SURYA.co.id – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencabut blokade Selat Hormuz menjadi sorotan.
Tapi berkat hal itu, ketegangan mereda, harga energi stabil, dan kekhawatiran krisis minyak dunia seketika menurun.
Namun di balik narasi perdamaian tersebut, muncul tanda tanya besar, apakah ini benar-benar langkah tanpa syarat?
Trump mengklaim ada kesepakatan penting dengan China.
"China sangat senang karena saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga — Dan Dunia." dikutip SURYA.co.id dari tulisan Trump di platform Truth Social.
Pernyataan ini memicu spekulasi luas.
Mengapa Washington yang selama ini keras terhadap Teheran tiba-tiba melunak setelah bernegosiasi dengan Beijing?
Apakah ini bagian dari pertukaran kepentingan strategis yang lebih besar?
Secara geopolitik, kecil kemungkinan langkah sebesar ini terjadi tanpa “imbal balik”.
Bagi Amerika Serikat, pembukaan Selat Hormuz berarti:
Namun, bagaimana dengan Iran?
Meski tampak ditekan lewat komitmen China, Teheran justru berpotensi mendapat “ruang napas”:
Baca juga: Sia-sia Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz? Ini Cara Cerdik Iran Bikin Armada Perang AS Kecele
Trump sendiri memberi sinyal bahwa diplomasi ini adalah alternatif dari konflik terbuka.
"Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita harus berkelahi?"
Dengan kata lain, ini bisa jadi bukan kemenangan sepihak, melainkan kompromi yang tidak sepenuhnya terlihat di permukaan.
Sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa stabilitas sering kali bersifat sementara.
Pencabutan blokade ini bisa jadi hanyalah “jeda strategis” bagi semua pihak:
Namun risiko tetap besar. Jika salah satu pihak melanggar kesepakatan, eskalasi bisa terjadi lebih cepat dari sebelumnya.
Selain itu, aktor lain seperti Rusia juga berpotensi memainkan peran dalam dinamika ini, baik sebagai penyeimbang maupun pihak yang diuntungkan dari ketegangan.
Trump sendiri tidak menutup kemungkinan konflik di masa depan:
" Tetapi ingat, kami sangat ahli dalam bertarung, jika kami harus melakukannya, jauh lebih baik daripada siapa pun!"
Timing keputusan ini bukan kebetulan.
Beberapa faktor yang kemungkinan mendorong langkah Trump:
Trump bahkan mengisyaratkan hubungan personal yang hangat dengan Presiden China Xi Jinping.
“Mereka telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Presiden Xi (Xi Jinping, red) akan memberi saya pelukan yang besar dan erat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu. Kami bekerja sama dengan cerdas, dan sangat baik!”
Kunjungan Trump ke Beijing pada 14–15 Mei 2026 diperkirakan akan menjadi panggung utama penguatan kesepakatan ini.
Berikut pernyataan lengkap yang disampaikan melalui platform Truth Social:
“China sangat senang karena saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga, dan dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi. Mereka telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Presiden Xi (Xi Jinping, red) akan memberi saya pelukan yang besar dan erat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu. Kami bekerja sama dengan cerdas, dan sangat baik! Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita harus berkelahi?? Tetapi ingat, kami sangat ahli dalam bertarung, jika kami harus melakukannya, jauh lebih baik daripada siapa pun!”
Pencabutan blokade Selat Hormuz bukanlah akhir dari rivalitas panjang antara Washington dan Teheran.
Ini lebih tepat disebut sebagai langkah taktis dalam permainan geopolitik yang jauh lebih besar.
Kesepakatan antara AS dan China membuka babak baru, di mana konflik tidak lagi selalu ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh negosiasi kepentingan global.
Langkah selanjutnya patut dicermati, terutama saat Trump mengunjungi Beijing.
Dalam diplomasi tingkat tinggi, sering kali yang paling menentukan justru bukan apa yang diucapkan, melainkan apa yang tidak pernah diumumkan ke publik.