TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Di tengah silih bergantinya tren musik dan dinamika skena lokal, band asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Headquarter, tetap bertahan.
Sejak berdiri pada 2004, band ini terus berjalan meski harus menghadapi pergantian personel hingga perubahan arah panggung.
Di balik panggung-panggung sederhana yang mereka jalani, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mulus.
Formasi band kerap berubah, bahkan vokalis lama yang ikut merintis kini telah berhenti.
Namun, bagi Hendra, vokalis sekaligus gitaris, menjaga nama Headquarter tetap hidup menjadi hal yang lebih penting.
“Headquarter itu terbentuk di 2004, sekarang sudah 22 tahun. Kami dulu terbentuk dari prakarsa saya dan vokalis lama, tapi sekarang dia sudah istirahat,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Ia mengakui, perjalanan selama lebih dari dua dekade bukan hal mudah.
Pergantian personel menjadi bagian yang tak terhindarkan, namun tidak membuat band ini berhenti.
“Saya pengennya Headquarter itu ada terus. Makanya sampai hari ini kita tetap ada. Walaupun gonta-ganti personel, kita bakal terus ada buat kalian,” katanya.
Di tengah keterbatasan, Headquarter tetap produktif. Puluhan lagu telah mereka ciptakan sejak awal berdiri.
Dari jumlah tersebut, sekitar 19 lagu sudah direkam dan disiapkan untuk dirilis ke platform digital, sementara total karya yang pernah dibuat mencapai sekitar 34 lagu.
“Memang belum semuanya masuk Spotify, tapi rencananya tahun ini akan dilengkapi,” jelasnya.
Selama ini, Headquarter dikenal aktif di panggung komunitas seperti gigs, yang menjadi ruang utama bagi band-band independen.
Kini, mereka mulai mencoba menjangkau pendengar yang lebih luas dengan tampil di kafe-kafe.
“Kita biasanya main di gigs, tapi sekarang merambah ke kafe-kafe biar lebih dikenal lagi,” ujarnya.
Bagi mereka, bermusik bukan sekadar tampil, tetapi juga soal sikap dan cara memandang dunia.
Hendra menekankan pentingnya keberanian untuk berbeda dalam berkarya.
“Pesan kami, tetaplah jadi orang ‘gila’, karena seniman itu memang harus berani beda,” ucapnya.
Perjalanan panjang Headquarter juga diiringi harapan agar ekosistem musik lokal mendapat perhatia lebih.
Sementara itu, Gitaris Headquarter, Rico menilai, masih banyak musisi lokal yang belum mendapat ruang yang cukup.
“Jangan cuma band yang itu-itu saja. Banyak band lokal lain yang juga perlu diberi ruang. Kami dukung pemerintah, pemerintah juga dukung kami,” katanya.
Hal senada disampaikan bassist Headquarter, Dona, yang melihat potensi besar jika musik lokal mendapat dukungan yang tepat, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga penggerak ekonomi.
Baca juga: Sangsaka Band Launching Single Terbaru, Tampil Bersama Seniman Lokal di Night Waltz Coffee
Baca juga: Galang Dana Malam Tahun Baru 2025, Pemprov Kalteng Datangkan Ayu Ting Ting dan Kangen Band
“Kalau ada wadah dan dukungan, musisi lokal bisa berkembang. Bahkan bisa menggerakkan ekonomi, karena ada merchandise dan kegiatan lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, drummer Headquarter, Aji menilai, karakter berbeda yang dimiliki Headquarter justru menjadi kekuatan yang membuat mereka tetap bertahan hingga sekarang.
“Kami ini berbeda, tidak homogen. Justru dari perbedaan itu yang membuat kami unik,” katanya.
Lebih dari dua dekade berjalan, Headquarter mungkin bukan band yang selalu berada di arus utama.
Namun, konsistensi dan semangat mereka menjaga karya membuat nama itu tetap hidup di ingatan penikmat musik lokal Palangka Raya.