Oleh: Syamril
Direktur Sekolah Islam Athirah
TRIBUN-TIMUR.COM - Perang AS dan Iran sedang gencatan senjata.
Perundingan telah dilakukan di Pakistan namun tidak menghasilkan kesepakatan.
Kedua belah pihak berpegang pada posisi masing-masing tanpa ada kompromi.
Respon dunia kembali was was.
Khawatir perang berlanjut.
Selat Hormuz kembali ditutup.
Harga minyak bumi naik.
Ekonomi dunia kena dampaknya.
Baca juga: Trump: Firaun Abad 21
Harga BBM di berbagai negara mulai naik hingga 50 persen termasuk di AS.
Dalam negosiasi atau perundingan, ada dua posisi yang bisa terjadi yaitu menang dan kalah.
Salah satu pihak bisa menang dan pihak lain kalah.
Bisa juga keduanya kalah atau mengalah.
Bisa juga kedua pihak menang atau untung.
Ini yang diharapkan.
Syaratnya kedua belah pihak ada kesetaraan dan niat baik untuk mencari jalan keluar.
Idealnya mencari jalan keluar yang menang - menang.
Tapi itu tidak mudah.
Bisa jadi juga menang - kalah, kalah - menang, dan kalah - kalah.
Mari kita bahas satu persatu.
Pola pertama yaitu menang-menang.
Dikenal dengan pendekatan kolaborasi.
Terjadi jika kedua belah pihak terbuka untuk saling mencari jalan keluar.
Juga ada pola komunikasi yang asertif yaitu jelas dan sopan, tidak menyinggung perasaan.
Pola kedua yaitu menang - kalah, disebut dominasi.
Baca juga: Menjadi Bintang
Pihak pertama agresif menyerang dan merasa diri lebih kuat.
Pola inilah yang digunakan Presiden AS Donald Trump.
Jika pihak kedua lemah dan tidak berdaya maka pasrah saja menerima untuk kalah.
Tidak ada pilihan lain.
Pola ketiga yaitu kalah - menang, disebut akomodasi.
Pihak pertama secara sukarela mengalah dan mengakomodir permintaan pihak kedua.
Biasanya ada pertimbangan jangka panjang.
Mengalah untuk menjaga hubungan jangka panjang.
Mengalah dengan harapan ada keuntungan di masa depan.
Pola keempat yaitu kalah - kalah.
Kedua belah pihak kukuh dengan pendirian masing-masing.
Apalagi jika ada kondisi yang melatarbelakangi.
Ada pengalaman pahit sebelumnya.
Inilah sekarang yang terjadi.
Iran sudah kecewa karena dikhianati pada perundingan sebelumnya.
Pola kelima disebut disebut kompromi.
Biasanya secara sadar kedua belah pihak mengurangi harapan dan permintaannya.
Mencari titik temu dan menurunkan ego masing-masing.
Jika tidak dapat meraih seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya.
Kembali ke perundingan AS dan Iran.
Rasanya tidak mungkin salah satu pihak mendominasi karena sama-sama kuat.
Tidak mungkin juga salah satu pihak mengalah karena keduanya punya harga diri.
Sulit untuk kolaborasi karena AS kurang asertif dalam komunikasi.
Harapannya semoga kedua belah pihak ada kompromi di masa depan.
Semoga.
(*)