TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA - Prediksi cuaca hari ini untuk Kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 28 kecamatan akan diguyur hujan sedang sampai dengan hujan berpetir. Sisanya Sebanyak 11 kecamatan akan mengalami berawan hingga hujan ringan. Wilayah yang akan diprediksi mengalami hujan petir adalah Kecamatan Cisewu.
Suhu udara di Kabupaten Garut hari ini diprediksi akan berkisar antara 18 hingga 24 derajat celcius.
BMKG juga mencatat adanya pengaruh tidak langsung dari dua siklon tropis, yaitu Nuri dan Narel, yang meningkatkan aktivitas cuaca di beberapa wilayah Indonesia, terutama di bagian timur dan selatan. Namun, melalui sistem pemantauan dan peringatan dini yang berjalan efektif, dampak tersebut dapat diantisipasi tanpa mengganggu secara signifikan kelancaran transportasi.
Dari aspek kelautan, BMKG turut mengingatkan adanya potensi gelombang sedang hingga tinggi serta fenomena rob akibat fase bulan baru dan bulan perigee. Untuk itu, peringatan dini terus disampaikan secara intensif kepada masyarakat dan pemangku kepentingan guna mendukung keselamatan transportasi laut.
Dalam upaya mitigasi cuaca ekstrem, BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Sumatera Utara. Langkah ini dinilai efektif dalam menurunkan intensitas hujan dan mengurangi risiko gangguan terhadap infrastruktur serta mobilitas masyarakat.
“Operasi modifikasi cuaca memberikan kontribusi nyata dalam menekan potensi cuaca ekstrem, sehingga mobilitas masyarakat selama Lebaran dapat tetap terjaga dengan baik,” tegasnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandung memperingatkan tentang musim kemarau dan prediksi el nino 2026. Musim kemarau dan el nino merupakan fenomena berbeda dan independen satu sama lain. Kemarau hadir setiap tahunnya yang umum terjadi di pertengahan tahun untuk mayoritas wilayah Indonesia dengan karakter umum kondisi kering.
Kondisi kemarau pun bervariari karena macam faktornya, seperti banyak hujan sehingga biasa disebut kemarau basah, dapat dipengaruhi la nina atau suhu laut lokal di Indonesia yang hangat, dan bahkan bisa juga lebih kering karena el nino atau suhu laut lokal di Indonesia yang mendingin.
"Sedangkan el nino itu fenomena di Samudera Pasifik yang terdiri atas dua fase, yakni fase hangat dikenal sebagai el nino dan fase dingin dikenal sebagai la nina. Siklus perulangan el nino biasanya terjadi 4 - 7 tahun sekali. Sementara la nina (dan tahun iklim normal) menyelingi tahun-tahun el nino," kata Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).
Dampak umum yang terasosiasi dengan fenomena ini, untuk el nino menekan curah hujan atau kering dan kemarau tambah panjang. Sedangkan la nina, hujan bertambah. Dampak karakteristik el nino dan la nina, lanjutnya, tergantung intensitasnya (lemah, moderat, kuat) dan juga faktor suhu muka laut Indonesia.
"Kemarau tahun ini diprediksi BMKG pada umumnya di banyak wilayah Indonesia bersifat bawah normal yang berarti lebih kering dari biasanya. Lalu, awal dari musim kemarau di banyak wilayah Indonesia diprediksi maju daripada kondisi normalnya. Artinya, kemarau lebih panjang," ujarnya.
Kemungkinan hadirnya el nino pada semester 2 tahun 2026 ini, maka kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau 2026 menjadi sangat penting dan urgen. Prediksi el nino yang akurat pada periode awal kuartal tahun masih menantang.
"Kami mengingatkan bahwa akurasi prediksi el nino dari berbagai model iklim yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya cukup andal untuk prakiraan hingga tiga bulan ke depan, suatu fenomena yang disebut spring predictability barrier sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasi hasil prediksi model-model dan diperlukan expertise dalam pemahaman interaksi multifaktor yang menyebabkan lahirnya kondisi el nino, maupun interpretasi dampak secara telekoneksi ke wilayah Indonesia," ujarnya.
Rahayu menegaskan, awal musim kemarau diprediksi terjadi bertahap mulai Maret hingga Juni 2026, dengan sebagian besar wilayah memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
"Awal musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Maret 2026: 1 ZOM (2,4 persen), meliputi wilayah Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian barat laut.
Selanjutnya, pada April 2026: 4 ZOM (9,8 persen ), diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta bagian timur laut, Subang bagian utara, Indramayu, serta sebagian wilayah Cirebon. Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026: 23 ZOM (56,1 persen ), meliputi sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar," katanya.
Kemudian pada Juni 2026: 12 ZOM (29,3 persen ), musim kemarau diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Bogor, Sukabumi bagian utara, Cianjur bagian barat laut, Bandung Raya, Kabupaten Garut bagian tenggara, Tasikmalaya bagian selatan, dan Pangandaran bagian barat. Selain itu terdapat 1 ZOM bertipe satu musim (2,4 persen).
Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13–15 dasarian dan diprediksi memiliki durasi lebih panjang dari normal.
"Dengan sifat hujan yang didominasi bawah normal dan durasi kemarau yang cenderung lebih panjang, potensi dampak yang perlu diwaspadai, antara lain: kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air bersih, gangguan irigasi pertanian, peningkatan resiko kebakaran hutan dan lahan. Kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta peningkatan resiko kebakaran hutan dan lahan, melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal dan penyesuaian kalender tanam," katanya.(*)