TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Influenza tidak bisa lagi disepelekan karena kini dalam perkembangannya penyakit ini sudah meningkat menjadi ancaman yang tak bisa dianggap enteng.
Jika dulu influenza dianggap penyakit musiman ringan kini terbukti menjadi ancaman serius.
Baca juga: Kemenkes: Stok Vaksin Campak Dewasa Tersedia Cukup di Seluruh Indonesia
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 mencatat, sekitar 1 miliar kasus influenza terjadi setiap tahun di seluruh dunia dengan sekitar 3 hingga 5 juta kasus tergolong berat.
Kondisi ini menandakan kebutuhan akan perlindungan yang lebih optimal terhadap pencegahan influenza semakin mendesak, termasuk di Indonesia.
Berbagai studi menunjukkan vaksinasi influenza mampu menurunkan risiko rawat inap akibat komplikasi hingga 40–60 persen, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Upaya perlindungan melalui vaksin masih sangat diperlukan.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM dalam mendukung upaya pencegahan penyakit flu di Indonesia dengan menyetujui terbitnya izin edar vaksin influenza dengan memastikan vaksin yang beredar memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat melalui proses evaluasi yang ketat dan tepat waktu.
perluasan vaksin untuk melindungi individu yang terserang flu menjadi lebih berat.
Baca juga: Gejalanya Mirip Flu, Batuk dan Pilek Lalu Ruam, Dokter Ingatkan Campak Mudah Menular Lewat Udara
“BPOM mendukung percepatan akses masyarakat terhadap produk kesehatan yang dibutuhkan, termasuk vaksin, melalui proses registrasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis sains. Sinergi dengan industri farmasi menjadi kunci dalam memastikan ketersediaan produk yang aman dan berkualitas,” ujar Prof. Taruna, di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Prof. Raymond Tjandrawinata, Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, menekankan: dengan vaksinasi yang tepat, kita dapat menurunkan angka kejadian, komplikasi, hingga beban sistem kesehatan secara keseluruhan.”
“Influenza seringkali dianggap ringan, namun dampaknya dapat signifikan, terutama bagi lansia, anak-anak, serta individu dengan penyakit kronis. Dengan vaksinasi yang tepat, kita dapat menurunkan angka kejadian, komplikasi, hingga beban sistem kesehatan secara keseluruhan terlebih menurut data WHO angka kematian terkait gangguan pernapasan mencapai sekitar 290.000 hingga 650.000 kasus setiap tahunnya,” jelasnya.
Penularan influenza terjadi melalui droplet saat batuk atau bersin, serta kontak dengan benda yang terkontaminasi. Penyakit ini ditandai dengan gejala yang muncul mendadak seperti demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta kelelahan dengan tingkat keparahan bervariasi.
Pada individu sehat, influenza umumnya dapat pulih dengan terapi suportif, istirahat, dan perbaikan nutrisi. Namun, pada kelompok berisiko tinggi seperti anakanak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis, infeksi dapat berkembang menjadi lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Penanganan influenza dilakukan sesuai dengan kondisi klinis pasien. Sebagian besar kasus ringan hingga sedang cukup ditangani secara suportif untuk meredakan gejala dan mempercepat pemulihan.
Sementara itu, pada kasus yang lebih berat atau pada kelompok berisiko tinggi, terapi antivirus dapat dipertimbangkan untuk mengurangi durasi penyakit sekaligus mencegah komplikasi lebih lanjut.
Secara ilmiah, virus influenza termasuk dalam famili Orthomyxoviridae dan terdiri dari empat tipe, yaitu A, B, C, dan D. Di antara keempatnya, tipe A dan B merupakan penyebab utama influenza musiman pada manusia.
Virus tipe A bersifat lebih dominan dan berpotensi menyebabkan pandemi, sedangkan tipe B menyumbang sekitar 15–30 persen kasus dengan risiko pandemi yang lebih rendah.
Di tengah dinamika tersebut, vaksinasi tetap menjadi langkah paling efektif dalam pencegahan influenza.
Vaksin influenza telah digunakan secara luas selama lebih dari enam dekade dengan profil keamanan dan efektivitas yang baik.
Namun, karena virus terus bermutasi dan kekebalan dapat menurun seiring waktu, vaksinasi tahunan direkomendasikan dengan komposisi yang diperbarui berdasarkan surveilans global terhadap strain yang beredar.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi dalam teknologi produksi vaksin terus dilakukan, termasuk melalui metode berbasis kultur sel.
Pendekatan ini menawarkan proses produksi yang lebih terkontrol serta perlindungan yang lebih konsisten. Dengan efektivitas yang kompetitif dan profil keamanan yang baik, vaksin influenza berbasis sel menjadi pilihan yang semakin relevan dalam mendukung program imunisasi tahunan, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.
Menjawab tantangan untuk memperluas akses pencegahan influenza di Indonesia, PT Dexa Medica menghadirkan vaksin Quadrivalent yang telah memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) resmi menerbitkan Nomor Izin Edar (NIE) untuk vaksin influenza SKYCELLFLU Quadrivalent SH pada 9 Maret 2026, melengkapi persetujuan sebelumnya untuk SKYCELLFLU Quadrivalent NH.
Kehadiran vaksin influenza quadrivalent ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat upaya pencegahan penyakit flu di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan.
Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica Prof. Raymond Tjandrawinata menambahkan bahwa vaksinasi influenza merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang terbukti efektif.
Vaksin influenza ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap empat strain virus influenza yang direkomendasikan oleh WHO.
Varian SH telah disesuaikan dengan rekomendasi WHO tahun 2024, sementara varian NH mengikuti rekomendasi terbaru untuk musim 2025–2026. Pendekatan quadrivalent ini memberikan cakupan perlindungan yang lebih luas dibandingkan vaksin trivalen, karena mencakup dua strain influenza A (H1N1 dan H3N2) serta dua strain influenza B dari garis keturunan berbeda.
Hal ini menjadi penting mengingat virus influenza terus mengalami mutasi dan perubahan strain setiap tahunnya, yang dapat memengaruhi efektivitas perlindungan. Lebih lanjut, Prof Raymond menegaskan bahwa kehadiran vaksin ini mencerminkan komitmen Dexa Medica dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional melalui pendekatan preventif.
Lantas, apa bedanya vaksin Trivalen vs Quadrivalent? Berikut penjelasannya/
Melindungi dari tiga strain virus: dua tipe A (H1N1, H3N2) dan satu tipe B.
Digunakan secara luas selama beberapa dekade.
Keterbatasan: hanya mencakup satu garis keturunan virus B, padahal ada dua yang beredar.
Melindungi dari empat strain virus: dua tipe A (H1N1, H3N2) dan dua tipe B dari garis keturunan berbeda.
Memberikan cakupan perlindungan lebih luas terhadap variasi virus musiman.
Relevan untuk menghadapi mutasi virus yang terus berubah setiap tahun.