Singapura Catat Porsi Terbesar Impor Sumbar Awal 2026, Teluk Bayur Alami Lonjakan Throughput
Glery Lazuardi April 15, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat Singapura menjadi negara dengan kontribusi terbesar terhadap impor Sumatera Barat sepanjang Januari–Februari 2026.

Nilai impor dari Singapura mencapai US$76,44 juta atau sekitar Rp1,30 triliun (kurs Rp17.000 per dolar AS), setara 58,42 persen dari total impor Sumbar sebesar US$130,86 juta.

Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya sebesar US$8,06 juta.

Selain Singapura, negara lain yang turut menyumbang impor Sumbar adalah Malaysia (US$21,19 juta), Kanada (US$11,11 juta), Argentina (US$7,83 juta), dan Australia (US$7,26 juta).

Secara keseluruhan, nilai impor dari lima negara utama mencapai US$123,83 juta.

Komoditas impor didominasi oleh bahan bakar mineral dengan nilai US$96,53 juta, diikuti pupuk (US$11,03 juta), bahan kimia organik (US$3,22 juta), dan gandum (US$7,26 juta).

BPS menyebut peningkatan impor bahan bakar sebagai faktor utama lonjakan nilai impor.

“Peningkatan impor disebabkan oleh bertambahnya impor bahan bakar mineral,” tulis BPS dalam laporannya.

Pada Februari 2026, impor Sumbar tercatat US$82,24 juta, naik 224,97 persen dibandingkan Februari 2025.

Teluk Bayur Catat Pertumbuhan Throughput Tertinggi

PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat throughput sebesar 850.768 TEUs pada Triwulan I 2026, tumbuh 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ini terjadi di tengah pembatasan angkutan barang selama Idul Fitri.

Corporate Secretary IPC TPK, Pramestie Wulandary, menyampaikan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari langkah antisipatif perusahaan dalam melakukan optimalisasi operasional.

“IPC TPK telah mengoptimalkan aktivitas bongkar muat menjelang periode pembatasan, serta memastikan percepatan arus barang pasca pembatasan berakhir. Strategi ini memungkinkan kami menjaga kelancaran distribusi sekaligus meminimalkan potensi penumpukan di terminal,” ujar Pramestie.

Pada Maret 2026, arus bongkar muat tercatat 250.352 TEUs, turun 14 persen dibandingkan Maret 2025.

Namun, segmen domestik menunjukkan peningkatan 3,5 persen, dari 623.532 TEUs menjadi 645.084 TEUs.

Sebaliknya, arus internasional turun 6,4 persen, dari 219.655 TEUs menjadi 205.684 TEUs.

Pertumbuhan throughput tercatat di sejumlah area operasional IPC TPK, dengan Teluk Bayur mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,3 persen.

“Momentum Idul Fitri menjadi peluang bagi kami untuk memperkuat sistem operasional yang adaptif dan terintegrasi. Ke depan, IPC TPK akan terus memperkuat kolaborasi dan perencanaan berbasis data guna memastikan kelancaran logistik nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutup Pramestie.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.