Tribunlampung.co.id, bandar lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Lampung sebut seluruh Wilayah Kota Bandar Lampung dan Metro teridentifikasi rawan kekeringan saat memasuki kemarau panjang tahun 2026
Hal itu menyusul ancaman kemarau ekstrem yang berpotensi terjadi akibat fenomena "Godzilla El Nino" yang diprediksi memuncak pada pertengahan 2026.
Berdasarkan data BPBD Lampung, tercatat sebanyak 1.741 desa/kelurahan di Bumi Ruwa Jurai masuk dalam peta risiko.
Dari jumlah tersebut, 367 desa berstatus bahaya Tinggi (Zona Merah) dan 1.379 desa berstatus Sedang.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat mengatakan, bahwa 100 persen wilayah Kota Bandar Lampung dan Kota Metro menjadi wilayah padat penduduk yang terancam kekeringan kategori sedang.
Baca Juga BPBD Catat 1.741 Desa di Lampung Rawan Kekeringan, Terbanyak di Lampung Utara
"Untuk Bandar Lampung dan Metro hampir semua wilayahnya masuk kategori rawan sedang, artinya ini juga bisa berdampak pada kehiduoan sosial, seperti kelangkaan air bersih dan lainnya," Jelasnya.
Ia mengungkapkan, Kabupaten Lampung Utara, menjadi wilayah berpotensi terdampak paling tinggi yang tersebar masif di Kecamatan Tanjung Raja (Suka Mulya), Abung Tinggi (Sidokayo), dan Bukit Kemuning.
Di Lampung Tengah, potensi kekeringan terkonsentrasi di Kec. Selagai Lingga (Marga Jaya), Anak Tuha (Bumi Aji), dan Terbanggi Besar.
Lalu, Kabupaten Way Kanan tersebar meliputi Kec. Banjit (Juku Batu), Gunung Labuhan (Banjar Ratu), dan Kasui.
Kabupaten Tulang Bawang dan Tubabajuga terdapat beberapa wilayah yang masuk kategori tinggi, seperti wilayah Rawajitu Selatan dan Gedung Meneng
Menghadapi potensi kemarau paling panas dalam 30 tahun terakhir ini, Pemprov Lampung melalui BPBD telah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi terintegrasi:
"Kita akan mengaktifkan Desa Tangguh Bencana (Destana) di wilayah penyangga hutan. Di sana masyarakat diminta melakukan deteksi dini titik api melalui sistem siskamling komunitas agar api tidak meluas ke area hutan," kata dia.
Jika eskalasi meningkat, Pemprov Lampung berkoordinasi dengan BNPB untuk menyiapkan Water Bombing atau Pemadaman via udara hingga Operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan guna mengisi embung dan membasahi lahan.
"Kalau terjadi kebakaran lahan misalnya, kita akan melakukan water booming, atau ketika memang dibutuhkan maka akan disiapkan OMC," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga memperkuat koordinasi antara TRC, Pusdalops Kabupaten/Kota, petugas Damkar, serta dukungan penuh TNI/Polri untuk siaga di titik-titik rawan.
Di luar ikhtiar teknis, pihaknya juga mengajak alim ulama dan masyarakat untuk menggelar doa bersama memohon kepada sang pencipta.
"Kami memohon dukungan alim ulama dan juga pesantren untuk melakukan Salat Istisqa (minta hujan) agar kemarau ini tidak membawa dampak yang lebih buruk bagi warga," tutup Wahyu.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)