Kenali Gejala Awal TBC, Batuk Terus-menerus Selama 2 Minggu Disertai Dahak
Reny Fitriani April 15, 2026 02:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala awal tuberkulosis (TBC) serta pentingnya deteksi dini guna menekan penyebaran penyakit menular tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Irman Thamrin, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum menyadari tanda-tanda awal TBC sehingga kasus sering terlambat ditemukan.

“Gejala utama yang paling mudah dikenali adalah batuk terus-menerus selama dua minggu atau lebih. Biasanya disertai dahak, bahkan dalam kondisi tertentu bisa bercampur darah,” ujar Irman, Rabu (15/4/2026). 

Selain itu, kata dia, penderita juga kerap mengalami nyeri dada saat bernapas atau batuk. 

Ia menjelaskan, selain gejala utama, terdapat pula gejala umum yang sering diabaikan masyarakat, di antaranya demam ringan berkepanjangan yang biasanya muncul pada sore atau malam hari, keringat malam tanpa sebab jelas, serta penurunan berat badan tanpa diet.

Baca Juga Data TBC Lampung 2024-2026: Penemuan Kasus Meningkat, Capaian Masih di Bawah Target

“Penderita juga biasanya merasa lemas, cepat lelah, dan mengalami penurunan nafsu makan,” jelasnya.

Pada kondisi lebih lanjut, lanjut Irman, TBC dapat menyebabkan sesak napas hingga pembengkakan kelenjar, misalnya di bagian leher pada kasus TBC kelenjar.

Irman menekankan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam mendeteksi dini kasus TBC, terutama di lingkungan keluarga. 

Menurutnya, langkah pertama adalah mengenali gejala yang muncul pada anggota keluarga atau orang sekitar, seperti batuk berkepanjangan, demam ringan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.

“Jika menemukan gejala tersebut, masyarakat harus segera waspada dan tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan yang berisiko tinggi terhadap penularan TBC, seperti rumah dengan ventilasi buruk, lingkungan padat dan lembap, serta kontak erat dengan penderita TBC. 

Kelompok dengan daya tahan tubuh lemah seperti lansia, anak-anak, atau penderita penyakit tertentu juga lebih rentan terpapar.

Irman menegaskan bahwa diagnosis TBC tidak bisa hanya berdasarkan gejala, melainkan harus melalui pemeriksaan medis, seperti pemeriksaan dahak (sputum), rontgen dada, serta tes cepat molekuler (TCM).

Ia juga menekankan pentingnya skrining terhadap kontak serumah jika ditemukan satu kasus positif TBC. 

“Semua anggota keluarga harus diperiksa, karena kemungkinan ada kasus lain yang belum terdeteksi,” katanya.

Lebih lanjut, Irman menyebut skrining atau pemeriksaan rutin menjadi kunci utama dalam penemuan kasus TBC di Lampung sekaligus memutus rantai penularan. 

Ia mengungkapkan, secara nasional masih terdapat ratusan ribu kasus TBC yang belum terdeteksi, sehingga berpotensi terus menularkan penyakit di masyarakat.

Di Provinsi Lampung sendiri, capaian penemuan kasus TBC pada 2025 baru sekitar 65 persen dari target 90 persen.

“Artinya masih banyak kasus yang belum ditemukan. Ini yang menjadi tantangan kita bersama,” ujarnya.

Untuk itu, pemerintah daerah terus memperkuat skrining aktif, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti di lembaga pemasyarakatan, pondok pesantren, serta lingkungan padat penduduk. 

“Tujuannya agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan penularan dapat dicegah, khususnya di wilayah dengan risiko tinggi,” tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.