TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tiga hari pasca penghadangan Orang Rimba oleh security PT SAL yang berujung bentrok berdarah, nasib Nyatang akhirnya menemui titik terang.
Nyatang ditemukan dalam kondisi lemas di daerah perkebunan Desa Pelakar Jaya, Pamenang Merangin.
Menurut Sergi Godong, Debalang Bathin Orang Rimba, Nyatang ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan.
Hal itu terlihat dari tubuhnya yang pucat, karena kurang kurang asupan makan, dan sejumlah memar di tubuhnya.
Sebelumnya, Nyatang dinyatakan hilang, setelah dia dan tiga orang rimba lainnya dalam perjalanan pulang pasca ada perundingan damai mencari solusi konflik Orang Rimba dan PT SAL pada Minggu (12/4/2026) kemarin.
Namun naas dalam perjalanan itu, mereka tidak berjalan berbarengan dengan kelompok Orang rimba lainnya, karena masih dalam kondisi melangun, menghilangkan kesedihan akibat kematian anggota kelompoknya.
Nyatang dan tiga lainnya dihadang dan mendapatkan kekerasan dari security. Akibat kejadian ini, dua Orang Rimba mengalami luka-luka akibat bacokan security dan satu Orang Rimba berhasil lari dan meminta bantuan kepada yang lainnya.
Sementara Nyatang yang sempat dikeroyok baru diketahui nasibnya setelah tiga hari berikutnya.
“Nyatang, berupaya lari ke tempat melangun di Mentawak Baru. Namun, ia tidak menemukan satu pun anggota keluarganya di tempat tersebut,” Kata Sergi Godong, dalam pernyataan resmi KKI Warsi Jambi, Rabu (15/4/2026).
Sergi yang bertigas sebagai Debalang (penjaga anggota kelompok) menyebutkan Nyatang yang tidak menemukan keluarganya, melanjutkan pencarian ke sejumlah titik tempat tinggal sebelum melangun ke Mentawak Baru.
Pencarian tersebut membawanya hingga ke wilayah Pamenang, arah kebun sawit Pelakar Jaya Pamenang Merangin.
“Selama proses tersebut, Nyatang berada dalam kondisi sangat lemah akibat tidak mendapatkan makanan yang memadai selama beberapa hari sejak bentrokan terjadi,” kata Sergi.
Saat ini, Nyatang telah dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah luka.
Luka memar pada bagian punggung sebelah kanan akibat benturan benda tumpul, pembengkakan pada bagian rahang dan pipi sebelah kiri dan luka di bagian bawah telinga sebelah kiri.
*Tanggapan KKI Warsi Jambi*
Menurut Antropolog KKI Warsi, Robert Aritonang, kondisi itu menunjukkan adanya dugaan tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan jiwa Orang Rimba, serta memperparah situasi kemanusiaan yang tengah mereka hadapi.
“Kami mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh, transparan, dan independen atas peristiwa bentrokan yang terjadi. Menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap Orang Rimba,” tegasnya.
Dia menekankan, negara harus hadir untuk segera menjamin perlindungan, keselamatan, dan pemulihan bagi seluruh Orang Rimba yang terdampak.
“Harus ada penyelesaian konflik secara adil dan menyeluruh, termasuk pemulihan hak hidup, ruang hidup, dan akses terhadap sumber penghidupan Orang Rimba,” ujarnya.
Tanpa itu, dia berpendapat kasus serupa akan terus berulang. Hal itu akan menguras energi semua pihak dan tidak menciptakan stabilitas ekonomi dan sosial di masyarakat dan perusahaan.
*Konflik menahun*
KKI Warsi Jambi menjelaskan, Konflik Orang Rimba dan PT SAL telah berlangsung sejak lama. Konflik bermula ketika berubahnya hutan di Air Hitam Sarolangun dan Tabir Selatan Merangin sejak 1988.
Kawasan hutan yang merupakan konsentrasi Orang Rimba Air Hitam Hulu, berubah menjadi areal konsesi perusahaan pekebunan kelapa sawit.
Keberadaan Orang Rimba di wilayah ini tercermin dari Seloko atau bilangan adat Orang Rimba. Pangkal Waris Tanah Garo, Ujung Waris Serenggam, Air Hitam Tanah Bejenang.
Dari Seloko ini, jika di lihat ke Air Hitam merupakan sungai utama yang melintasi wilayah kini meliputi Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun.
Dari seloko ini jelas Air Hitam merupakan tempat hidup Orang Rimba, sebagai Sungai utama. Sungai Air Hitam memiliki sejumlah anak sungai. Sebagai sungai utama, di pinggir Sungai Air Hitam merupakan tempat hidup masyarakat Melayu dengan Desa Jernih sebagai sentralnya.
Sedangkan Orang Rimba tinggal di anak-anak Sungai Air Hitam. Relasi Orang Rimba dengan masyarakat Melayu, digambarkan dalam sistem jenang.
Orang Rimba mengakui keberadaan jenang, dengan jenang yang terakhir adalah Jenang Bahar yang tinggal di Desa Jernih. Pun demikian masyarakat Melayu mengakui keberadaan Orang Rimba.
Keberadaan Orang Rimba di anak-anak Sungai Air Hitam ini, berada di Sungai Serentik.
Anak Sungai ini merupakan tempat hidupnya Orang Rimba kelompok Mendihang (almarhum,red) Tumenggung Sitenang.
Daerah ini kini masuk dalam areal HGU PT Jambi Agro Wiyana yang kini di kuasai oleh Sinar Mas Plantation.
Selanjutnya adalah Sungai Keruh. Wilayah Sungai Keruh ini meliputi Pematang Kabau. Di wilayah ini merupakan tempat hidup
Tumenggung Miring yang sejak menganut Islam menjadi H Helmi tinggal di Singosari Pematang Kabau.
Di sini juga terdapat Tumenggung Kecinto atau Afrizal dan kelompok Kelompok Bepayung. Wilayah Sungai Keruh ini saat ini menjadi areal konsesi PT SAL dan sebagian lainnya menjadi areal pemukiman transmigrasi Pematang Kabau.
Selanjutnya adalah Sungai Paku Aji. Tempat hidupnya Tumenggung Tarip, dan Betaring. Saat ini wilayah Paku Aji ini masuk dalam wilayah transmigrasi Pematang Kabau dan TSM Pematang Kabau.
Selanjutnya Air Panas, di wilayah ini, merupakan tempat hidup Orang Rimba kelompok Meti, Besiring, Ngelam. Wilayah mereka kini menjadi areal perkebunan inti PT SAL dan sebagian menjadi Pemukiman transmigrasi Desa Bukit Suban atau SP-I.
Selanjutnya adalah Sungai Punti Kayu, di wilayah ini hidup Orang Rimba kelompok Meriau, Ninjo, wilayah ini kini menjadi kebun plasma PT SAL dan Desa Bukit Suban atau SP-I.
Anak Sungai Air Hitam Berikutnya adalah Sungai Tengkuyungon, di wilayah ini tinggal Orang Rimba Mendihang Tumenggung Besimpan, orang tua dari mendihang Tumenggung Laman dan Cerinai.
Anak keturunan mereka adalah anggota kelompok Saidun sekarang ini. Wilayah ini juga sekarang menjadi areal Plasma dan inti PT SAL.
Wilayah tradisional Orang Rimba lainnya adalah Sungai Hulu Mendelang di Tabir Selatan. Berbeda sungai sebelumnya, Sungai Mendelang merupakan anak Sungai Tabir. Di wilayah ini Hidup Orang Rimba Kelompok Tumenggung Sikar.
Pabrik sawit PT SAL hari ini merupakan tempat hidup rombong Sikar bahkan tanah pusara nenek Sikar terletak di pabrik ini.
Sejak nenek moyangnya, Orang Rimba di Air Hitam dan Sungai Tabir memang sudah tinggal di situ. Dari terdapat 217 kepala keluarga dengan 898 jiwa yang tersebar yang tersebar di dalam perkebunan sawit PT SAL.
Kehidupan kelompok ini sekarang dalam keadaan sangat marginal, bahkan kelompok Meriau, Ninjo dan Saidun hidup dengan kondisi kelaparan dan sangat memprihatinkan.
Perjuangan untuk mendapatkan sumber penghidupan ketika tidak ada penyelesaian atas konflik yang terjadi dan kemarginalan yang mendera Orang Rimba telah menyebabkan puluhan kali konflik yang menempatkan Orang Rimba sebagai korban utama.
Baik berupa kehilangan nyawa, luka-luka hingga kehilangan harta benda. Menurut kajian Human Right Watch (HRW) ini menyebutkan kehilangan hutan merupakan kehilangan segalanya bagi suku Dayak Iban dan Orang Rimba.
Dalam kajian ini disebutkan telah terjadi pelanggaran hak-hak dasar Orang Rimba atas kehilangan hutan mereka. (*)