WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo menekankan pentingnya memperkuat peran organisasi sebagai kekuatan sosial di tengah dinamika bangsa. Hal itu diungkapkannya saat ratusan anggota FKPPI berkumpul dalam momen halalbihalal, di Griya Ardhya Garini, Halim, Jakarta Timur Rabu (15/4/2026).
Pontjo menyebut silaturahmi bukan hanya soal menjaga hubungan, tetapi juga menyatukan cara pandang menghadapi persoalan bangsa. Menurutnya, momentum seperti ini harus dimanfaatkan untuk menyusun langkah bersama ke depan.
"Intinya adalah mempererat silaturahmi. Tapi silaturahmi juga kita gunakan untuk membangun kesamaan pandangan. Apa masalah kita, bagaimana kita ke depan," kata Pontjo di lokasi.
Ia mengingatkan bahwa esensi kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada bebas dari penjajahan fisik. Masih ada tantangan lain yang lebih halus namun berbahaya, yakni penjajahan mental.
"Tanpa pembebasan mental, maka rakyat Indonesia tidak akan pernah merdeka. Dia akan menjadi terjajah dalam bentuk penjajahan yang baru," ujarnya.
Perjuangan Sosial Jadi Kunci
Pontjo menilai perjuangan saat ini tidak lagi mengandalkan kekuatan senjata seperti masa lalu. Justru, kekuatan sosial menjadi alat utama untuk melawan berbagai bentuk penjajahan modern.
"Bentuk penjajahan hari ini justru memerlukan kekuatan sosial untuk melawan, tidak dalam bentuk senjata tetapi dalam bentuk perjuangan sosial," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa FKPPI tidak akan berubah menjadi partai politik. Organisasi ini, kata dia, tetap berada di jalur sebagai kekuatan masyarakat.
"FKPPI bukan partai dalam konteks undang-undang, tapi FKPPI adalah kekuatan masyarakat," tegasnya.
Menurut Pontjo, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari gerakan masyarakat. Bukan semata dari kekuatan politik formal.
Soroti Peran Cendekiawan dan Media
Dalam kesempatan itu, Pontjo juga menyinggung pentingnya peran kalangan akademisi dalam pembangunan bangsa. Ia meminta agar pandangan kritis tidak disalahartikan sebagai ancaman.
"Pendapat itu tidak boleh diartikan lain. Tidak ada makar itu," katanya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak semua pihak, termasuk media, untuk menghidupkan kembali semangat kemerdekaan yang lebih substantif. Bukan sekadar tampilan luar atau pencitraan.
"Tidak ada bangsa bisa maju dengan pencitraan. Harus dengan pemikiran yang jernih dan moral yang kuat," pungkasnya.