TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Denpasar kini benar-benar darurat sampah setelah penutupan TPA Suwung untuk sampah organik.
Tak hanya menempatkan sampahnya di pinggir jalan atau lahan kosong, ada juga oknum masyarakat yang membuang ke sekolah.
Selain itu, kiriman sampah dari masyarakat ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sesetan Kota Denpasar terus membeludak.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar akan mengubah skema pembuangan sampah ke tempat ini.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menyebut, dalam skema awal, ada beberapa desa/kelurahan yang masuk ke TPS3R di Sesetan. Desa/kelurahan tersebut meliputi Sesetan, Pedungan, hingga Dauh Puri Klod.
Baca juga: Cacahan Sampah Organik dari Denpasar Ditimbun di Eks Galian C Klungkung, Solusi Overload Sampah?
“Nah, cuma dalam perkembangan pergerakan hariannya, sepertinya kapasitas TPS3R ini masih belum memadai untuk menerima beberapa desa selain Pedungan dan Sesetan,” paparnya, Selasa (14/4/2026).
Hal ini mengingat jumlah penduduk Pedungan dan Sesetan sangat banyak. Oleh karena itu, pihaknya akan mengubah skema. Di mana hanya Sesetan dan Pedungan saja yang membuang sampah ke tempat ini.
“Kemungkinan besok (hari ini). Hari ini (kemarin) saya rapat, kemudian besok (hari ini) kita akan buat skema baru untuk dua desa. Mungkin kita akan batasi desa atau kelurahan yang bisa membuang sampah ke TPS3R ini. Mungkin kita prioritaskan Sesetan dan Pedungan saja. Kemudian kita evaluasi lima hari ke depannya seperti apa,” paparnya.
Baca juga: Pembagian Komposter Bag di Denpasar Ditarget Tuntas Awal Mei, Tangani Sampah Organik Rumah Tangga
Terkait penambahan mesin di TPS3R ini, Arya Wibawa menyebut saat ini sedang proses di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura. Selanjutnya, baru ia akan mempolakan penambahan mesin untuk TPS3R Sesetan ini.
“Karena mesin yang ada sekarang ini jenis sampahnya adalah sampah organik yang kering. Sedangkan seyogyanya sampah organik yang basah itu sebenarnya sudah selesai di masyarakat. Nah, cuma masih banyak masyarakat yang tetap membawa ke sini,” imbuhnya.
Namun menurutnya, jika dalam kondisi saat ini dilakukan penolakan sampah basah tersebut, pihaknya takut rentan terjadi gesekan.
“Artinya kita tetap fasilitasi dalam jangka pendek ini. Mungkin nanti kita berikan deadline waktu sampai kapan sosialisasi secara masif dan penyadaran masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah organik basah di rumah tangga seharusnya sudah selesai, itu baru kita akan perketat,” katanya.
Ia menyebut, untuk kondisi normal TPS3R ini mampu menampung sekitar 30 ton. Arya Wibawa juga tak menampik jika masih ada masyarakat yang belum memilah sampah dan dibuang ke ruas jalan, maupun ke sungai. Sampah tersebut, setelah diangkut petugas juga ditampung di TPS3R Sesetan.
“Itu kenapa di sini banyak sekali sampah yang belum terpilah hasil penyisiran dari pembuangan-pembuangan masyarakat, sampah masyarakat yang dibuang tidak pada tempatnya,” paparnya.
“Astungkara, mesin yang di TPST Tahura bisa beroperasi sesegera mungkin secara normal, 100 ton, 200 ton, mungkin sampah yang seperti ini akan terserap ke titik itu,” ujarnya.
Sementara itu, sebanyak 10 kantong besar sampah dibuang ke kebun sekolah di SMP Wisata Sanur Denpasar. Sampah tersebut campuran sampah organik dan anorganik.
Kemarin, sampah tersebut telah dikeluarkan dari halaman sekolah dan diletakkan di pinggir jalan Bypass Ngurah Rai Sanur sambil menunggu pengangkutan.
Kepsek SMP Wisata Sanur, Ida Ayu Krisna Ari mengungkapkan, kejadian tersebut diketahui Senin (13/4) pagi. Kebun belakang sekolah yang berada di pinggir jalan Bypas Ngurah Rai telah dijadikan tempat pembuangan sampah.
“Kami tidak berani membukanya, hanya dipindahkan ke luar gerbang sekolah. Dan sekarang masih di sana, malahan nambah lagi beberapa kantong,” paparnya saat ditemui, Selasa (14/4/2026).
Padahal menurutnya, saat tukang kebun melakukan penyiraman hingga petang, belum ditemukan adanya sampah dengan bungkus kantong plastik ungu dan hitam itu. Pihaknya menduga, pembuangan sampah ke sekolah dilakukan pada malam atau subuh.
“Karena memang di sana rindang, banyak tanaman, mungkin dikira tanah kosong atau hutan,” paparnya.
Pihak sekolah mengaku geram dengan ulah oknum tersebut. Pasalnya, pihak sekolah telah melakukan pemilahan hingga pengelolaan sampah sendiri. Selain membangun empat teba modern juga membangun tempat penampungan sementara.
Pihak sekolah juga melakukan pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Dengan jumlah siswa 739 orang dan 50 orang guru, dan tanaman yang rindang, sekolah ini menghasilkan sampah yang cukup banyak. Di kelas juga dilakukan pemilahan sampah dan selalu dikontrol siswa yang giliran piket.(sup)
Target Pembagian Komposter Bag Awal Mei
Sampah jadi momok yang membuat pusing semua kalangan di Denpasar saat ini. Setelah TPA Suwung ditutup untuk pembuangan sampah organik per 1 April lalu, Denpasar jadi darurat sampah. Untuk mengatasi hal itu, saat ini Pemkot Denpasar gencar pembagian komposter bag. Dengan komposter bag ini, diharapkan permasalahan sampah organik di rumah tangga bisa segera terselesaikan.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa memaparkan, pembagian komposter bag ini ditarget tuntas awal Mei 2026 ini.
“Nah, ini sambil-sambil berjalan ini. Itu kita sambil menunggu itu semua terealisasi. Kemarin evaluasi kita, target kita akhir April awal Mei itu sudah tuntas terbagi di seluruh KK (kepala keluarga),” paparnya, Selasa (14/4).
Dengan belum meratanya pembagian komposter bag ini, menurutnya menjadi salah satu kendala pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Utamanya dalam penanganan sampah organik basah di tingkat rumah tangga.
“Karena distribusi pengelolaan sampah organik yang basah seperti biocomposter dan tong komposter itu belum maksimal terbagi ke seluruh masyarakat kita,” jelasnya.
Untuk diketahui, Denpasar menargetkan sebanyak 176 ribu komposter bag dibagikan ke semua KK yang ada di Denpasar. Pembagian ini dilakukan melalui desa/kelurahan serta dibantu kaling dan kadus.
Di sisi lain, banyak warga Denpasar bingung menangani sampah organiknya. Apalagi bagi warga yang halamannya sempit atau tinggal di rumah kos. Mereka pun akhirnya membawa pulang sampah organiknya untuk ditaruh di tegalan atau teba.
Hal itu dilakukan Ida Ayu Made Candra Kartika (64) yang tinggal di Kelurahan Padangsambian, Denpasar. Dirinya mengaku, halaman rumahnya sempit, dan meskipun menggunakan komposter bag, kadang menimbulkan bau khususnya untuk sampah dapur.
Oleh karenanya, setelah 1 April, ia dan suaminya memutuskan membawa sampah organiknya ke kampung di Bakas, Kabupaten Klungkung.
“Setiap minggu suami saya pulang bawa sampah. Biasanya satu bag plastik besar, dan tiga kantong kresek merah dibawa dengan mobil,” paparnya, Selasa (14/4).
Dirinya mengaku, sampah yang dihasilkan di rumahnya lebih banyak organik daripada anorganik. “Ada sampah dapur, canang, itu yang lebih banyak. Kalau anorganik sangat sedikit. Jadi biar tidak numpuk, dan halaman rumah juga sempit, kebetulan punya tegalan di kampung, saya bawa pulang saja,” paparnya.
Ini bukan kali pertama ia membawa sampahnya ke kampung. Sempat beberapa waktu lalu saat tak ada pengangkutan sampai sebulan, ia juga membawa sampahnya pulang kampung.
“Syukur saya punya kampung. Kalau misalnya cuma punya rumah di Denpasar, pasti pusing mikirin sampah,” paparnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Wayan Juli (45). Perantau asal Karangasem yang tinggal di kawasan Tonja ini mengaku sejak sampah organik dilarang ke TPA Suwung, ia membawa sampahnya ke kampung. Ia pun menyempatkan pulang kampung saat ada acara keluarga sambil membawa sampahnya.
“Di kampung cukup luas tegalan. Kan sampah organik gampang hancur, nanti jadi kompos,” katanya. (*)