Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Sebanyak 70 Wisatawan Mancanegara (Wisman) asal Asia dan Eropa melakukan kunjungan wisata ke Kampung Yobeh, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura pada Rabu (15/4/2026). Kedatangan para turis yang berlayar menggunakan kapal pesiar Swan Hellenic Cruises ini disambut dengan atraksi budaya dan kearifan lokal masyarakat Danau Sentani.
Para wisatawan disambut dengan Tari Perang dan Tari Tifa yang dibawakan oleh Sanggar Hinabhu. Selain tarian, masyarakat setempat juga mendemonstrasikan aktivitas harian seperti memangkur sagu, memahat perahu, anak-anak menyelam sambil menangkap ikan, serta cara perempuan menjaring ikan.
Wisatawan juga disuguhkan pemandangan Danau Sentani dengan mengelilingi Kampung Yobeh, Hobong, dan Ifale menggunakan perahu motor. Tidak hanya itu, masyarakat juga menjajakan kerajinan tangan dan olahan makanan lokal seperti ulat sagu.
Baca juga: Berbagi Kebaikan untuk Sesama, Bank Mandiri Gelar Donor Darah Massal di Jayapura Papua
Ketua DPD Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) Simson Nicky Mehuwe mengatakan wisatawan tiba di Pelabuhan Jayapura menggunakan Kapal Pesiar Swan Hellenic Cruises pagi tadi. Tur ini diawali dengan mendatangi Museum Universitas Cendrawasih (Uncen) di Kota Jayapura dan Kampung Yobeh di Kabupaten Jayapura.
Para turis berasal dari Cina, Filipina, Singapura, Australia, dan Amerika. Setelah datang ke Jayapura, mereka akan bertolak menuju Nabire untuk melihat hiu paus.
"Mereka menikmati tarian adat, Isosolo, mengelilingi Kampung Hobong , Ifale. Kita bersyukur cuaca sangat mendukung, sehingga mereka menikmati semuanya," ujarnya.
Nicky menjelaskan, usai dari Nabire, para turis akan menuju Sorong kemudian bergantian dengan turis yang sedang menunggu. Lalu memulai lagi tur dari ke Halmahera, Sulawesi Utara, berakhir di Manila lalu kembali ke Papua.
Baca juga: Sepak Bola Papua di Ambang Senjakala: PSBS Biak Terancam Degradasi, Persipura Terpeleset
"Rutenya biasanya demikian. Mereka masuk pakai visa turis. Kita hanya menangani tur wisatawan. Nanti dari Port Agent untuk izin masuk dan keluar kapal. Kami yang nanti berkoordinasi dengan pemerintah dan masyarakat yang menjadi destinasi wisata," katanya.
Nicky menyampaikan, lewat kedatangan wisatawan, ia berharap pemerintah daerah dapat terus melengkapi infrastruktur sedangkan tugas masyarakat adat yakni menjaga alam dan budaya tetap lestari.
"Wisatawan bisa masuk tujuannya masyarakat lokal menerima manfaat karena setiap kunjungan baik atraksi, tarian, kita sudah nego dengan masyarakat berapa yang akan diterima masyarakat seperti di Kampung Yobeh," ujar Nicky.
Salah satu wisatawan dari Texas, Amerika Serikat, Tom, mengungkap kekagumannya terhadap Kampung Yobeh. Menurut Tom, tradisi masyarakat unik dan masih dipertahankan hingga saat ini. Ia menyukai penampilan tarian maupun saat menaiki perahu motor untuk melihat pemukiman warga yang sedang terendam air.
Baca juga: Siapkan SDM Unggul, Pemprov Papua Tengah Sosialisasikan Sekolah Kedinasan di Puncak Jaya
"Saya suka desanya, tradisi masyarakat juga bagus. Saya sangat suka tarian dan perjalanan menggunakan perahu dengan melihat kampung di sekitar dan rumah-rumah mereka. Danaunya juga sangat indah," ungkapnya.
Tom bersama istrinya membeli sebuah tusuk konde berwarna ungu-hitam dan sebuah bandana terbuat dari kulit kerang. Ia mengaku tidak memiliki cukup uang karena tiba pagi tadi di Pelabuhan Jayapura langsung mengunjungi Museum Uncen lalu ke Kampung Yobeh.
"Kita hanya sehari lalu pergi ke lokasi wisata lain ke Pulau Salomon. Saya beli tusuk konde dan istri saya beli bando rambut. Kita tidak bawa uang lebih untuk ditukar karena baru tiba pagi ini," katanya.
Baca juga: Tipu Dua Perusahaan Asal Papua, Pengusaha Surabaya Vera Mumek Terancam Pasal Berlapis
Sementara itu Ketua Sanggar Hinabhu, David Felle mengaku bangga dengan kunjungan wisatawan mancanegara. Sanggar Hinabhu menampilkan Tarian Perang dan Tarian Tifa untuk menyambut para wisatawan.
David Felle menjelaskan, tarian itu merupakan tarian turun temurun yang hanya ditampilkan saat penobatan Ondoafi (tetua adat), kedukaan tetapi dengan adanya perkembangan zaman tarian itu bisa dilakukan saat menyambut tamu.
"Kami sudah siapkan semua, tarian ini juga sudah dipublikasikan meskipun dahulu dilarang karena bisa didenda tetapi karena kemajuan perkembangan sehingga bisa ditampilkan kepada khalayak umum," ujar David Felle.
Baca juga: 364 Keluarga di Sarmi Selatan Dapat Jatah Bantuan Pangan Nasional
David Felle berharap dengan kedatangan wisatwan dapat menyadarkan anak-anak muda untuk terus menjaga maupun melestarikan budaya, termasuk bahasa ibu.
"Bahasa ibu saja mereka sudah tidak mengerti. Anak-anak sekarang bicara pakai bahasa Indonesia. Wisatwan yang datang ini kita lihat ke depan anak-anak harus jaga budaya," katanya.
Ditambahkan David, kedatangan wisatawan juga menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat. (*)