TRIBUN-MEDAN.com - Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz berjalan efektif dalam 24 jam pertama.
Operasi ini melumpuhkan pelabuhan Iran, meski jalur pelayaran internasional di selat tersebut tetap terbuka.
Merespons hal tersebut, militer Iran mengeluarkan peringatan akan memblokade perdagangan melalui Laut Merah, bersama dengan Teluk Persia dan Laut Oman, jika blokade Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz berlanjut.
"Angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah," kata kepala pusat komando militer Iran Ali Abdollahi dilansir AFP, Rabu (15/4/2026).
Dia menegaskan, jika AS melanjutkan blokade dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran, itu akan menjadi gerbang melanggar gencatan senjata.
Teheran sendiri menginginkan terjadinya dialog perdamaian yang imbang, dengan tidak memberikan tuntutan syarat yang tidak masuk akal.
Baca juga: Pemerintah Buka 30 Ribu Formasi Manajer Koperasi Merah Putih, Ini Syarat dan Alur Pendaftaran
Baca juga: Pengadilan Negeri Surakarta Resmi Tolak Gugatan CLS Terkait Ijazah Joko Widodo
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran internasional setelah serangan gabungan yang dilakukan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Washington dan Teheran kemudian melakukan gencatan senjata selama dua minggu dan mengadakan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026.
Sayangnya, perundingan AS dan Iran menemui jalan buntu karena Teheran menolak membuka Selat Hormuz dan menghentikan program uranium.
Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militernya untuk memblokade selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).
Hal itu dilakukan untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.
Blokade tersebut berlaku untuk kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Militer AS menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz berjalan efektif dalam 24 jam pertama, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.
Operasi ini membatasi akses kapal keluar-masuk pelabuhan Iran, meski jalur pelayaran internasional di selat tersebut tetap terbuka.
Situasi ini memunculkan sinyal bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran yang sempat gagal di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) berpotensi kembali dibuka.
Blokade tidak menghentikan lalu lintas kapal di selat, tetapi dirancang untuk mencegah kapal memasuki atau keluar dari pelabuhan dan garis pantai Iran.
Secara keseluruhan, lebih dari 10.000 personel militer AS, termasuk pelaut, marinir, dan awak udara, terlibat dalam operasi tersebut, didukung lebih dari selusin kapal perang dan pesawat.
Kapal-kapal yang dikerahkan antara lain kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal serbu amfibi USS Tripoli, serta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali.
Meski blokade diberlakukan, kapal komersial masih melintasi Selat Hormuz.
Lebih dari 20 kapal, termasuk kapal kargo, kontainer, dan tanker, tercatat melintas pada hari Selasa, menurut dua pejabat AS.
Namun, volume tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik terjadi.
Meski begitu, peningkatan arus kapal ini dinilai sebagai perkembangan positif di salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia.
Sebuah kapal tanker China yang berada di bawah sanksi AS bahkan dilaporkan berbalik arah setelah mencoba keluar melalui selat tersebut, menunjukkan dampak langsung dari pengawasan ketat yang diterapkan. (*)