AS Kerahkan Lebih dari 10.000 Tentara untuk Blokade Pelabuhan Iran, Klaim Tak Ada Kapal yang Lolos
Eri Ariyanto April 16, 2026 01:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan lebih dari 10.000 personel militer dalam operasi besar di kawasan Timur Tengah.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan blokade terhadap seluruh pelabuhan milik Iran yang mulai diberlakukan baru-baru ini.

Operasi militer tersebut melibatkan gabungan pasukan Angkatan Laut, Marinir, serta dukungan udara dengan puluhan pesawat tempur.

Tujuannya adalah untuk menghentikan seluruh lalu lintas kapal yang keluar maupun masuk dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam 24 jam pertama pelaksanaan, pihak AS mengklaim tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus blokade tersebut.

Bahkan sejumlah kapal dagang dilaporkan terpaksa diputar balik setelah mendapat peringatan dari pasukan Amerika Serikat di perairan Teluk.

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz pun meningkat tajam seiring dampak ekonomi global yang mulai terasa akibat kebijakan ini.

Situasi ini memicu perhatian dunia internasional karena berpotensi memperluas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Donald Trump: Sebut Perang di Iran Nyaris Selesai, Sinyal Damai Mulai Menguat

Seperti diketahui, Militer Amerika Serikat (AS) menerjunkan lebih dari 10.000 personel tentara untuk ambil bagian dari blokade pelabuhan Iran.

Komando Pusat AS (Centcom) menerangkan puluhan ribu personel tersebut terdiri dari anggota Angkatan Laut, Marinir, dan Angkatan Udara.

Sebagai informasi, AS melakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim terhadap kapal yang memasuki dan meninggalkan pelabuhan Iran sejak Senin (13/4/2026).

Centcom juga menyatakan bahwa mereka mengirim kapal perang dan pesawat terbang dalam misi blokade pelabuhan Iran.

“Lebih dari 10.000 anggota Angkatan Laut, Marinir, dan Angkatan Udara AS, bersama dengan lebih dari belasan kapal perang dan puluhan pesawat terbang, sedang melaksanakan misi untuk memblokade kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran,” bunyi pernyataan Centcom dikutip dari The Times of Israel, Selasa (14/4/2026).

PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons)

AS klaim tidak ada kapal yang berhasil lewat blokade

Lebih jauh, Centcom mengeklaim bahwa tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dalam 24 jam pertama.

“Selama 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS, dan enam kapal dagang mematuhi perintah pasukan AS untuk berbalik arah dan kembali masuk ke pelabuhan Iran di Teluk Oman,” terang Centcom dilansir dari Al Arabiya, Selasa (14/4/2026).

Centcom menyatakan, blokade itu diterapkan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Blokade tersebut termasuk semua pelabuhan Iran yang berlokasi di Teluk Arab dan Teluk Oman.

“Pasukan AS mendukung kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan non-Iran,” kata Centcom.

Terlepas dari pernyataan Centcom, informasi pelacakan dari penyedia data maritim menunjukkan adanya beberapa kapal yang berkaitan dengan Iran berhasil melintasi Selat Hormuz.

China gambarkan blokade AS berbahaya dan tidak bertanggung jawab

China menggambarkan blokade AS terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab”.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan, tindakan Washington akan merusak gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Hal tersebut akan semakin mengancam keselamatan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun mengatakan, hanya gencatan senjata penuh yang dapat membantu meredakan situasi.

Ia menambahkan bahwa Beijing akan berupaya membantu memulihkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

Jiakun juga menepis laporan tentang China yang memasok senjata ke Iran. Ia menggambarkan laporan itu “sepenuhnya rekayasa”.

“China meyakini bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata menyeluruh dan mengakhiri perang, kita dapat secara mendasar menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk meredakan ketegangan di Selat tersebut,” terang dikutip dari CNBC, Selasa (15/4/2026).

“China mendesak semua pihak untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata, berfokus pada arah umum dialog dan perundingan damai, mengambil langkah-langkah konkret untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut, serta memulihkan lalu lintas normal di selat tersebut sesegera mungkin,” sambungnya.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.