TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Penghentian sementara operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Palangka Raya tidak hanya berdampak pada penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga dirasakan oleh para pemasok bahan pangan.
Berdasarkan data terbaru per Senin (13/4/2026), dari total sekitar 28 SPPG yang tersebar di Palangka Raya, sebanyak 16 unit saat ini terhenti sementara.
Penghentian tersebut dilakukan menyusul pengetatan standar kebersihan, keamanan pangan, serta pengelolaan limbah oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca juga: Terobos Razia dan Kejar-kejaran, Kurir Sabu Asal Pontianal Ditangkap di Sukamara
Baca juga: Alasan Penutupan 16 SPPG di Palangka Raya, Wakil Wali Kota Sebut Penutupan Kewenangan BGN
Baca juga: Deforestasi Kalteng 2025 Melonjak, Direktur Walhi Soroti Dampak PSN dan Konsesi
Salah satu pemasok yang merasakan dampak tersebut adalah Muhammad Adiyat, yang memasok sayuran segar, khususnya selada, ke sejumlah SPPG di Palangka Raya.
Ia mengaku, sejak beberapa dapur MBG tidak beroperasi, permintaan dari SPPG mengalami penurunan, bahkan ada pesanan yang sudah dilakukan sebelumnya terpaksa dibatalkan.
“Permintaan jadi turun, bahkan ada yang sudah order atau booking malah tidak jadi. Biasanya tiap SPPG bisa minta dua sampai tiga kali dalam dua minggu,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).
Dalam kondisi normal, volume pengiriman ke SPPG terbilang cukup besar.
Dalam sekali distribusi, ia bisa mengirimkan sekitar 180 hingga 300 pcs selada, atau setara 45 sampai 60 kilogram.
Meski demikian, Adiyat menyebut kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap omzet usahanya secara keseluruhan.
Hal ini karena masih terdapat SPPG lain yang tetap beroperasi, serta permintaan dari pasar umum yang masih tinggi.
“Penjualan kami masih aman karena masih ada alternatif SPPG lain, dan kebutuhan pasar juga masih tinggi,” katanya.
Namun, ia mengakui bahwa harga jual ke SPPG cenderung lebih tinggi dibandingkan pasar umum.
Sehingga, penurunan permintaan dari SPPG tetap memengaruhi potensi pendapatan.
“Memang harga SPPG lebih bagus dibandingkan pasar secara umum,” tambahnya.
Ia pun berharap proses perbaikan yang tengah dilakukan di sejumlah SPPG dapat segera rampung, sehingga operasional kembali normal dan kerja sama dengan pemasok dapat berlanjut.
“Saya berharap SPPG bisa segera beroperasi lagi, supaya kita bisa berkolaborasi memberi manfaat, mendukung program pemerintah, dan juga petani,” pungkasnya.
Sementara itu, penghentian sementara SPPG dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan perbaikan, terutama pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) serta kelengkapan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
BGN memastikan, SPPG yang telah memenuhi seluruh standar operasional akan kembali diizinkan beroperasi setelah melalui proses verifikasi ulang.