00 WIB.

Namun, tidak lama setelah sampai di puncak, kondisi cuaca berubah drastis.

Hujan deras disertai suhu dingin menyebabkan tubuh korban tidak mampu beradaptasi, hingga akhirnya mengalami hipotermia.

Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki, khususnya yang membawa anak kecil, untuk memperhatikan faktor keselamatan, kesiapan fisik, serta kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di alam terbuka.

Baca juga: Momen Menegangkan saat Evakuasi Pendaki Juliana Marins Diungkap Agam Rinjani, Ada Risiko Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi darurat yang bisa terjadi kapan saja selama pendakian, terutama saat tubuh kehilangan panas secara drastis dalam suhu ekstrem.

Saat gejalanya muncul, waktu menjadi sangat krusial.

Penanganan yang lambat atau keliru bisa membuat kondisi korban memburuk bahkan kehilangan kesadaran.

Lalu, apa yang harus dilakukan saat rekan pendaki menunjukkan tanda-tanda hipotermia?

Melansir dari Kompas.com, Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis, menjelaskan secara rinci langkah cepat pertolongan hipotermia.

Artikel ini akan menguraikan langkah-langkah praktis yang bisa menyelamatkan nyawa di tengah kondisi alam yang tak bersahabat.

1. Pindahkan ke Lokasi Aman dan Hangat

Langkah pertama adalah memastikan korban berada di tempat yang aman, nyaman, dan hangat. Jangan biarkan ia terus terpapar suhu dingin, angin, atau hujan.

“Kita harus amankan dulu posisinya, di lokasi yang aman, nyaman, dan juga hangat. Misalnya di pos pendakian, shelter, atau tenda,” ujar Rahman Mukhlis.

Jika berada di luar ruangan, bangun perlindungan sementara dari terpal, flysheet, atau sleeping bag untuk melindungi dari paparan langsung.

2. Ganti Pakaian Basah dan Bungkus Tubuh

Pakaian basah bisa memperparah hilangnya panas tubuh. Segera lepas semua pakaian yang lembap atau basah, lalu ganti dengan pakaian kering, lalu bungkus korban dengan lapisan hangat.

“Pastikan pakaian yang kering. Selimuti pakai jaket, sleeping bag, atau aluminium foil buat mempercepat hangat,” jelas Rahman.

Selain jaket dan sleeping bag, bahan reflektif seperti aluminium thermal blanket juga bisa digunakan untuk mempertahankan panas.

Baca juga: Sosok Lilie Wijayati Meninggal di Puncak Carstensz karena Hipotermia, Mendaki Sejak Usia 18 Tahun

3. Berikan Minuman Hangat dan Makanan Ringan

Asupan energi sangat penting untuk membantu tubuh menghasilkan panas. Tapi proses ini harus dilakukan secara perlahan, mengingat kondisi tubuh korban sedang rapuh.

“Berikan minuman hangat, lalu makan yang bergizi. Tapi bertahap ya, jangan langsung berat. Mulai dari biskuit, roti, teh hangat,” kata Rahman.

Hindari makanan atau minuman terlalu panas, dan jangan memberikan alkohol atau kafein yang bisa memperburuk dehidrasi.

4. Bangun Respons dan Jaga Kesadaran Korban

Selama proses pertolongan, penting untuk terus membangun interaksi. Ajak korban berbicara, gerakkan tubuhnya perlahan, dan amati responsnya.

“Berikan stimulus, ajak ngobrol, ajak gerak ringan. Jaga kesadaran itu penting banget,” tegas Rahman.

Respons lambat, bicara mulai kacau, atau mengantuk berlebihan bisa menjadi tanda bahwa hipotermia sudah memasuki tahap serius.

Baca juga: Alasan Rombongan Pendaki Tektok Tinggalkan Temannya yang Hipotermia, Sempat Tak Mengaku Diinterogasi

5. Gunakan Metode Skin-to-Skin Bila Darurat

Dalam kondisi darurat, terutama jika tidak ada perlengkapan yang memadai, metode skin-to-skin bisa menjadi opsi penyelamatan. Tubuh penolong bisa mentransfer panas langsung ke tubuh korban.

“Kalau darurat banget, bisa skin to skin, tubuh saling bersentuhan untuk transfer panas. Tapi ya, sesuai prosedur dan jangan disalahgunakan,” ujar Rahman.

Beberapa teknik termasuk memeluk korban sambil dibungkus sleeping bag, atau tangan saling menggenggam untuk mempercepat perpindahan panas.

6. Pertolongan Lanjutan Jika Kondisi Memburuk

Jika korban mulai kehilangan kesadaran, menunjukkan napas melambat, atau tidak merespons rangsangan, pertolongan medis lanjutan sangat dibutuhkan. Bila memungkinkan, terapkan prosedur seperti napas bantuan atau CPR sesuai standar.

“Kalau sudah parah banget, bantuan napas juga bisa dilakukan sesuai prosedur,” kata Rahman.

Menghubungi tim penyelamat atau turun ke pos bantuan secepat mungkin juga sangat disarankan, terutama jika kondisi terus memburuk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.