Papua Targetkan Penurunan Stunting Secara Drastis, Wagub Ajak Warga Jadi Orang Tua Asuh
Paul Manahara Tambunan April 15, 2026 05:12 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Pemerintah Provinsi Papua memasang target ambisius untuk menekan angka stunting menjadi 18 persen pada tahun 2026.

Target ini mengalami penurunan signifikan dibanding capaian tahun sebelumnya yang berada di angka 23 persen.

Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen, menegaskan penanganan stunting adalah prioritas utama demi menjamin kualitas sumber daya manusia (SDM) dan masa depan generasi penerus di Papua.

"Penanganannya harus dilakukan secara komprehensif, dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga," tegas Aryoko saat ditemui Tribun-Papua.com di Jayapura, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Angka Stunting di Kabupaten Jayapura Awal 2026 Capai 688 Anak, Intervensi Gizi Diperkuat

Aryoko menjelaskan upaya pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan butuh sinergi seluruh elemen masyarakat.

Langkah-langkah strategis yang akan digencarkan meliputi:

  • Pemenuhan gizi seimbang bagi ibu dan anak.
  • Pemberian ASI eksklusif.
  • Penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak.
  • Penerapan pola asuh yang benar dan layanan kesehatan optimal.

Selain itu, ia mengajak masyarakat yang mampu untuk terlibat dalam Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.

“Ini bukan sekadar program kerja, melainkan sebuah gerakan kemanusiaan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Papua,” imbuhnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar, menjelaskan implementasi Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting kini semakin dipertajam.

INFO PAPUA - Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar saat foto bersama usai kegiatan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Kementerian Kependudukan dan pembangunan keluarga Perwakilan Provinsi Papua di Hotel Suni Abepura Selasa (14/4/2026).
INFO PAPUA - Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar saat foto bersama usai kegiatan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Kementerian Kependudukan dan pembangunan keluarga Perwakilan Provinsi Papua di Hotel Suni Abepura Selasa (14/4/2026). (Tribun-Papua.com/Taniya Sembiring)

Sarles menyebut kebijakan tersebut memberikan ruang bagi daerah untuk berinovasi melalui aksi nyata yang mandiri namun tetap terintegrasi lintas sektor.

"Perpres ini menekankan agar koordinasi antarinstansi semakin kuat. Program edukasi gizi kini tidak hanya di Dinas Kesehatan, tapi melekat di dinas terkait lainnya," jelas Sarles.

Baca juga: Bantu Perangi Stunting di Papua Selatan, TSE Group Diganjar Genting Award dari Kemendukbangga

Tantangan Pernikahan Dini

Selain faktor asupan gizi, Sarles menyoroti tantangan lain yang masih membayangi angka stunting di Papua, yakni tingginya angka pernikahan usia muda.

Ia meminta instansi terkait untuk memperkuat sosialisasi dan pendampingan keluarga guna mencegah risiko stunting sejak dini.

Dengan target penurunan hingga 18 persen, Pemprov Papua berkomitmen memastikan anak-anak Bumi Cendrawasih tumbuh sehat, cerdas, dan produktif demi meningkatkan kualitas SDM di masa depan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.