TRIBUNJAKARTA.COM, CENGKARENG - Produsen atau pengrajin tahu dan tempe di wilayah DKI Jakarta mengeluhkan kenaikan harga kedelai.
Bagi mereka, kenaikan harga kedelai ini dianggap sangat mempengaruhi daya jual beli masyarakat di pasar.
Salah satunya disampaikan Yudi, produsen atau pengrajin tahu tempe di Cengkareng, Jakarta Barat.
Ia menyebut kenaikan harga kedelai membuat dirinya terpaksa harus merogok modal lebih untuk memproduksi tahu dan tempe.
"Karena kita kan belinya per ton, ya. Jadi kalau ada kenaikan di 1.000 itu ya nambahnya Rp 1 juta per ton," kata Yudi, Senin, (13/4/2026).
Sebelumnya ia menyebutkan bahwa harga kedelai hanya Rp10.200 per kilogramnya.
Namun saat ini terpantau harga kedelai naik Rp 1.000 per kilogram.
Menurut Yudi, kenaikan harga ini dianggapnya masih belum terlalu tinggi sebab beberapa waktu lalu harga kedelai sempat mengalami kenaikan cukup tinggi hingga mencapai Rp 14.000 saat itu.
"Pernah sampai 14.000 ya, kalau sekarang sebenarnya kedelai itu masih aman lah tapi dampaknya itu yang berasa banget ke penjualan," tutur dia.
Disampaikan Yudi, yang paling terdampak dari kenaikan harga kedelai menurutnya dari pengeteng atau pengecer.
Sebab mereka harus modal plastik yang saat ini harganya juga sedang mengalami kenaikan yang cukup tinggi.
"Cuma kan kalau dari segi pengeteng itu, dari plastik, buat mereka ecer kemasan plastik lah utamanya ya," kata dia.
Sejauh ini meski harga kedelai naik, namun Yudi mengungkapkan dirinya sama sekali belum menaikkan harga pada tahu dan tempe yang dia produksi.
Sebab menurutnya, kenaikan harga akan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dari teman-teman paguyuban mereka.
"Kalau kenaikan harga itu kami kan ada paguyuban, nah biasanya kalau mau naik ya harus serentak. Tapi sejauh ini belum ada kenaikan," katanya.
Yudi sendiri mengungkapkan setiap harinya ia menggunakan kedelai sebanyak 450 kilogram per hari untuk memproduksi 250 kilogram tempe dan 200 kilogram tahu.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungam Sidabalok membenarkan adanya kenaikan harga kedelai yang bervariasi itu.
Dijelaskannya, jika mengacu peraturan Bapanas, harga acuan penjualan (HAP) kedelai di angka Rp 12.000 per kilogram.
"Sementara untuk di Jakarta harga kedelai saat ini bervariasi dari Rp 9.000 sampai Rp 11.300," kata dia.
Bahkan ia mengatakan, pihaknya sempat mendapatkan temuan pedagang yang menjual kedelai hingga mencapai Rp 20.000 per kilogram.
Setelah ditelusuri, pedagang tersebut ternyata menjual dengan harga tinggi karena ingin menghabiskan stok yang mereka punya.
"Jadi yang naik itu hanya satu orang di pedagang pasar, jadi itu tidak bisa menjamin atau mencerminkan, mewakili bahwa kenaikan harga kedelai seperti itu gitu loh," ucapnya.
Secara umum, Hasudungan memastikan harga kedelai di Jakarta masih terbilang stabil.
Hasudungan mengatakan, saat ini sebagian besar kebutuhan kedelai di DKI Jakarta 95 persen diserap oleh pengrajin tahu tempe.
"Dan hanya 5 persen saja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan di luar itu," katanya.
Baca juga: UMKM Jakarta Jajaki Pasar China, Produk Tempe hingga Popcorn Dilirik Buyer di Wuhan
Baca juga: Harga Kedelai Naik Bikin Perajin Tempe Menjerit, Berharap Konflik Timur Tengah Segera Berakhir
Baca juga: Kedelai Meroket, Perajin Keripik Tempe di Jaksel Menjerit hingga Terpaksa Naikkan Harga Jual