Menlu Turki menyebut potensi intervensi Israel bisa merusak jalannya negosiasi, sementara isu nuklir jadi hambatan utama.
SERAMBINEWS.COM, ISTANBUL - Situasi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) kembali menjadi sorotan setelah Menteri Luar Negeri (Menlu) Turkiye, Hakan Fidan menegaskan, bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran sebenarnya memiliki niat tulus untuk mencapai gencatan senjata.
Namun, menurut Hakan Fidan, proses tersebut kerap terganggu oleh faktor eksternal, terutama potensi intervensi Israel yang dianggap bisa merusak jalannya negosiasi.
Pernyataan ini disampaikan Fidan dalam wawancara dengan Anadolu Agency, usai perundingan AS-Iran yang dimediasi Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan.
Fidan menekankan, bahwa kedua pihak masih membuka ruang dialog, meski isu nuklir menjadi hambatan utama.
Ia menilai, jika perundingan hanya berfokus pada pengayaan uranium dengan pendekatan “semua atau tidak sama sekali”, maka peluang tercapainya kesepakatan akan semakin kecil. Turkiye, bersama Mesir, dan Pakistan, disebutnya, aktif mendorong jalur diplomasi agar konflik tidak semakin meluas.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump menyalahkan Iran atas kegagalan perundingan, dengan menuding Teheran enggan meninggalkan ambisi nuklirnya.
Baca juga: Penyebab Perundingan Iran-AS di Pakistan Gagal, Negosiasi soal Nuklir dan Selat Hormuz Masih Buntu
Sementara itu, Iran disebut masih menelaah proposal yang diajukan Washington.
Kondisi ini membuat harapan akan gencatan senjata cepat kembali meredup.
Padahal perang yang berlangsung sejak Februari 2026, telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
Situasi semakin rumit setelah Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Langkah ini memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi internasional.
Fidan menilai, bahwa pembukaan kembali selat tersebut memang penting, tetapi bukan inti persoalan.
Menurutnya, yang lebih krusial adalah bagaimana tatanan pasca-konflik akan dibentuk, serta apakah kebebasan navigasi di jalur internasional itu tetap terjamin.
Ia menambahkan, negara-negara di kawasan memiliki kepentingan besar agar kondisi pasca-perang tidak mengubah tatanan yang sudah ada.
Turkiye sendiri menekankan pentingnya peran mediator untuk mencari jalan keluar, sekaligus menjaga agar dinamika baru tidak menimbulkan ketegangan lebih lanjut.
Baca juga: Negosiasi Iran-AS Buntu, Blokade Selat Hormuz Berlanjut, Tuntutan AS Dinilai Tak Masuk Akal
Dengan demikian, meski ada niat tulus dari AS dan Iran, jalan menuju gencatan senjata masih penuh tantangan.
Faktor eksternal, isu nuklir, serta dinamika geopolitik kawasan menjadi variabel penentu yang akan menentukan apakah perdamaian bisa benar-benar terwujud.
Pemerintah Turkiye menegaskan, komitmennya untuk terus mendorong diplomasi, sembari mengingatkan bahwa stabilitas kawasan hanya bisa dicapai melalui kesepakatan yang adil dan berkelanjutan.(*)