TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Banyak yang mendesak saya agar menuliskan perjalanan hidup. Desakan itu berbuah motivasi. Sejak 2008 goresan pena mengalir mengingat lagi perjuangan anak desa Pujud itu.
Jadilah buku setebal 431 halaman. Didalamnya terangkai Saleh Djasit semasa kecil hingga menjadi sosok suami, bapak dan kakek bagi anak cucu.
Dedikasi Saleh Djasit bagi Provinsi Riau jelas pada berdirinya tonggak visi Riau 2020.
Baca juga: Kisah Hidup Anak Pujud, Buku Autografi Brigjen TNI Purn Saleh Djasit, Ditulis Sejak 2008
Inilah Kisah Hidup Anak Pujud. Sebuah buku autografi Brigjen TNI (purn) H Saleh Djasit SH.
Buku yang diluncurkan Senin (15/4/2026) di Pekanbaru ini didedikasikan bagi keluarga, masyarakat Riau.
Buku yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang Saleh Djasit yang pernah memangku jabatan Gubernur Riau periode 1998 hingga 2003.
Namun, setiap rangkaian cerita itu menjadi sebuah rangkuman bagaimana Provisi Riah yang kini terus kokoh dengan budaya Melayu yang kental.
Saleh Djasit berharap buku yang merupakan perjalanan hidupnya itu akan menjadi bagian dari perkembangan Riau dan pembelajaran serta motivasi bagi masyarakat Riau.
"Buku ini sudah ditulis sejak tahun 2008 dan baru selesai tahun 2026 ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi semua," ungkap Saleh Djasit pada pengantarnya.
Dikatakannya, perjalanan dirinya dari desa terpencil pernah dengan dengan kerja keras.
Sampai kemudian menurutnya tuhan membukakan jalan hingga ia bisa meraih apa yang jadi harapanya.
Ini suatu sukses yang menandai anak desa. Mudah-mudahan berguna bagi anak cucu dan masyarakat dengan apa yang sudah saya lakukan," ujarnya.
Peluncuran buku Perjalanan Hidup Anak Pujud yang dilaksanakan di gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Jalan Diponegoro, Pekanbaru tersebut mendapat antusias dari sejumlah tokoh masyarakat, tokoh adat dan Gubenur Riau pada masanya.
HR Mambang Mit yang pernah menjabat Plt Gubenur Riau 2013, Andi Rahman yang menjabat 2016, Syamsuar yang menjabat 2019.
Buku Perjalanan Hidup Anak Pujud yang ditulis Saleh Djasit terdiri dari 13 Bab. Pada masing-masing bab menceritakan perjalannya.
Dari Kampung Halaman Hingga jadi Bupati
Saleh Djasit memberikan bagaimana perjalanan dirinya semasa kecil.
Dari kampung halamannya di Pujud. Itu adalah desa terpencil di Kabupaten Bengkalis.
Saleh Djasit merupakan anak dari Opah (ibu) dan Djasit (ayah). Dididik di kampungnya itu hingga usia 13 tahun.
"Masa kecil saya bekerja keras. Berladang dan menanam karet," ungkapnya.
Saat masa kecil itu pula Saleh Djasit kemudian menimba ilmu lewat sekolah.
Dalam bukunya, Saleh Djasit menceritakan. 3 tahun bersekolah di Pujud tanpa rapor.
Setelah ia dianggap sudah tamat di situ, maka, banyaklah tokoh-tokoh di Pujud yang menyarankan kepada ayah agar ia melanjutkan sekolah.
"Yang paling gigih mendesak ayah, supaya saya melanjutkan sekolah adalah kedua guru tersebut, lalu Pakih Wahab yang merupakan seorang cendekiawan atau ulama, dan jug abang Bahasan. Mereka membujuk ayah supaya saya diantar ke Sedinginan untuk melanjutkan sekolah di sana," beber Saleh.
Perjalan pendidikannya membawanya hingga ke Padang, Sumatera Barat.
Saleh Djasit bahkan menyelesaikan sekolah SMA nya di Kota Bengkoang tersebut.
Setelah dari Padang, Saleh Djasit merantau ke Jawa. Tujuannya hanya satu.
Ia ingin melanjutkan pendidikan di tanah Jawa.
"Meski saya harus mandiri. Karena orangtua hanya memberikan bekal ongkos saja," ujarnya.
Saleh muda kemudian memilih Bandung sebagai tempat ia melanjutkan sekolah. Hingga kemudian usahanya menempatkannya di Universitas Nahdatul Ulama (UNNU).
Namun, perjalanan kuliahnya tak berjalan sesuai harapan.
Saleh kemudian memilih jalan menjadi seorang prajurit TNI.
"Berbekal ijazah SMA, saya mendatangi Kantor Ajudan Jenderal Kodam (Ajendam) Siliwangi yang kala itu beralamat di Jalan Riau, Kota Bandung. Sesampainya di sana, ternyata sudah banyak pula pelamar lain yang berkumpul," tulis Saleh Djasit.
Karirnya di TNI terbilang mulus. Sampai kemudian usia membawanya berkenalan dengan seorang wanita bernama Magdalena.
Dalam bukunya Saleh Djasit mengatakan, istrinya Mardalena, orangnya sederhana.
Pendidikannya tidak tinggi, hanya mengenyam bangku Sekolah Kepandaian Puteri di Pekanbaru.
Namun, ketulusan dan ketekunannya ti-ada banding. Seperti perahu yang setia mengikuti arah haluan nahkodanya, ia selalu rajin menemani dan mendukung aktivitas saya.
Selama saya bertugas di militer, di mana pun saya berkan-tor, di situlah ia selalu aktif berorganisasi.
Ia menjadi pengurus yang gigih di Persit Kartika Chandra Kirana.
"Kami dikaruniai tiga orang anak, sebetulnya empat. Satu orang meninggal saat masih bayi ketika saya bertugas di Jambi. Ketiga anak kami adalah: Sri Dewi Salmasari, Yuliawati, dan Ahmi Septari," tulis Saleh.
Karir militernya yang terus menanjak membawanya pada pengalaman baru. Ketikan kepercayaan untuk menjabat sebagai bupati di Kabupaten Kampar.
Pada 3 April 1986, Saleh Djasit dilantik menjadi Bupati Kampar oleh Gubernur Riau, bertempat di Pendopo Bupati Kampar.
Pelanti-kan tidak dilangsungkan di Gedung DPRD Kampar seperti lazimnya karena gedung tersebut amat sederhana dan dikhawatir-kan tidak sanggup menampung undangan yang besar.
Gubernur Riau yang bangun Pondasi Kuat
Karir politik Saleh Djasit terus baik hingga tahun 1998 tepatnya di bulan Oktober ia dipilih menjadi Gubernur Riau. Saat itu, dimulailah perjuangan panjangnya.
Sosok Saleh Djasit selama menjabat Gubernur Riau, mendapat apresiasi karena dedikasi yang tulus.
Pelaksana Tugas Gubernur Riauz SF Hariyanto melalui Sekdaprov Syahrial Abdi mengatakan sosok Saleh Djasit tidak hanya seorang pemimpin.
Namun lebih jauh adalah seorang leader yang mengayomi.
Kepemimpinan Saleh Djasit pada masanya penuh dengan kerja keras dan ujian.
Pasalnya, saat itu tahun 1998 Indonesia digoncang oleh kondisi yang butuh perubahan.
Saat itu pula Saleh Djasit menujukkan kemampuannya sebagai seorang pemimpin.
"Sosok Saleh Djasit membangun tonggak yang kuat bagi Provisi Riau. Termasuk membangun pondasi kebudayaan Melayu di Bumi Lancang Kunin lewat visi Riau 2020," ungkap Syahrial.
Ditambahkan Syahrial, tiga hal yang bisa dilihat dari sosok Saleh Djasit yakni ketegasan memimpin, kemampuan membangun serta konsisten dalam pengabdian.
Hal yang sama juga dinilai oleh sejumlah tokoh masyarakat Riau. Almarhum Dr. drh. H. Chaidir, MM pernah mengatakan jika menyebut nama Saleh Djasit, pasti yang terbayang adalah seorang pemimpin yang humble, rendah hati.
Brand image seorang pemimpin yang rendah hati melekat kuat pada ketokohan Gubernur Riau 1998-2003 ini, tanpa dibuat-buat dan tanpa dibentuk.
Tanpa ada yang mematri, kerendahan hati itu sudah terpatri dalam setiap tarikan napas Saleh Djasit.
Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf, Ketua Umum MKA LAM Riau menikaib pasti Saleh Djasit seorang figur peletak tiang pancang di Bumi Lancang Kuning.
"Kita tentu mendoakan beliau semoga sehat wal afiat. In sya Allah masih bersama-sama kita untuk memberikan kontribusi untuk Bumi Lancang Kuning ini," ungkapnya.
Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M.Sc yang merupakan Rektor Universitas Riau (1997-2006), mengatakan sejak awal, Provinsi Riau -termasuk Kepulauan Riau saat itu- digagas dan diinisiasi oleh gerakan kaum intelektual, yang dipelopori oleh Raja Ali Haji.
Pesan ini pula yang sejak awal saya sampaikan pada Saleh Djasit. Bahwa Riau didirikan dan diinisiasi oleh kaum intelektual, dan karenanya, pembangu-nan harus terus dikembangkan oleh mereka.
Jangan pernah terlepas dari peran kaum intelektual dan sosok Saleh Djasit mampu melakukan apa yang jadi harapan.
Tanggapan positif dari sejumlah tokoh masyarakat dan dunia pendidikan tersebut jelas menggambarkan bagaimana sosok Saleh Djasit membawa amanah ke jalan yang baik.
"Tidak banyak anak Melayu yang memiliki pengalaman seperti yang saya alami. Pengalaman manis sekaligus pahitnya kehidupan. Oleh karena itu banyak teman dan keluarga yang mendesak agar saya menuliskan pengalaman ini. Saya pun mencoba mulai menulis sejak tahun 2008 secara berangsur-angsur hingga akhirnya terbitlah buku ini," ujar Saleh Djasit.
"Dulu, saya sudah meletakkan dasar-dasar pembangu-nan dengan Visi Riau 2020. Waktunya sudah berjalan dan melampaui masanya saat ini.
Memang kemudian ada visi setiap lima tahun yang disebut rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
Namun, kita menginginkan sebuah visi yang lebih jauh ke depan, yang kita lihat 20 tahun ke depan, yakni tahun 2045.
Seperti pepatah, 'Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa', maka kita harus merancang masa depan Riau yang jauh lebih maju," pungkas Saleh Djasit.
( Tribun Pekanbaru / Budi Rahmat )