TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Fenomena tanah gerak di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, semakin parah.
Rumah milik Sumiatun (52) mengalami kerusakan cukup parah setelah bagian teras ambruk akibat pergerakan tanah yang terus terjadi.
Berdasarkan pantauan Tribunjateng.com, sisa bangunan rumah Sumiatun tampak menggantung di tepi tanah yang ambles.
Bagian teras sudah runtuh ke bawah, menyisakan puing-puing material bangunan yang berserakan.
Kedalaman amblesan mencapai 2,5 hingga 3 meter.
Baca juga: Kisah Mbah Djaiz Lansia di Blora Tak Bisa Tidur Nyenyak Dihantui Tanah Ambles
• Viral Pungli Parkir Nuthuk Rp40 Ribu di Kota Lama Semarang, Bowo Jukir Resmi Resah Nama Tercoreng
• Kronologi Evakuasi Balita dari Gunung Ungaran, Rewel saat Orangtua Cekcok di Pos 4
Peristiwa tersebut terjadi sekira tiga hari lalu saat hujan deras disertai petir mengguyur Dukuh Ngetrep.
Sumiatun menceritakan detik-detik teras rumahnya ambruk terdampak fenomena tanah gerak.
"Kejadiannya tiga hari yang lalu. Waktu itu hujan deras, sore sekira pukul 16.00."
"Tiba-tiba tanahnya bunyi ‘krek-krek’, terus ambles pelan-pelan."
"Tidak lama kemudian teras langsung ambruk," kata Sumiatun, Senin (13/4/2026).
Sumiatun sempat panik saat mendengar suara retakan tanah.
Karena khawatir rumahnya ikut roboh, Sumiatun langsung menyelamatkan diri ke rumah tetangga.
"Saya takut, tidak berani di rumah. Baru sebentar keluar, teras bagian depan sudah ambrol," terangnya.
Kini Sumiatun bersama keluarganya memilih mengungsi ke rumah saudaranya yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Meski begitu, rasa was-was masih terus menghantui, terutama saat malam hari, jika sewaktu-waktu sisa bangunan rumahnya ambruk kalau terjadi kembali tanah ambles.
"Kalau malam tidak bisa tidur nyenyak, kepikiran rumah. Kalau tanahnya ambles lagi. Soalnya tiap hari tanahnya masih turun pelan-pelan," terangnya.
Sumiatun bersama keluarganya tidak tahu sampai kapan bakal mengungsi di rumah saudara.
"Ya enggak tahu sampai kapan. Harapannya segera ditangani, biar tanahnya tidak bergerak lagi."
"Kami takut kalau dibiarkan, bisa tambah parah," paparnya.
Dulu depan rumah Sumiatun merupakan jalan desa. Sebelum tanah ambles, jalan desa masih bisa dilewati kendaraan.
Sekarang setelah tanah ambles dengan kedalaman sekira 2,5 meter sampai 3 meter itu, kini kendaraan tidak bisa lewat.
Lokasi permukiman yang terdampak tanah ambles itu tidak jauh dari aliran sungai Lusi atau hanya berjarak sekira 20 meter. (*)