TRIBUN-MEDAN.com - Seorang calon polisi wanita (polwan) asal Jambi menjadi korban diduga dirudakpaksa oleh oknum kepolisian.
Ia melangkah dengan membawa beban berat setelah menjadi korban dugaan pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian.
Dengan tekad kuat, calon polwan tersebut bergerak dari Jambi menuju Jakarta.
Tujuannya satu: mencari keadilan yang selama ini terasa begitu sulit diraih.
Kasus ini mulai menjadi perhatian publik setelah tim hukum Hotman 911 menyampaikan pernyataan resmi.
Baca juga: Sosok Anggota DPRD Ngamuk Aniaya Wanita Sampai Babak Belur di Tempat Karaoke Bandungan
Kronologi peristiwa yang menyayat hati itu diungkap melalui akun Instagram advokat Hotman Paris Hutapea @hotmanparisofficial pada Selasa (14/4/2026).
Dalam keterangan yang dirilis, terungkap bahwa korban tidak hanya mengalami kekerasan seksual.
Ia juga diduga diperlakukan secara tidak manusiawi, karena peristiwa tersebut terjadi di hadapan tiga oknum polisi lain yang justru menonton dan bahkan menyoraki.
"Calon polwan korban pemerkosaan oleh oknum polisi, yang saat diperkosa ditonton dan disoraki oleh tiga oknum polisi, sedang menempuh perjalanan darat dari Jambi menuju Jakarta untuk mencari keadilan dan akan bertemu dengan tim Hotman 911" tulis pernyataan resmi tim hukum Hotman 911.
Baca juga: Kronologi Lengkap Rombongan Foto-foto di Tikungan Sitinjau Lauik, Kapolres Solok Dalami Pelanggaran
Impian korban untuk menjadi bagian dari institusi kepolisian kini berubah menjadi kenyataan pahit.
Ia justru harus menghadapi ujian berat yang datang dari lingkungan yang semestinya menjadi tempatnya mengabdi dan menegakkan keadilan.
Perjalanan Mencari Keadilan
Dengan kondisi penuh tekanan, korban bersama ibunya menempuh perjalanan darat dari Jambi menuju Jakarta.
Sang ibu, yang disebut hanya berprofesi sebagai pemulung, setia mendampingi anaknya dalam perjuangan ini.
Kisah mereka menjadi potret nyata ketimpangan, di mana warga kecil harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkan keadilan di tengah dugaan keterlibatan aparat.
Baca juga: Menteri Keuangan Terbang ke Amerika, Purbaya Yakinkan AS agar Mau Investasi di Indonesia
Rencananya menurut tim Hotman 911, korban akan bertemu langsung dengan tim hukum yang dipimpin oleh Hotman Paris Hutapea pada:
Hari/Tanggal: Rabu, 15 April 2026
Waktu: 14.00 WIB
Lokasi: Sayap Suci (Holywings Group), Kelapa Gading, Jakarta Utara
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membuka jalan hukum yang lebih terang bagi korban dan diharapkan pula media massa bisa menyaksikannya.
Sorotan Publik dan Desakan Penegakan Hukum
Kasus ini dengan cepat menyedot perhatian publik, terutama karena melibatkan dugaan pelanggaran serius oleh aparat penegak hukum.
Para netizen berharap Hotman Paris membela korban hingga oknum polisi yang melakukan dan menyaksian dihukum setimpal.
Jika terbukti, peristiwa ini tidak hanya menjadi kejahatan individu, tetapi juga mencoreng integritas institusi.
Desakan pun menguat agar proses hukum berjalan transparan dan tegas, tanpa intervensi, serta memberikan perlindungan maksimal bagi korban.
Di balik fakta hukum dan sorotan publik, ada kisah kemanusiaan yang tak kalah penting.
Seorang anak yang bercita-cita menjadi polwan kini justru harus melawan trauma, stigma, dan ketidakpastian.
Sementara itu, sang ibu, yang hidup dari mengais barang bekas, menjadi simbol keteguhan.
Tanpa kekuatan finansial atau koneksi, ia hanya bersandar pada harapan bahwa keadilan masih bisa ditegakkan.
"Perjalanan mereka bukan sekadar perjalanan fisik dari Jambi ke Jakarta, melainkan perjalanan panjang melawan ketakutan, ketidakadilan, dan sistem yang kerap dianggap sulit ditembus oleh rakyat kecil," kata sejumlah netizen menilai kasus ini.
Beberapa hal yang menjadi sorotan publik:
Hotman Paris Tegaskan Komitmen Kawal Kasus
Melalui tim Hotman 911, pengacara kondang Hotman Paris yang dikenal aktif membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan keadilan, berkomitmen akan membongkar kasus ini.
Keterlibatan Hotman dalam kasus ini, memberi harapan baru bagi korban dan keluarga.
Kasus dugaan pemerkosaan terhadap calon polwan di Jambi ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, tetapi juga menyentuh isu besar tentang kepercayaan publik terhadap aparat hukum.
(Tribun-Medan.com)