Pemakaman, Ayah Korban Pembakaran Di Pelabuhan Benoa Bali Tak Terima: Nyawa Ya Dicabut Nyawanya
Putu Dewi Adi Damayanthi April 15, 2026 07:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kasus pembakaran hidup-hidup di Pelabuhan Benoa, Bali, menyisakan duka mendalam untuk keluarga korban.

Salah satu korban dari pembakaran tersebut merupakan Egi Ramadan (30), asal Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

Jenazah Egi dipulangkan ke kampung halamannya di Cirebon.

Isak tangis dari keluarga mengiringi pemakamannya pada Rabu 15 April 2026.

Baca juga: Pelaku Berpotensi Jadi 7 Orang, 5 Pelaku Penganiayaan Berat di Pelabuhan Benoa Bali Positif Narkoba

Jenazah tiba sekitar pukul 12.30 WIB di sebuah musala. Sebuah ambulans terparkir di depan lokasi, sementara warga tampak berjejer rapi, sebagian baru saja menunaikan salat jenazah.

Tak lama berselang, peti warna coklat diangkat keluar.

Lantunan zikir 'La ilaha illallah' menggema, mengiringi langkah pelan para pelayat menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kidanalampa.

Di area pemakaman yang dikelilingi pepohonan rindang, iring-iringan jenazah berjalan perlahan di antara nisan-nisan.

Tanah yang tampak basah menambah suasana sendu.

Tangis keluarga pecah saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat. 

Sejumlah kerabat dan para tetangga terlihat saling berpelukan, tak kuasa menahan duka atas kepergian Egi yang begitu tragis.

Proses penurunan jenazah berlangsung penuh kehati-hatian.

Sejumlah warga bekerja sama menurunkan peti menggunakan tali, sementara lainnya berada di dalam liang lahat untuk memastikan posisi jenazah tepat.

Suasana semakin khidmat ketika azan dikumandangkan di dalam liang lahat.

Para pelayat berdiri mengelilingi makam, menyaksikan momen perpisahan terakhir dengan penuh haru.

Setelah itu, tanah mulai ditimbunkan hingga membentuk gundukan.

Prosesi ditutup dengan tabur bunga dan doa bersama yang dipimpin seorang ustaz.

Keluarga tampak jongkok di sekeliling makam, larut dalam doa.

Ayah Korban Tak Terima

Di tengah suasana duka, ayah korban, Kartomi (52), mengungkapkan rasa kehilangan yang begitu mendalam. 

Ia mengaku tidak terima atas kematian anaknya.

“Ya, intinya dari saya sebagai ayah kandung, tidak terima. Jelas tidak terima. Nyawa ya dicabut nyawanya. Jadi dari pihak keluarga korban, minta proses hukum seadil-adilnya, seberat-beratnya,” ujar Kartomi, Rabu 15 April 2026.

Kartomi mengaku pertama kali mengetahui kejadian itu dari video yang dikirim oleh teman anaknya.

“Dari temannya. Temannya kirim video ke adiknya di Palimanan, kalau Egi dibakar. Saya lihat, ‘Loh kok benar Egi?’ Ternyata benar,” ucapnya.

Ia pun mengaku syok saat menerima kabar tersebut.

“Syok, jelas syok,” jelas dia.

Kartomi juga membantah informasi yang menyebut anaknya sempat memicu keributan.

“Itu bohong! Kalau setahu teman-temannya, Egi tidak mungkin ngomong seperti itu. Itu hanya rekayasa pelaku supaya seolah-olah tidak salah,” katanya.

Menurutnya, Egi dikenal sebagai sosok yang baik.

“Orangnya baik, cuma ya namanya anak muda, ada nakalnya sedikit. Tapi sebenarnya baik,” ujarnya.

Kenangan terakhir bersama sang anak pun menjadi luka yang sulit dilupakan.

Selama dua tahun bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), Egi belum sempat pulang.

“Sudah dua tahun tidak ketemu. Tahun ini katanya mau pulang, kangen sama ibunya (makam), kangen sama rumah. Tapi pulangnya malah begini,” ucap Kartomi, lirih.

Dalam prosesi penjemputan, pihak keluarga mengucapkan Terima kasih kepada pihak yang telah membantu.

"Saya mau ngucapin terima kasih banyak kepada Kuwu Desa Pegagan, Kecamatan Palimanan Bapak Deni Harman dan ibu Kuwu Vonny Agustina Indera Ayu, selaku kuwu Desa Gombang Kecamatan Plumbon yang sudah memfasilitasi penjemputan jenazah anak saya," jelas dia. 

Penjemputan Jenazah dari Bali

Proses pemulangan jenazah dilakukan langsung oleh pihak keluarga bersama perangkat desa.

Mereka menempuh perjalanan panjang dari Bali menuju Cirebon.

Kasi Umum Desa Pegagan, Bobby Rachman Sampurno mengatakan, rombongan berangkat dari Cirebon menuju Bali pada Senin siang.

“Kami berangkat dari Cirebon hari Senin jam satu siang, tiba di Rumah Sakit Sanglah hari Selasa jam sembilan pagi,” jelas Bobby.

Ia menyebut, proses penjemputan berjalan lancar tanpa kendala berarti.

“Alhamdulillah lancar, tidak ada kendala sama sekali. Semua sudah terkoordinasi dengan baik,” katanya.

Bobby juga menegaskan, bahwa informasi yang menyebut korban memicu keributan tidak benar.

“Menurut keterangan penyidik yang saya dapat, itu semua bohong. Termasuk yang menyebut Egi mengejek pelaku,” ujarnya.

Ia memastikan pihak desa akan terus mengawal proses hukum yang berjalan.

“Kami dari pemerintah desa akan terus memonitor dan mengawal proses hukumnya sampai tuntas,” ucap Bobby.

Perjalanan Panjang Penuh Duka

Sebelumnya, Bobby menyampaikan, bahwa perjalanan pemulangan jenazah memakan waktu sekitar 16 jam.

“Pemberangkatan jenazah dari RS Sanglah Denpasar menuju rumah duka, sekitar 16 jam kalau tidak ada halangan,” ujarnya.

Setibanya di Cirebon, jenazah langsung dimakamkan di kampung halamannya di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon.

Korban Pembunuhan Tragis

Diketahui, Egi menjadi korban pembunuhan tragis di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, pada Jumat 10 April 2026 dini hari.

Korban diduga dikeroyok secara brutal menggunakan tangan kosong, batu, hingga balok kayu.

Tak berhenti di situ, pelaku kembali dan menyiram korban dengan bensin sebelum membakarnya hidup-hidup.

Dalam peristiwa tersebut, satu korban lain, Hisam Adnan (29), juga ditemukan tewas.

Polisi telah menangkap lima tersangka yang kini menjalani proses hukum.

Kini, perjalanan panjang itu telah usai.

Namun bagi keluarga, duka kehilangan Egi masih membekas dalam.

Di atas pusara yang baru ditimbun tanah, doa-doa terus dipanjatkan, mengiringi kepulangan terakhir seorang anak yang sempat berjanji akan pulang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.