243 Balita di Bangka Terdeteksi Stunting, Dinkes Perkuat Kolaborasi Antar Instansi
Ajie Gusti Prabowo April 15, 2026 06:03 PM

SUNGAILIAT, BABEL NEWS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bangka memperkuat koordinasi antar-instansi guna memastikan intervensi stunting di wilayahnya berjalan lebih tajam dan menyeluruh. Langkah ini diambil karena masalah stunting dianggap mustahil bisa tuntas jika hanya mengandalkan sektor kesehatan semata.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Nora Sukma Dewi, menegaskan sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai masalah ini. "Peran instansi yang lain dalam membantu menurunkan angka kasus stunting sangat penting karena tidak dapat hanya dilakukan sepihak oleh Dinas Kesehatan," ungkap Nora Sukma Dewi, Rabu (15/4).

Menurutnya, akar permasalahan stunting sering kali bertumpu pada aspek di luar medis, sehingga dukungan penuh dari sektor ekonomi dan pendidikan menjadi pondasi yang sangat krusial. Kaitan erat antara kesejahteraan ekonomi dan kondisi kesehatan anak terlihat jelas dari data lapangan yang ada.

Diketahui, hingga akhir Februari 2026, tercatat sebanyak 243 balita di Kabupaten Bangka dinyatakan mengalami stunting. Angka tersebut didominasi oleh anak-anak yang berasal dari keluarga dengan kategori ekonomi kurang mampu, atau yang berada pada kelompok desil 1 hingga 5.

Kondisi ini mempertegas bahwa intervensi bantuan pangan dan pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi kebutuhan mendesak. Guna memperluas jangkauan bantuan, Nora Sukma Dewi juga mengajak sektor non-pemerintah untuk turun tangan secara langsung. 

Ia berharap gerakan ini menjadi kesadaran kolektif yang melibatkan semua lapisan masyarakat. "Peran swasta, organisasi masyarakat sampai lembaga perbankan untuk melakukan intervensi stunting yang serupa juga diperlukan," ujarnya.

Sejauh ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sendiri telah menjalankan berbagai langkah preventif yang dimulai sejak masa kehamilan. Pemerintah daerah terus mendorong para ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin guna memastikan kondisi janin terpantau dengan baik.

Selain itu, edukasi mengenai pentingnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan pemantauan pertumbuhan anak di Posyandu atau Puskesmas setiap bulan tetap menjadi program prioritas di garda terdepan.

Tak hanya menyasar ibu dan bayi, pencegahan pun ditarik jauh ke hulu dengan menyasar para remaja putri melalui pemberian tablet tambah darah sebagai persiapan jangka panjang menjadi calon ibu yang sehat.

Nora Sukma Dewi menjelaskan, masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah periode emas yang tidak boleh terabaikan, karena kekurangan gizi pada fase ini akan membawa dampak permanen yang merugikan di masa depan. "Dampak buruk dari stunting dapat memengaruhi terhadap tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa," tegas Nora.

Dengan segala langkah strategis dan komitmen yang kian solid dari berbagai pihak, ia merasa optimistis bahwa kasus stunting yang saat ini masih tersebar di sejumlah titik lokasi fokus (lokus) dapat segera terselesaikan demi masa depan generasi Bangka yang lebih unggul. (u2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.