Kasus gagal ginjal tidak hanya meningkat di Malaysia, Indonesia juga melaporkan tren serupa. Hal ini terlihat dari beban pembiayaan BPJS Kesehatan yang melonjak bahkan hingga 400 persen pada 2025 yakni Rp 13,38 triliun pada 2025 dari semula hanya Rp 2,32 triliun pada 2019.
Tidak jauh berbeda dengan catatan Malaysia yang menghabiskan RM 3,3 miliar atau sekitar Rp 14,22 triliun setiap tahun untuk pengobatan penyakit ginjal stadium akhir.
Bahkan, bila dirinci berdasarkan peringkat, beban pembiayaan akibat gagal ginjal pada 2025 di Indonesia sudah 'menyalip' pengobatan akibat kanker. Rinciannya, pada 2024, penyakit jantung menduduki peringkat pertama dengan 22,55 juta kasus dengan beban biaya mencapai Rp 19,25 triliun.
Di bawahnya, kanker mencatat 4,24 juta kasus dengan pembiayaan Rp 6,48 triliun, disusul stroke 3,89 juta kasus yang menghabiskan Rp 5,81 triliun dan gagal ginjal 1,44 juta kasus yang menghabiskan pembiayaan Rp 2,76 triliun.
Setahun berselang, datanya berubah signifikan.
Meski jantung masih menjadi penyedot anggaran terbesar dengan 29,73 juta kasus dan biaya Rp 17 triliun, posisi kedua kini ditempati gagal ginjal, dengan lonjakan kasus hingga 12,68 juta dan biaya membengkak menjadi Rp 13 triliun.
Kanker turun ke posisi ketiga dengan 7,19 juta kasus dan pembiayaan Rp 10,3 triliun, sementara stroke mencatat 9,53 juta kasus dengan biaya Rp 7,2 triliun.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menyoroti pemicu di balik peningkatan kasus gagal ginjal yakni komplikasi hipertensi dan diabetes. Keduanya sebetulnya merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan gaya hidup sehat.
Karenanya, menurut dia, pemerintah ke depan akan memprioritaskan program preventif dan promotif, alih-alih fokus di kuratif. Salah satunya yang baru diresmikan adalah Nutri Level di pangan siap saji.
"Concern kita yang utama di diabetes melitus dan hipertensi. Itu yang akan kita kejar dengan pendekatan promotif dan preventif sehingga dalam jangka panjang akan sangat-sangat menurunkan pembiayaan kesehatan," tutur Prihati kepada detikcom Rabu (15/4/2026).
Terpisah, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi juga mengamini peningkatan signifikan gagal ginjal di Indonesia.
Pasien gagal ginjal kronis membutuhkan perawatan hemodialisa atau cuci darah untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak dalam membersihkan limbah racun (ureum/kreatinin) dan kelebihan cairan dari tubuh. Prosedur ini sangat penting untuk mencegah komplikasi mematikan, menyeimbangkan elektrolit, dan menjaga kualitas hidup pasien.
Nadia mengimbau masyarakat lebih waspada, terutama dalam konsumsi minuman maupun makanan dengan kadar tinggi GGL.
"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer dan awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali, sehingga pasti akan terganggu dengan ginjalnya," katanya.
"Itu (penyakit gagal ginjal) peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," sambungnya.





