Hasil Akhir Negoisasi Perang Iran vs Amerika Gagal, Reaksi Donald Trump Soal Teheran Terkini
Nia Kurniawan April 13, 2026 04:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM - Update kabar Iran vs Amerika, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, ia tidak peduli apakah Iran kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat setelah pembicaraan di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan.

Reaksi Donald Trump pasca pembicaraan di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung dari Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) pagi waktu setempat, adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Baca juga: Perang Iran vs Amerika Picu Nafsu Donald Trump Balas Blokade, Desak Mojtaba Khamanei Mundur

Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-45, Senin (13/4/2026) dengan eskalasi tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap Selat Hormuz.

Militer AS menyatakan akan mulai memblokade seluruh pelabuhan Iran hari ini pada pukul 14.00 GMT.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah global, sehingga setiap gangguan berpotensi berdampak luas.

Langkah ini diumumkan hanya sehari setelah pembicaraan damai AS–Iran di Islamabad runtuh tanpa kesepakatan, meski sebelumnya kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara.

Harga minyak melonjak menembus 100 dolar AS per barel, sementara pasar Asia melemah di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global.

Simak rangkuman peristiwa yang terjadi dalam perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki hari ke-45, Senin (13/4/2026) berikut:

Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan “ditindak tegas”.

IRGC menegaskan Iran menguasai penuh selat tersebut dan memperingatkan pasukan AS berisiko terjebak dalam “pusaran maut”.

Kepala Angkatan Laut Shahram Irani menyebut ancaman Washington “konyol”, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menuduh AS menggagalkan kesepakatan yang “hampir tercapai” di Islamabad.

Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan mundur, dan pejabat senior Mohsen Rezaee menyebut rencana AS “akan gagal”.

Ya pembicaraan akhir pekan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, membahayakan gencatan senjata dua minggu yang rapuh.

Nah, Militer AS pun mengatakan akan memulai blokade semua pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026), setelah pembicaraan gagal.

Kini Trump mengaku tidak peduli apakah Iran kembali mau negosiasi dengan AS atau tidak.

“Saya tidak peduli apakah mereka kembali atau tidak. Jika mereka tidak kembali, saya baik-baik saja,” kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland, setelah kembali dari Florida, Minggu, dilansir Al Arabiya.

Sementara, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang termasuk dalam delegasi Iran yang bernegosiasi, mengatakan dalam sebuah unggahan di X pada hari Senin, bahwa Teheran hanya "selangkah lagi" dari kesepakatan dengan Washington selama pembicaraan di Islamabad.

Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Pertanyaan

Perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir pada hari Minggu tanpa kesepakatan, menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi ketika gencatan senjata dua minggu akan berakhir pada 22 April 2026.

Saat perundingan berakhir di ibu kota Pakistan, Islamabad, kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.

Tidak ada kabar apakah negosiasi akan dilanjutkan, dan Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.

Para negosiator kini akan kembali ke ibu kota masing-masing dan mempertimbangkan kembali langkah selanjutnya.

Ketika AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari 2026, mereka berjanji untuk melenyapkan program nuklir dan rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi bersenjata di seluruh wilayah tersebut.

Dikutip dari AP News, AS telah mengajukan rencana 15 poin yang diyakini mencakup tuntutan yang sama.

Meskipun proposal AS belum dipublikasikan, pejabat Pakistan mengatakan kepada Associated Press bahwa proposal tersebut juga menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air strategis tempat seperlima minyak dunia mengalir.

Penutupan selat oleh Iran menyebabkan harga minyak melonjak dan pasar global anjlok.

Iran membalas dengan rencana 10 poinnya sendiri.

Rencana tersebut menyerukan kendali Iran atas selat tersebut, pengakhiran perang, dan penghentian serangan terhadap proksi-proksinya, termasuk kelompok militan Hizbullah yang kuat di Lebanon, serta tuntutan kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh perang.

Kedua pihak tampaknya tidak banyak bergeser dari syarat-syarat gencatan senjata selama pembicaraan tatap muka yang berlangsung lebih dari 21 jam.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Amerika, mengatakan bahwa Iran gagal memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Iran telah lama membantah berupaya memiliki senjata nuklir tetapi bersikeras pada program nuklir sipil yang mencakup pengayaan uranium – langkah kunci menuju pengembangan senjata.

Para ahli mengatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya Iran saat ini hanya selangkah lagi dari tingkat yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.

“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” kata Vance.

Di sisi lain, Kepala negosiator Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan AS harus memutuskan “apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak.”

Ia tidak menyebutkan inti perselisihan tersebut dalam serangkaian unggahan di media sosial.

Namun, pejabat Iran lainnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik permasalahan utama.

Lalu, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan negaranya akan berupaya memfasilitasi babak dialog baru antara Iran dan AS dalam beberapa hari mendatang. Tidak ada reaksi langsung dari kedua belah pihak.

Kendala utama tampaknya adalah persepsi di kedua belah pihak bahwa mereka memenangkan perang dan bahwa masing-masing memiliki waktu di pihaknya.

Vance mengatakan bahwa kurangnya kesepakatan tersebut merupakan “kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada bagi Amerika Serikat.”

Dan dalam unggahan media sosial terbaru pada hari Minggu, Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan memberlakukan blokade yang mengendalikan semua akses masuk dan keluar Selat Hormuz.

Qalibaf mengatakan Iran tidak akan “berhenti berupaya untuk mengamankan pencapaian” perang tersebut.

Komando Pusat AS menyatakan angkatan laut akan menghentikan kapal mana pun yang menuju atau berasal dari Iran di Selat Hormuz.

Pelayaran ke pelabuhan non-Iran tidak akan diganggu.

Trump juga mengatakan kapal yang membayar bea masuk ke Iran dapat dicegat di perairan internasional, dan menegaskan tidak memprioritaskan kelanjutan negosiasi.

Serangan Israel di Lebanon selatan berlanjut, dengan sedikitnya lima orang tewas menurut otoritas kesehatan.

Hezbollah mengatakan pihaknya menembakkan roket ke Israel utara sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.

Serangan udara Israel dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Nabatieh dan Mayfadoun.

Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL melaporkan kendaraan mereka ditabrak tank Israel di selatan.

Di Israel

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan operasi militer di Lebanon akan terus berlanjut.

Ia menyebut ancaman dari Hezbollah telah dilemahkan, namun menegaskan perang masih berlangsung.

Selat Hormuz dan krisis energi global

Harga minyak naik tajam di atas 100 dolar AS per barel setelah blokade diumumkan.

Indeks Nikkei turun 0,84 persen dan Kospi melemah 1,83 persen.

Lloyd’s List melaporkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz “segera berhenti”, dengan sejumlah kapal berbalik arah, menandakan potensi gangguan besar pada rantai pasok global.

(Tribunnews.com/tribunkalteng)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.