TRIBUNBENGKULU.COM - Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi sorotan di media sosial.
Mereka menjadi sorotan setelah viral video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) dari HMT ITB.
Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT ITB sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa yang telah beridri sejak tahun 1970-an.
Dalam video yang beredar, mereka menyanyikan lagu berjudul Erika yang dibuat di tahun 1980-an.
Berikut liriknya:
Pengalaman tak terlupa, Waktu aku mahasiswa
kecantol di Surabaya, janda muda nama Erika
Erika buka celana, diam diam main gila
sambal bawa botol fanta, siapa mau boleh coba
ooohhhh... goyang Erika luar biasa.....
ooohhhh... lebar pinggulnya hamper sedepa.....
bila disenggolanya celana pasti terbuka
walau sudah janda sempitnya masih terasa
pagi-pagi Erika mandi, lenggak-lenggok di pinggir kali
kagetku setengah mati, lihat barang kayak serabi
ooohhhh... goyang Erika luar biasa.....
ooohhhh... lebar pinggulnya hamper sedepa.....
bila disenggolanya celana pasti terbuka
walau sudah janda sempitnya masih terasa
ooohhhh... goyang Erika luar biasa.....
ooohhhh... lebar pinggulnya hamper sedepa.....
bila disenggolanya celana pasti terbuka
walau sudah janda sempitnya masih terasa
ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kesempitan
ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kesempitan
Banyak yang menyayangkan lirik lagu yang seolah mengandung muatan seksual.
Terlebih mereka menyanyikannya di lingkup pendidikan.
Terkait viralnya lagu tersebut, HMT ITB buka suara.
Melalui siaran pers di website resmi ITB, HMT minta maaf atas beredarnya lagu Erika yang menimbulkan kegaduhan.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," dikutip dari website resmi ITB.
"Kami menyadari bahwa ini merupakan suatu kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini," katanya.
HMT ITB juga mengakui bahwa lagu tersebut tidak mencerminkan nilai akademik.