Kasus Campak di Aceh Turun 2026, KLB Masih Mengancam Akibat Rendahnya Imunisasi
Muliadi Gani April 15, 2026 02:51 PM

 

PROHABA.CO, BANDA ACEH - Dinas Kesehatan Aceh mencatat tren kasus campak mulai menurun pada tahun 2026 setelah sempat melonjak tinggi pada awal 2025.

Meski demikian, Kejadian Luar Biasa (KLB) campak masih terjadi di sejumlah kabupaten/kota, terutama akibat rendahnya cakupan imunisasi di masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, menjelaskan bahwa lonjakan kasus terjadi pada awal 2025 dengan puncak pada Januari dan Februari.

“Pada Januari 2025 tercatat 755 kasus suspek dengan 241 konfirmasi, kemudian Februari 702 suspek dengan 226 konfirmasi.

Setelah itu tren mulai menurun hingga akhir tahun,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Memasuki 2026, penurunan kasus terlihat cukup signifikan.

Dalam periode Januari hingga Maret 2026 hanya tercatat 724 kasus suspek dengan 124 kasus terkonfirmasi. 

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 1.400 suspek.

Namun, dr Iman menegaskan bahwa KLB masih terjadi di beberapa daerah sehingga kewaspadaan tetap harus ditingkatkan.

Baca juga: Kemenkes Waspadai Ancaman Campak di Lokasi Pengungsian Pasca Bencana

Data Kasus dan Daerah Rawan

Secara kumulatif, sepanjang 2025 tercatat 5.204 kasus suspek campak dengan 1.241 kasus terkonfirmasi serta enam kasus rubela.

Sementara pada 2026 hingga Maret, terdapat 724 suspek, 124 konfirmasi campak, dan satu kasus rubela.

Beberapa daerah dengan kasus tinggi pada 2025 antara lain Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh.

Pidie bahkan mencatat KLB terbanyak hingga tujuh kali dalam setahun.

Pada awal 2026, Aceh Besar masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi, disusul Aceh Barat Daya dan Aceh Jaya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman 
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman (Serambinews.com/HO)

Menurut dr Iman, tingginya kasus campak di Aceh sangat berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi.

“Sebanyak 93,5 persen kasus konfirmasi terjadi pada anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi campak sama sekali.

Ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak diimunisasi menjadi sangat rentan,” jelasnya.

Kelompok usia yang paling terdampak adalah anak usia 1–4 tahun dan 5–9 tahun, yang seharusnya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Cakupan imunisasi campak di Aceh masih jauh dari target nasional. 

Pada 2025, cakupan imunisasi MR dosis pertama baru mencapai 39,9 persen dan dosis kedua 23 persen.

Padahal target nasional adalah 85 persen di 2025 dan meningkat menjadi 88 persen pada 2027.

Sementara pada 2026 ini, cakupan masih sangat rendah, MR1 baru 7,1 persen dan MR2 sekitar 5,7 persen.

Baca juga: 16 Mahasiswa FH UI Akui Dugaan Pelecehan Seksual Verbal, DPR Minta Usut Tuntas

Rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keraguan masyarakat terhadap vaksin hingga kurangnya dukungan keluarga.

“Masih ada kekhawatiran terkait keamanan vaksin, isu KIPI, serta informasi negatif yang beredar.

Selain itu, keputusan dalam keluarga, terutama dari orang tua, juga sangat menentukan apakah anak diimunisasi atau tidak,” kata dr Iman.

Ia menambahkan, kendala lain adalah kapasitas petugas yang tidak merata serta budaya masyarakat yang belum sepenuhnya menerima informasi utuh mengenai imunisasi.

Campak Sangat Menular

Dr Iman menegaskan bahwa kondisi rendahnya imunisasi menyebabkan terbentuknya kantong-kantong populasi rentan di masyarakat.

Ketika virus campak masuk, penularan dapat terjadi dengan sangat cepat dan memicu KLB.

“Campak ini penyakit yang sangat menular.

Kalau ada satu kasus masuk ke wilayah dengan banyak anak yang belum imunisasi, maka akan cepat sekali menyebar,” pungkasnya.

(Serambinews.com/Indra Wijaya)

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Campak: Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai

Baca juga: Dinas Kesehatan Banda Aceh Dorong Puskesmas Jadi Garda Terdepan Deteksi Dini Kanker

Baca juga: PT MPG Dorong Pengembangan SDM Lokal dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.