Eks Pengurus Pertina Papua Barat Soroti Dualisme Tinju, Minta Fokus pada Prestasi Atlet
Roifah Dzatu Azmah April 15, 2026 04:07 PM

 

TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Mantan pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Papua Barat, Clinton Tallo, menyoroti persoalan dualisme organisasi tinju yang dinilai berpotensi menghambat pembinaan atlet di daerah.

Ia menegaskan pentingnya menjaga prestasi atlet agar tidak terdampak konflik kepengurusan yang terjadi.

Clinton menjelaskan, dirinya pernah aktif sebagai pengurus Pertina selama hampir dua periode, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan fokus pada pembinaan di Pengurus Besar Tinju Indonesia (Perbati), wadah lain yang juga memiliki jejaring hingga tingkat nasional, Asia, dan internasional.

Baca juga: Kapolda Papua Barat Tatap Muka Tokoh Lintas Agama, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Menurutnya, meski terdapat dua organisasi yang menaungi atlet tinju, tidak seharusnya terjadi konflik yang merugikan para petinju.

“Tidak ada dualisme dalam arti merugikan atlet. Keduanya sama-sama petinju, yang terpenting adalah prestasi mereka tidak boleh tergerus hanya karena persoalan organisasi,” ujarnya.

Ia mengimbau seluruh pihak, khususnya di daerah, untuk menghilangkan polemik antara organisasi tinju dan lebih mengedepankan kepentingan atlet.

Clinton menilai, selama pemerintah mampu mengakomodasi kedua pihak, maka pembinaan olahraga tetap bisa berjalan dengan baik.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya figur yang tepat dalam memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Baca juga: Lorentinus Riwu Ungkap Alasan Penutupan Sementara Tiga Dapur SPPG di Kaimana

Menurutnya, calon ketua KONI harus memiliki integritas, kepedulian terhadap olahraga, serta jaringan yang luas untuk mendukung pengembangan cabang olahraga.

“Ketua KONI jangan hanya bergantung pada dana pemerintah, tapi harus punya hati, integritas, dan jaringan untuk mencari dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha,” tegasnya.

Clinton juga menyinggung persoalan klasik yang masih dihadapi atlet, seperti bonus yang belum sepenuhnya dibayarkan, termasuk bagi atlet yang berhasil meraih medali dalam ajang nasional.

Ia menilai hal tersebut harus menjadi perhatian serius bagi pengurus olahraga ke depan.

Ia berharap, melalui momentum musyawarah daerah (Musda) KONI, para calon pemimpin mampu menawarkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang selama ini dikeluhkan oleh cabang olahraga.

“Calon ketua KONI harus mampu menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah. Atlet harus jadi prioritas utama,” pungkasnya. (TribunPapuaBarat.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.