TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Fakta baru terungkap soal evakuasi balita 1,3 tahun yang viral di Gunung Ungaran, Sabtu (11/4/2026).
Balita asal Tembalang tersebut ternyata tidak mengalami hipotermia seperti kabar yang beredar luas.
Insiden ini bermula dari aksi nekat sang ayah yang memaksakan diri mendaki sampai ke puncak di tengah cuaca buruk.
Di balik aksi berbahaya tersebut, ternyata ada perselisihan keluarga yang membuat sang ayah mengabaikan peringatan dari istrinya sendiri.
Masalah rumah tangga menjadi pemicu utama dari rentetan kejadian di jalur pendakian ini.
Pasangan suami istri asal Tembalang, Kota Semarang, ini dikabarkan sudah tidak harmonis sejak sebelum memulai perjalanan.
Perselisihan antara keduanya sudah terjadi sejak awal keberangkatan dari rumah.
"Antara si ibu dan si bapak memang sudah ada cekcok dari awal mau berangkat," ungkap petugas Basecamp Perantunan, Dwi.
Akibat masalah pribadi tersebut, koordinasi mengenai keselamatan anak menjadi tidak sejalan.
Ketegangan mencapai puncaknya saat rombongan ini tiba di Pos 3.
Kondisi langit yang semula cerah berubah menjadi mendung pekat dan menandakan hujan akan segera turun.
Sang istri yang merasa khawatir segera mengajak suaminya untuk membatalkan niat ke puncak dan segera turun demi keamanan sang anak.
Namun, suami menolak ajakan tersebut dan tetap bersikeras melanjutkan pendakian.
Sang istri bahkan sempat meminta agar bayi mereka diserahkan kepadanya untuk dibawa turun lebih dulu, namun permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh suaminya.
“Si ibu minta bayinya itu untuk diajak turun jika bapaknya tetap mau naik. Tapi bapaknya ini tetap maksa untuk membawa anaknya,” jelas Dwi.
Baca juga: Kisah di Balik Viral Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran, Keegoisan Ayah Nyaris Celakai Anak
Akhirnya, ibu balita turun sendirian, sementara suami menggendong bayinya tetap menuju puncak.
Sekitar pukul 14.00 WIB, sang ayah dan bayinya sampai di area puncak tepat saat hujan deras mengguyur.
Karena tidak membawa perlengkapan mendaki atau baju hangat yang memadai untuk balita, mereka terjebak dalam kondisi kedinginan.
Keduanya kemudian ditemukan sedang berteduh di sebuah warung di kawasan Pos 4.
Tim SAR yang sedang bersiaga untuk acara Semarang Mountain Race langsung merespons cepat laporan tersebut.
Balita tersebut segera dievakuasi turun ke basecamp untuk mendapatkan pertolongan pertama guna mencegah kondisi fisik yang memburuk.
Setibanya di bawah, balita tersebut ditempatkan di warung terdekat untuk diberikan penghangat tubuh.
Dwi menyebut kondisi balita perempuan itu sebenarnya tidak mengalami hipotermia atau penurunan suhu tubuh drastis yang mengancam nyawa.
“Bayinya dibawa turun oleh tim SAR, keadaan bayi itu bukan hipotermia," tutur Dwi.
Tubuh bayi memang nampak menggigil saat ditemukan, namun hal itu murni disebabkan karena pakaiannya basah kuyup akibat terkena guyuran hujan deras di area puncak.
Karena tidak ada stok pakaian bayi di lokasi, petugas hanya bisa memberikan penghangat tubuh sementara untuk menstabilkan suhu fisiknya.
"Memang basah kuyup, tapi karena di tempat kami tidak ada pakaian bayi, untuk sementara dikasih penghangat,” jelasnya.
Baca juga: Belum Damai, Ibu Bayi Nyaris Tertukar Sebut Pihak RS Hasan Sadikin dan Perawat Belum Minta Maaf
Hingga akhirnya balita tersebut dipastikan dalam keadaan sehat serta stabil sebelum dibawa pulang.
Petugas basecamp pun menghubungi sang ibu yang ternyata sudah berada di Semarang untuk kembali menjemput.
“Dari basecamp sampai ke parkiran di kampung itu juga saya yang antar, sampai ketemu keluarganya," papar Dwi.