BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah bakal terjadi “Godzilla El Nino” yang disebut-sebut memicu kemarau ekstrem di Indonesia pada tahun 2026.
BMKG menegaskan musim kemarau 2026 memang diprediksi lebih kering dari normal, tetapi tidak sampai pada level ekstrem seperti tahun 2015 yang ramai dibicarakan.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memang menggunakan istilah “Godzilla” untuk menggambarkan potensi El Nino yang kuat.
Namun, BMKG menekankan istilah tersebut bukan terminologi ilmiah resmi dan dapat menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengatakan istilah “Godzilla” tidak digunakan dalam kajian resmi BMKG karena dinilai tidak akurat dan cenderung berlebihan.
Fachri menekankan kondisi 2026 tetap perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
"Perlu digarisbawahi bahwa ini berarti lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau paling parah dalam 30 tahun,” kata Fachri dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (14/4/2026), dikutip dari Antara.
Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, yakni sekitar April hingga September 2026, dan berlangsung lebih panjang.
Curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berada di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun.
Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan mulai berkembang pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Meski demikian, BMKG menegaskan El Nino bukan penyebab kemarau, melainkan hanya faktor yang memperkuat intensitasnya.
Indonesia sebagai negara tropis, kata Fachri, secara alami mengalami musim kemarau setiap tahun.
Namun, ketika kemarau bertepatan dengan El Nino, curah hujan cenderung menurun, sehingga risiko kekeringan meningkat. Saat ini, El Nino masih berada pada kategori lemah.
BMKG memperkirakan intensitasnya berpotensi meningkat menjadi moderat pada kuartal ketiga 2026, terutama pada periode Agustus hingga Oktober.
Meski tidak seekstrem 1997 atau 2015, BMKG tetap mengimbau dampak kemarau kering tetap perlu diantisipasi.
Penurunan curah hujan berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu sektor pertanian dan perkebunan.
Selain itu, dampak juga bisa merambah ke sektor kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan berkurangnya hujan dapat memperburuk kualitas udara karena minimnya efek “pembersihan” alami dari hujan.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan polusi udara, terutama jika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
El Nino Berpotensi Muncul Paruh Kedua 2026
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani menyampaikan, ada potensi El Nino di paruh kedua tahun 2026.
Ia mengungkapkan, kondisi iklim global saat ini masih berada dalam fase netral.
Hal ini ditunjukkan oleh indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang berada di angka sekitar +0,28.
Meski demikian, BMKG memprakirakan adanya potensi perubahan signifikan pada paruh kedua tahun 2026.
Dalam paparannya, Faisal menjelaskan, pada semester II 2026, kondisi ENSO berpeluang berkembang menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat.
Peluang terjadinya fenomena tersebut diperkirakan mencapai 50 hingga 80 persen, sehingga perlu menjadi perhatian berbagai pihak dalam menyusun langkah antisipasi sejak dini.
Faisal menegaskan, fenomena El Nino dan musim kemarau merupakan dua hal yang berbeda.
Musim kemarau adalah siklus tahunan yang pasti terjadi di Indonesia, sementara El Nino merupakan fenomena iklim global yang tidak selalu hadir bersamaan dengan musim kemarau.
“Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering,” jelasnya dalam Rapat Koordinasi Strategi Mitigasi dan Penanggulangan Dampak Musim Kemarau Panjang Tahun 2026 yang diselenggarakan di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Situasi ini, lanjut Faisal, berisiko memicu berbagai dampak, mulai dari krisis air bersih, gangguan sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Untuk menghadapi potensi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan secara terintegrasi.
Di antaranya adalah melakukan respons antisipatif pada wilayah dengan potensi curah hujan rendah, memperkuat manajemen waduk dan sistem irigasi berbasis data, serta melaksanakan operasi modifikasi cuaca sebagai upaya menjaga ketersediaan air.
Selain itu, BMKG juga mendorong adanya kampanye efisiensi penggunaan air dan energi di masyarakat guna mengurangi risiko dampak kekeringan yang lebih luas.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan sumber daya air, terutama di tengah potensi kemarau yang lebih panjang.
“BMKG tidak hanya mengurusi kebencanaan, tetapi juga mendukung berbagai sektor pembangunan seperti pertanian, perhubungan (darat, laut, dan udara), serta infrastruktur pekerjaan umum,” ungkapnya, dikutip dari bmkg.go.id.
BMKG menyediakan data dan informasi iklim yang dapat dimanfaatkan oleh sektor pertanian, transportasi darat, laut, dan udara, serta pembangunan infrastruktur.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara seimbang.
Menurutnya, kondisi air yang berlebihan dapat memicu bencana seperti banjir dan longsor, sementara kekurangan air dapat menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Menutup pernyataannya, Faisal mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dalam menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang.
Upaya bersama ini diharapkan dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan serta menjaga keberlangsungan berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Waspada Penyebaran Penyakit
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menjelaskan peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyebaran penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah dan malaria.
"Peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti demam berdarah dan malaria, karena genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk," kata dia.
Selain itu, penurunan kualitas sanitasi dan air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit lain seperti diare, tifus, kolera, hingga leptospirosis.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat diimbau memantau kualitas udara secara berkala, mengurangi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi, serta menggunakan masker jika diperlukan.
Penggunaan penyaring udara di dalam ruangan juga disarankan, termasuk menghindari sumber polusi seperti asap rokok. Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi lintas sektor.
Badan Pangan Nasional memastikan ketersediaan cadangan pangan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah potensi gangguan produksi akibat kekeringan.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan sekitar 400 pompa air untuk membantu petani menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
(Bangkapos.com/Kompas.tv/Rizky L Pratama, Dian Nita)