108.772 Anak di Makassar Jadi Target Imunisasi Campak
Abdul Azis Alimuddin April 14, 2026 01:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Kepala Dinas Kesehatan Makassar, dr Nursaidah Sirajuddin, menyatakan angka campak di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, sejatinya mengalami penurunan pada 2026.

Ia menjelaskan, pada 2025 tercatat 383 kasus suspek, dengan tingkat konfirmasi positif mencapai 48 persen.

Angka tersebut menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan.

Memasuki 2026, tren mulai menunjukkan penurunan.

Sepanjang Januari hingga Maret, tercatat 187 kasus suspek campak di Makassar.

Namun, dari jumlah tersebut, baru dua kasus terkonfirmasi positif.

Sementara sisanya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Angka 2025 itulah menjadi dasar Kemenkes menetapkan Makassar sebagai KLB campak,” ujar dr Ida, Senin (13/4/2026) malam.

Sejak Maret, Dinkes Makassar terus menggencarkan imunisasi campak.

Targetnya, 108.772 anak di Makassar dapat terjangkau program ini.

Baca juga: Luwu Siaga Satu Campak

Hingga Senin (13/4), tercatat 22.544 anak telah menerima imunisasi, atau sekira 27,7 persen dari target.

Untuk mempercepat capaian, seluruh fasilitas layanan kesehatan diinstruksikan memaksimalkan vaksinasi.

Mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, posyandu, hingga pustu dilibatkan dalam upaya ini.

“Kami instruksikan semua layanan kesehatan untuk memaksimalkan imunisasi,” tegas dr Ida.

Selain itu, Dinkes Makassar juga membuka posko imunisasi di sejumlah titik keramaian, termasuk saat kegiatan Car Free Day (CFD).

Lokasinya tersebar di Jl Jenderal Sudirman, Jl Boulevard, Kampus Universitas Hasanuddin, kawasan GOR Sudiang, hingga Center Point of Indonesia (CPI).

Upaya jemput bola juga dilakukan melalui pendekatan door to door.

Sasaran utamanya adalah anak usia 9 hingga 59 bulan.

Menariknya, imunisasi tetap diberikan tanpa melihat status vaksinasi sebelumnya.

“Kita tetap imunisasi ulang sesuai usia, untuk memastikan perlindungan maksimal,” jelasnya.

Seluruh layanan imunisasi campak ini dipastikan diberikan secara gratis kepada masyarakat.

Ke depan, Dinkes Makassar juga berencana memperluas sasaran imunisasi kepada tenaga kesehatan.

Langkah ini diambil menyusul adanya laporan tenaga kesehatan yang meninggal akibat campak.

“Pemerintah akan memberikan imunisasi MR kepada tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit,” katanya.

Meski status KLB masih berlaku, dr Ida menegaskan secara tren, angka campak di Makassar sudah turun.

Hal ini terlihat dari minimnya kasus terkonfirmasi sepanjang awal 2026.

“Turun secara angka, karena memang kita sudah melakukan vaksinasi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Wajo, drg Armin, angkat bicara terkait status KLB campak di wilayahnya.

Ia menegaskan, kasus yang ada saat ini belum sepenuhnya terkonfirmasi positif.

Sebagian besar masih berstatus suspek. “Belum positif, masih suspek,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Meski demikian, Dinkes Wajo tetap bergerak cepat.

Mereka berencana melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi darurat campak.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa pagi, dengan melibatkan Bupati Wajo, Fatmawati Amin, selaku Ketua Tim Penggerak PKK.

“Besok pagi kami turun bersama Ibu Bupati, mulai pukul 08.00,” jelasnya.

Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerima data rinci terkait sebaran kasus per kecamatan.

“Data per kecamatan belum ada. Nanti kami informasikan setelah pelaksanaan ORI,” tambah drg Armin.

Ciri-ciri Campak

Kasus campak meningkat lagi.

Membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala dan cara penanganannya.

Penyakit ini memiliki ciri khas yang umumnya mudah dikenali sejak awal.

Gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi.

Kondisi ini kemudian disertai batuk, pilek, serta mata merah.

Dalam beberapa hari, akan muncul bintik-bintik merah di kulit.

Ruam ini umumnya dimulai dari wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Pada sebagian kasus, juga ditemukan bercak putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik.

Penanganan campak pada umumnya dilakukan melalui perawatan di rumah, terutama untuk meringankan gejala.

Pasien dianjurkan untuk banyak beristirahat agar tubuh dapat melawan infeksi secara optimal.

Asupan cairan juga harus diperhatikan.

Minum air putih, sup, atau larutan rehidrasi diperlukan untuk mencegah dehidrasi, terutama jika disertai diare atau muntah.

Selain itu, konsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Obat penurun demam atau nyeri juga dapat diberikan sesuai anjuran dokter.

Kebersihan tubuh, terutama area mata dan kulit, perlu dijaga karena gejala campak sering disertai ruam dan iritasi mata.

Dalam kondisi tertentu, pasien juga memerlukan perawatan tambahan.

Salah satunya dengan pemberian vitamin A yang biasanya direkomendasikan tenaga medis.

Jika gejala batuk atau pilek semakin berat, pengobatan lanjutan dapat diberikan sesuai resep dokter.

Upaya pencegahan penularan juga menjadi hal penting.

Penderita disarankan menghindari kontak dekat dengan orang lain, terutama bayi dan ibu hamil.

Penggunaan masker serta menjaga jarak juga dianjurkan untuk mengurangi risiko penyebaran.

Selain itu, tidak berbagi alat makan atau minum menjadi langkah sederhana yang efektif.

Masyarakat juga diminta segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan jika muncul tanda bahaya.

Di antaranya demam tinggi yang tidak kunjung turun, sesak napas, kejang, anak tampak sangat lemas, tidak mau minum, atau mengalami diare dan muntah terus-menerus.

Untuk pencegahan jangka panjang, imunisasi menjadi langkah paling efektif.

Kelengkapan vaksin MR atau MMR sangat penting untuk melindungi anak dari risiko terkena campak di kemudian hari.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.